IMG-LOGO
Daerah

Habib Hasan: Membenahi Akhlak Umat Harus Didahului Diri Sendiri

Jumat 23 Agustus 2019 10:30 WIB
Bagikan:
Habib Hasan: Membenahi Akhlak Umat Harus Didahului Diri Sendiri
Habib Hasan bin Ismail al-Muhdhor saat menerima kenang-kenanganan buku dari KH Muhyiddin Abdusshomad. (Aryudi/NU Online)
Jember, NU Online 
Untuk mencapai kehidupan yang  lebih baik, umat ini butuh perubahan, terutama dari sisi akhlak. Sebab jika tidak ada perubahan, akhlak akan semakin terdegradasi. Jika itu terjadi maka sesungguhnya bangsa ini berada di tepi jurang kehancuran.
 
Hal tersebut diungkapkan oleh Habib Hasan bin Ismail al-Muhdhor saat memberikan sambutan dalam Pengajian Majelis Al-Muwashalah di masjid Baitunnur Kompleks  Pesantren Nuris Antirogo, Kecamatan Sumbersari Jember Jawa Timur, Kamis (22/8).
 
Menurut habib asal Probolinggo itu, tanggung jawab untuk membenahi akhlak berada di tangan para pemimpin formal maupun non-formal dan para tokoh masyarakat. Mereka berkewajiban untuk memelopori pembenahan akhlak di tengah–tengah masyarakat.
 
“Untuk itu, kita harus punya akhlak dulu, harus berakhlak dulu sebelum membenahi akhlak masyarakat,” tuturnya.
 
Habib Hasan mengibaratkan akhlak yang dimiliki pemimpin sebagai modal untuk ditanam. Sebab bagaimana mau menanam akhlak kalau si pemimpin tidak punya barang yang mau ditanam (akhlak). Sama halnya dengan orang mau beli baju, maka modalnya adalah  uang. Ia lalu menyitir firman Allah yang berbunyi Innallaaha la yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiru ma bianfusihim. (Sesungguhnya  Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka berusaha mengubah apa yang ada dalam mereka sendiri).
 
“Jadi modal untuk mengubah nasib adalah berusaha agar bagaimana nasib itu berubah,”  ulasnya.
 
Di tempat yang sama, Habib Nizar bin Husni Alayidrus menegaskan bahwa Pengajian Majelis Al-Muwashalah bukan bermaksud untuk menggurui, tapi hanya ingin menyambung dan menguatkan  ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) agar ajaran Nabi Muhammad selalu tertanam di hati masyarakat.

“Kita duduk bareng di tempat ini untuk sama-sama belajar, ya belajar ilmu untuk memperbaiki diri dan umat. Nah untuk semua perbaikan itu, harus didahului dengan memperbaiki nafsu dulu” jelasnya.
 
Sementara itu, Syaikhul Ma’had Nuris Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad menegaskan pihaknya merasa beruntung ditempati pengajian majelis yang dikelola oleh habaib, yang notabene merupakan keturunan Nabi Muhammad saw.
 
“Mereka adalah orang-orang yang shaleh. Kalau dibandingkan dengan kita, jauh. Tapi mudah-mudahan keshalehan mereka mengalir kepada kita sehingga kita juga menjadi orang yang shaleh, bermanfaat untuk mengembangkan Aswaja ke depan,” pungkasnya.
 
Pewarta: Aryudi AR  
Editor: Muchlishon
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 23 Agustus 2019 20:0 WIB
Sejumlah Pesantren di Surabaya Lakukan Kerja Sama dengan Puskesmas 
Sejumlah Pesantren di Surabaya Lakukan Kerja Sama dengan Puskesmas 
Peserta lokakarya yang melibatkan pesantren dan Puskesmas di Surabaya. (Foto: Hisam Malik/NU Online)
Surabaya, NU Online
Lembaga Kesehatan (LK) Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Direktorat Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes Republik lndonesia (Rl) menyelenggarakan kegiatan lokakarya pesantren sehat. Kegiatan berlangsung di Surabaya.
 
Shofiyanah Ghufron, Pengurus LK PBNU sekaligus penanggung jawab acara berharap setelah pulang dari kegiatan masing masing pesentren menjadikan komintmen yang sudah disepakati bersama. Yakni dengan menjadikan langkah pertama bagi keberadaan pesantren sehat.
 
“Dengan komitmen yang telah kita sepakati bersama, semoga menjadi langkah awal untuk membiasakan pesantren sehat serta bisa menularkan kepada pesantren yang ada di Surabaya,” katanya, Jumat (23/8).
 
Dijelaskan, apa yang dilakukan adalah bagian kecil dari langkah besar. “Pesantren yang sudah berkomitmen meskipun nanti belum dipantau, tetap berjalan demi terlaksananya membiasakan kebiasaan pesantren sehat,” ungkapnya.
 
Menurutnya, tujuan kegiatan agar pesantren semakin sehat, nyaman dan bersih karena dihuni santri. “Sehingga bisa menghasilkan santri berprestasi dan menjadikan lndonesia lebih kuat,” jelasnya.
 
Pada kesempatan tersebut dirinya juga menitipkan salam kepada para pengasuh pondok agar kegiatan pesantren sehat bisa terlaksana dengan baik sesuai harapan.
Sebagaimana diketahui, peserta lokakarya merupakan perwakilan pesantren dari lima keluarahan yang ada di Surabaya. Mereka juga merupakan perwakilan Puskesmas dan kelurahan yang ada.
 
Muh Nur Akhsin Ridho dari Direktorat Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes menjelaskan pesantren sehat merupakan amanah dari presiden.
 
“Agar tidak hanya di kalangan masyarakat semata yang memilik tanggung jawab sadar akan kebiasaan hidup sehat, melainkan dari unsur lain seperti pesantren juga sadar akan tanggung jawab itu,” katanya.
 
Pesantren sehat merupakan sebuah kemandirian. “Salah satunya dengan membiasakan dan menerapkan pola hidup sehat,” paparnya.
 
Ridho berharap program lokakarya menjadi mediator atau sebuah wadah pertemuan antara pihak pesantren dengan Puskesmas.
 
“Yang mana pada nantinya Puskesmas lah yang akan menjadi pembina dari program-program kesehatan yang ada di pesantren setempat,” jelasnya.
 
Lokakarya bertema Peningkatan Peran Aktif Santri dan Pengelola Pesantren. Kegiatan berlangsung selama tiga hari sejak Senin hingga Rabu (19-21/8).  
 
 
Pewarta: Hisam Malik
Editor: Ibnu Nawawi
Jumat 23 Agustus 2019 19:30 WIB
Muslimat NU DKI Harap Tindakan Rasis Tidak Terulang 
Muslimat NU DKI Harap Tindakan Rasis Tidak Terulang 
Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta Hj Hizbiyah Rochim (kanan). (Foto: NU Online)
Jakarta, NU Online
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat Nadlatul Ulama DKI Jakarta Hj Hizbiyah Rochim menyesalkan atas terjadinya aksi rasis yang dilakukan sejumlah massa dengan meneriaki mahasiswa asal Papua di Surabaya pada Jumat (16/8) lalu.

Hj Hizbiyah menuturkan bahwa kasus rasisme itu tidak hanya melukai masyarakat Papua, tapi juga seluruh bangsa Indonesia. Sebab Papua bagian tidak terpisahkan dari Indonesia.

"Kami mendorong Komnas HAM untuk menindaklanjuti kasus ini sesuai dengan kemampuan dan kewenangan yang dimiliki," katanya, Kamis (22/8).

Putri pahlawan nasional KH Abdul Wahab Chasbullah ini berharap agar Komnas HAM segera bertindak untuk menyelidiki pelaku rasisme tersebut, agar jangan sampai konflik antarsesama masyarakat terjadi karena rasisme.
 
Hj Hizbiyah juga meminta kepada Kapolri untuk menangkap pelaku rasisme dan menyelesaikan persoalan ini secara cepat, tepat dan tidak terulang kembali.
 
Selain itu, Sekretaris Muslimat NU DKI Jakarta Yayah Ruchyati juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang mendinginkan suasana dengan meminta maaf.
 
"Kami sangat berharap kepada semua saudara kami di Papua, jangan mudah terpengaruh dan terprovokasi agar kita tidak terpecah belah dari NKRI," ujar Yayah, sapaan akrabnya.
 
Yayah menegaskan bahwa yang terpenting saat ini adalah kita bersatu kembali menahan diri untuk menjaga kerukunan dan kebersamaan. "Kita percayakan pemerintah pasti akan mengambil langkah-langkah positif dan mencari solusi yang terbaik," tandas Yayah.
 
Seperti dilansir sejumlah media, Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengirimkan 'Salam Papeda' kepada seluruh masyarakat Papua. Salam ini dikirim melalui akun Instagram pribadinya @khofifah.ip.
 
Tidak lupa, Khofifah juga menuliskan pesan di Instagram dalam dialek papua. Sebelumnya, Khofifah mengunggah video yang memperlihatkan seorang mama Papua yang mengatakan dia dan kampungnya pro-NKRI. 
 
"Sa yakin masyarakat Papua dorang di sana cinta Indonesia, dorang cinta merah putih. Sa yakin pace, mace, kaka, dan ade dorang samua tra mau Papua rusuh. Mari torang jaga Indonesia tetap damai. Tara usah bakalai, pertikaian, permusuhan dan anarkisme di Tanah Papua," tulis Khofifah dalam Instagram-nya, Kamis (22/8).
 
Unggahan ini menuai respons positif dari netizen. Saat berita ini ditulis, video tersebut telah ditonton lebih dari 49 ribu kali dan mendapat ratusan komentar.
 
Warganet pun mendukung langkah Khofifah yang terus melakukan pendekatan untuk menyudahi kerusuhan di sejumlah wilayah di Papua, buntut dari insiden di Surabaya dan Malang. 
 
Editor: Ibnu Nawawi
Jumat 23 Agustus 2019 19:0 WIB
‘Seseorang Terkadang Harus Dipaksa untuk Menjadi Baik’
‘Seseorang Terkadang Harus Dipaksa untuk Menjadi Baik’
Habib Hasan bin Ismail al-Muhdhor (dua dari kiri) saat menjadi pengasuh pengajian kitab Qobasun Nuril Mubin min Ihya’i Ulumiddin dalam Pengajian Majelis Al-Muwashalah di Masjid Baitunnur kompleks Pesantren Nuris Antirogo, Sumbersari, Jember Jawa Timur, Kamis (22/8).
Jember, NU Online 
Akhlak  yang baik menjadi idaman semua orang yang ‘waras’. Namun tidak semua orang bisa mendapatkannya. Sebab untuk meraih akhlak yang mulia terkadang dibutuhkan usaha  yang sungguh-sungguh, dan bahkan takalluf (dipaksa).
 
Demikian disampaikan oleh Habib Hasan bin Ismail Al-Muhdhor saat menjadi pengasuh pengajian kitab Qobasun Nuril Mubin min Ihya’i Ulumiddin dalam Pengajian Majelis Al-Muwashalah di Masjid Baitunnur Kompleks  Pondok Pesantren Nuris Antirogo, Sumbersari, Jember, Jawa Timur, Kamis (22/8).
 
Seraya mengutip kalimat dalam kitab tersebut, Habib Hasan menegaskan bahwa akhlak yang baik bisa didapat dengan dua cara. Pertama, dari Allah langsung. Bila diibaratkan, orang model pertama ini menjadi baik ‘dari sananya’, tanpa ada pengajaran kepadanya.  
 
“Ada orang yang sejak kecil punya kelebihan, misalnya dia sopan bukan main, rendah hati, besar sedikit ahli shalat, dan sebagainya. Padahal dia tidak ada yang mengajari secara serius. Dia ahli ibadah hingga jadi orang yang dekat kepada Allah. Itu namanya bijudin ilahi, murni karena karunia Allah. Itu tidak bisa ditiru,” ujarnya.
 
Kedua, berkat usaha yang dilakukan (bi mujahadah). Yaitu yang bersangkutan harus berusaha sungguh-sungguh untuk mempunyai perangai yang baik, akhlak yang terpuji, dan sebagainya. Contohnya, untuk menjadi dermawan maka seseorang harus belajar memberi sampai akhirnya menjadi kebiasaan. 
 
“Tak peduli apakah awalnya ingin dipuji orang, atau karena terpaksa. Tidak masalah. Yang penting dilakukan dulu. Sesuatu itu menjadi biasa karena awalnya dipaksa, dipaksa dan dipaksa” ucapnya.
 
Demikian juga untuk menjadi orang  yang tawadhu. Itu bukan lah sesuatu yang gampang lantaran kesombongan selalu hinggap di hati manusia. Namun demikian, sikap tawadhu harus diusahakan dengan serius. Dikatakan Habib Hasan, seseorang harus melatih dirinya untuk menghormati orang lain dan merendahkan hati di hadapan siapa pun.
 
“Tidak  peduli juga apakah awalnya kita menghormati orang karena malu atau bahkan ingin sesuatu, tidak masalah. Yang penting latihan untuk jadi orang tawadhu. Tidak masalah orang lain pada bilang sok alim, sok kiai, dan sebagainya. Latihan terus sampai kita malu kepada diri sendiri kalau tidak rendah hati,” urainya.
 
Mengutip keterangan dalam sebuah kitab, Habib Hasan menjelaskan hakikat tawadhu adalah ‘Kamu senang di belakang padahal posisi kamu di depan’. Intinya, tawadhu tidak merebut  dan butuh posisi. Ia rela diposisikan di mana saja asal dekat dengan Allah.

Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Muchlishon
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG