IMG-LOGO
Daerah

Sugianto, Sukses Santri Pemilik Usaha 'Nasi Goreng Gila' 

Senin 26 Agustus 2019 12:0 WIB
Bagikan:
Sugianto, Sukses Santri Pemilik Usaha 'Nasi Goreng Gila' 
Warung Nasi Goreng Gila milik Sugianto di Banyuwangi. (Foto: Aryudi AR/NU Online)
Jember, NU Online 
Lulus dari perguruan tinggi  favorit, tidak harus jadi ASN (aparatur sipil negara), atau bekerja di kantor. Tapi membangun usaha sendiri justru lebih mantap.  
 
Itulah yang dilakukan Sugianto. Alumnus SMA Nurul Islam (Nuris) Jember tahun 2011 ini, akhirnya sukses membuka usaha kuliner di daerahnya, Banyuwangi, Jawa Timur sejak setahun yang lalu.
 
Sugik, sapaan akrabnya memang pemuda yang ulet dan pantang menyerah. Saat kuliah menjelang akhir di Universitas Brawijaya (UB) Malang, ia berinisiatif melamar kerja di sebuah perusahaan online shop, dan diterima sebagai kurir pengiriman barang. 
 
Namun Sugik mempunyai prinsip bahwa menjadi karyawan tidak boleh selamanya, tapi harus ada kemauan untuk berubah. Paling tidak,  pekerjan tersebut harus dijadikan pengalaman untuk membuka usaha sendiri. Sebab kalau punya usaha sendiri, di samping bebas berkreasi, juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
 
Benar, setelah satu tahun bekerja, Sugik memberanikan diri untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai kurir pengiriman barang.  Ia membuka usaha sendiri di bidang yang sama. 
 
Kan ilmunya sudah punya, tinggal keberanian kita untuk mau berubah atau tidak,” katanya kepada NU Online saat bertemu di Jember, Ahad (25/8).
 
Namun pekerjaan tersebut dirasa tak begitu propsektif, sehingga Sugik memilih berpindah ke usaha lain setelah dua tahun lebih bergulat dengan kegiatan pengiriman barang. Kendati begitu, ia tidak mudah  putus harapan. Baginya, masyarakat dan tanah Indonesia begitu banyak menyediakan peluang bisnis.
 
Maka kemudan Sugik banting setir dengan menekuni usaha kuliner. Pertimbanganya sederhana; setiap hari orang pasti butuh makan. Karena belum berpengalaman, maka Sugik mencari mitra yang sudah berpengalaman di bidang kuliner. Dan akhirnya, warung yang diidamkannya berdiri. Namanya warung Nasi Goreng Gila.
 
Warung nasi goreng yang terletak di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi tersebut cukup ramai dikunjungi pembeli. Agar tidak bosan, Sugik berkreasi dengan membuat rasa pedas nagi goreng bikinannya bertingkat-tingkat, mulai dari level 1 hingga 6. Tergantung selera pembeli mau pilih level pedas yang mana. 
 
“Kita harus terus berinovasi kalau ingin sukses,” jelasnya.
 
Bagi Sugik, usahanya tersebut juga tak lepas dari berkahnya sebagai santri di Nuris Jember sekian tahun lalu. Katanya, pengasuh selalu menekankan pentingnya kemandirian saat terjun ke masyarakat, selain memang didik mandiri selama di pesantren.
 
“Memanfaatkan ilmu tidak harus di kantor. Meskipun untuk menjual nasi goreng tidak butuh sarjana, tapi ilmu yang kita dapat sangat membantu mengelola usaha,”  pungkasnya. 
 
 
Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Ibnu Nawawi
Bagikan:

Baca Juga

Senin 26 Agustus 2019 23:30 WIB
Ruqyah Aswaja Bukan Sekadar Pengobatan Alternatif
Ruqyah Aswaja Bukan Sekadar Pengobatan Alternatif
Pelantikan pengurus JRA kecamatan se Kabupaten Purworejo
Purworejo, NU Online
Ketua Pengurus Cabang (PC) Jamiyah Ruqyah Aswaja (JRA) Purworejo, Jawa Tengah Kiai Adroi mengatakan, kegiatan ruqyah aswaja putaran pertama di Purworejo berlangsung sukses. 
 
"Hal ini terbukti banyaknya peserta yang hadir pada kegiatan ruqyah masal. Ini membuktikan bahwa masyarakat memerlukan kehadiran ruqyah aswaja bukan saja sebagai pengobatan alternatif, meski ada juga yang merasa ketakutan karena dikira aliran sesat," ujarnya. 
 
Hal itu disampaikan pada acara pelantikan pengurus Jamiyah Ruqyah Aswaja (JRA) tingkat kecamatan se-Kabupaten Purworejo, Ahad (25/8).
 
Dikatakan, pelantikan pengurus tingkat kecamatan sejalan dengan pengembangan dakwah JRA yang cukup masif di kecamatan-kecamatan. "Pelantikan pengurus JRA tingkat kecamatan karena tuntutan kebutuhan pelayanan ruqyah," jelasnya.
 
Kiai Adroi berpesan kepada seluruh Pengurus Anak Cabang JRA yang dilantik untuk ikut berda`wah dengan Al-Qur`an mensyiarkan  JRA di Purworejo. "Semoga jerih payah kita ikut mensyiarkan JRA di Kabupaten Purworejo nantinya sebagai amal kebaikan kita kelak di akhirat," tuturnya.   
 
"Saya juga meminta kepada segenap PAC JRA untuk silaturahim kepada sesepuh NU di kecamatan masing-masing minimal setahun 3 kali khususnya MWCNU mohon doa restu dan bimbingan," imbuhnya.
 
Ketua PCNU Purworejo KH Abdul Hamid menyampaikan, sebagai pengurus JRA harus menguasai dan hafal ayat-ayat ruqyah. Di samping itu, JRA adalah bagian dari NU dan berdakwah dengan Al-Qur`an. 
 
"Dalam berdakwah pastinya ada hambatan dan halangan, tapi semua itu kita bertawakal kepada Allah SWT, kita hanya berusaha Allah juga yang mentakdirkan al-insan bi at-takhyir wallahi bi at-taqdir," ungkapnya.
 
Rais Syuriyah PCNU Purworejo KH Habib Hasan Ba`bud menyampaikan, walaupun JRA belum masuk dalam Banom NU akan tetapi dirinya berharap bisa diusulkan pada Muktamar NU mendatang. 
 
"Walaupun belum masuk banom NU, yang penting praktiknya sama dengan amaliyah NU, sebenarnya praktik ruqyah ini sudah ada pada zaman Nabi Muhammad SAW yaitu ada seorang yang sakit kemudian dia minta didoakan kesembuhan kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW hanya membaca surah al-Fatihah atas ijin Allah SWT orang yang sakit tadi sembuh," paparnya. 
 
Dijelaskan, ruqyah sebenarya tidak hanya untuk mengobati penyakit non medis, untuk penyakit medis juga bisa karena kesembuhan adalah milik Allah SWT, maka masyarakat sangat membutuhkan adanya Ruqyah. "NU menyambut baik dengan adanya JRA di Purworejo, silahkan dijalankan JRA agar bisa berkembang di Purworejo," pesannya.
 
Acara pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) JRA se-Kabupaten Purworejo ditandai dengan pemmbacaan ikrar kesetiaan PAC JRA dan dilanjutkan dengan pemakaian seragam rompi JRA oleh Ketua PC JRA  Purworejo kepada perwakilan PAC JRA yang sudah dilantik. 
 
Kontributor: Achmad Rohadi
Editor: Muiz
 
 
Senin 26 Agustus 2019 23:0 WIB
Perkuat Persatuan, Mahasiswa Jombang Gelar Dialog Kebangsaan
Perkuat Persatuan, Mahasiswa Jombang Gelar Dialog Kebangsaan
Dialog kebangsaan mahasiswa Jombang (foto: Syamsul Arifin/NU Online)
Jombang, NU Online 
Persatuan yang dibangun oleh para pendiri bangsa belakangan sedang diuji, ada isu-isu yang sengaja digoreng oleh pihak-pihak tertentu guna memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Tanah Air. 
 
Kondisi ini tak mengecilkan semangat para pemuda di Kabupaten Jombang, Jawa Timur yang tergabung di beberapa organisasi kemahasiswaan untuk kembali merajut sekaligus memperkuat persatuan antar sesama. 
 
Organisasi kemahasiswaan yang terlibat dalam hal ini adalah PMII, HMI, GMNI dan KAMMI. Mereka berupaya meningkatkan persatuan melalui dialog kebangsaan pada Ahad (25/8) di Kedai Persada, Jombang.
 
Sejumlah organisasi yang terwadahi dengan nama Kelompok Cipayung ini juga menggandeng Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Gerakan Pemuda (GP) Ansor, dan jajaran kepolisian serta TNI. Sinergi ini semata untuk lebih memperdalam pembahasan terkait persatuan bangsa dan dinamika yang berkembang belakang ini.
 
Ketua FKUB Jombang, KH Isrofil Amar menekankan para peserta untuk terus mengamalkan butir-butir Pancasila sebagai ideologi bangsa. Butir-butir Pancasila menurutnya sudah sangat mewakili terhadap kehidupan berbangsa yang ideal. Baik aspek ketuhanan maupun bagaimana pola berbangsa dan bernegara yang baik telah termaktub di dalamnya. Dengan demikian, sebagai warga negara harus paham makna dari setiap butir yang terkandung dalam Pancasila. 
 
"Dalam kehidupan ini selain kita harus mengamalkan nilai-niai Pancasila, kita juga harus memahami makna dari kemerdekaan itu seperti apa," ucapnya.
 
Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang ini lebih jauh menilai, bangsa Indonesia hingga kini masih belum banyak yang benar-benar mengamankan Pancasila dengan baik. Bahkan ada sebagian dari mereka yang justru menolak dengan ideologi bangsa Indonesia tersebut. Parahnya, mereka melakukan gerakan-gerakan yang cenderung memecah belah bangsa.
 
"Pancasila tidak hanya sekedar dipahami secara teori, melainkan di laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Keberagaman yang dimiliki oleh Negara Indonesia sudah sepatutnya menjadi kekuatan dan menjadi alat memperkokoh pondasi bangsa," jelas Kiai Isrofil sapaan akrabnya.
 
Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Jombang, H Zulfikar Damam Ikhwanto mengungkapkan, para pemuda khususnya senantiasa menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semangat para pemuda, terlebih mereka yang memiliki latar belakang aktivis sudah sepantasnya terus bergelora dalam situasi apapun dan bagaimanapun.
 
Di sisi lain, tambahnya, mererka juga dituntut untuk meyakinkan masyarakat bahwa NKRI adalah harga mati. Dan tidak boleh ada pihak yang mencoba untuk menggoyahkannya. 
 
"Sebab para pemuda adalah alat masa depan bangsa. Mereka harus menjaga persatuan," ujar pria yang akrab disapa Gus Antok ini.
 
Turut hadir Kasat Intel kodim Jombang, Letda Dwi Agus Hariyanto dan anggota Polres Jombang, Budi Santoso.
 
Kontributor: Syamsul Arifin
Editor: Muiz
Senin 26 Agustus 2019 21:30 WIB
Jambore Nusantara IPNU-IPPNU Babat untuk Ukhuwah Islamiyah
Jambore Nusantara IPNU-IPPNU Babat untuk Ukhuwah Islamiyah
Jambore Nusantara IPNU-IPPNU Babat untuk Ukhuwah Islamiyah (foto: dok NU Online)
Lamongan, NU Online
Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Babat, Jawa Timur menggelar Jambore Nusantara Pelajar Nahdlatul Ulama di area wisata Waduk Gondang Sugio, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
 
Ketua PC IPNU Babat Habib Jaelani tujuan kegiatan ini untuk menumbuhkembangkan potensi diri dan kreatifitas untuk mendorong kemampuan aktualisasi kader IPNU dalam meraih prestasi.
 
"Kegiatan ini sebagai sarana ukhuwah Islamiyah antar kader se-Cabang Babat," katanya kepada NU Online, Ahad (25/8).
 
Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 23-25 Agustus 2019. Dan dikonsep model perkemahan dengan tema Menanamkan Jiwa Sosial Pelajar Terhadap Kepedulian Lingkungan Bermasyarakat dan Pelestarian Ahlusunnah Waljamaah.
 
"Kita perlu mempertegas jati diri dan eksistensi pelajar sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki peran sebagai pemimpin dalam membangun bangsa dan negara," tambahnya. 
 
Habib menjelaskan, latar belakang kegiatan ini yaitu banyak generasi muda yang tidak paham budaya nasional dan lokal. Seperti budaya tahlilan, yasinan, bentuk tarian, nyanyian daerah, dan berbagai adat di berbagai daerah. Mereka lebih asyik bermain game dan tidak punya budaya bersaing di dunia nyata. Sikap mereka cuek dan masa bodoh dengan lingkungan sekitar.
 
"IPNU-IPPNU Babat merasa kader dan masyarakat pada umumnya harus diberikan ruang serta sarana untuk berpartisipasi dalam pelestarian dan pengembangan budaya di daerahnya. Sehingga nilai nilai budaya tidak hanya dipahami sebagai tontonan dalam berbagai festival budaya, acara seremonial, maupun tontonan dalam media elektronik," tandasnya.
 
Dijelaskan, masyarakat sesungguhnya pemilik budaya itu. Masyarakat lah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya. Sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pemeliharaan budaya oleh masyarakat, maka klaim-klaim oleh negara lain dengan mudah akan terpatahkan. 
 
"Filter terhadap budaya asing pun juga dengan aman bisa dilakukan. Pada gilirannya krisis budaya pun akan terhindarkan. Sebagai generasi penerus bangsa,  para pemuda khususnya pelajar memiliki andil penting bagi pembangunan budaya daerah. Kemajuan pembangunan kebudayaan di tahun-tahun mendatang akan sangat bergantung pada mereka," beber Habib.
 
Ketua PC IPPNU Babat Emy Natun Naimah menambahkan, perkembangan kondisi pelajar di era generasi muda lebih berkiblat pada budaya luar, dari pada nilai-nilai budaya lokal. 
 
"Apresiasi pelajar terhadap budaya bangsa perlu ditingkatkan untuk menyemai pemahaman yang lebih utuh mengenai kekayaan dan kebudayaan Indonesia," pinta Emy. 
 
Oleh karenanya, acara Jambore dikonsep dengan kearifan lokal dan mengasyikkan. Peserta Jambore berasal dari PAC IPNU-IPPNU se-Babat. Setiap peserta hanya dikenai biaya administrasi Rp20 ribu. Perlombaan yang disediakan yaitu sepak bola khusus Putra, volly khusus putri, olimpiade aswaja, kreasi tenda, duta pelajar, PBB kreasi, shalawat dan baca kitab kuning.
 
"Kearifan lokal yang kita inginkan tentu tidak boleh menyimpang dari Aswaja. Kita mengambil model dakwah Wali Songo sebagai acuan dalam menjaga budaya nasional," pungkasnya.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman 
Editor: Muiz
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG