IMG-LOGO
Nasional

Kiai Muzakki: Mintalah kepada Allah, Jangan ke Kiai

Jumat 30 Agustus 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Kiai Muzakki: Mintalah kepada Allah, Jangan ke Kiai
Pengasuh Manaqiban Syekh Abdul Qadir Jailani Jember, KH Ahmad Muzakki Syah saat memberikan tausiah kepada para jamaah di kediamannya, Jalan Manggar Nomor 139A, Gebang Poreng, Jember, Kamis (29/8) malam.
Jember, NU Online 
Allah adalah tempat meminta, bukan yang lain. Apapun yang dikehendaki manusia, maka Allah-lah jujugan permohonannya. Sebab Dialah yang punya kuasa memberi dan menolak segala permintaan manusia.

Demikian disampaikan Pengasuh Manaqiban Syekh Abdul Qadir Jailani Jember, KH Ahmad Muzakki Syah saat memberikan tausiah kepada para jamaah di kediamannya, Jalan Manggar Nomor 139A, Gebang Poreng, Jember, Kamis (29/8) malam.

Menurutnya, sebagai Dzat Yang Maha Memberi, maka Allah harus ditempatkan sebagai satu-satunya gantungan permohonan manusia. Sedangkan yang lain, semisal ziarah kubur, sowan kepada ulama, dan sebagainya hanya sebagai washilah (perantara) sebelum permohonan (doa) itu sampai kepada Allah.

“Jangan minta kepada saya, jangan minta ke kiai, jangan minta ke habib, tidak boleh. Syirik. Mintalah hanya kepada Allah, satu-satunya,” tegasnya.

Seperti diketahui, setiap malam Jumat (Kamis  malam), khususnya Jumat legi, Manaqiban Syekh Abdul Qadir Jailani Jember menggelar Istighotsah dan Dzikir Bersama di Kompleks Pesantren Al-Qodiri, Jl Manggar Nomor 139A, Gebang Poreng, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur.  Peserta yang hadir mencapai puluhan ribu orang. Mereka berasal dari seluruh pelosok Nusantara, seperti Jawa, Lampung, Kalimantan, bahkan Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Sejumlah pejabat penting di negeri ini juga pernah hadir di acara tersebut, seperti Susilo Bambang Yudhoyono (saat jadi Presiden), Presiden Jokowi, sejumlah menteri dan gubernur.

“Monggo, kalau mau berdoa di sini bersama saya, memohon kepada Allah. Bukan meminta kepada Kiai Muzakki. Saya hanya tukang doa bersama jamaah. Kalau ada calon bupati datang ke sini, lalu jadi, itu bukan karena saya, tapi karena Allah,” ucapnya.

Kiai Muzakki juga bercerita soal pesantren yang dibangunnya, Al-Qodiri. Katanya, pesantren tersebut awalnya hanya menempati lahan seluas 3.000 meter persegi. Namun karena orang yang mempercayakan anaknya kepada pesantren tersebut terus bertambah, akhirnya lahannya dikembangkan sehingga saat ini mencapai 24 hektare.

“Santri-santri saya wajib tahu soal Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Wajib NU, walaupun di sini juga ada santri non-Muslim,” jelasnya.

Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Muchlishon
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 30 Agustus 2019 23:30 WIB
Tempat dan Waktu Muktamar NU Ke-34 Ditentukan Bulan Depan
Tempat dan Waktu Muktamar NU Ke-34 Ditentukan Bulan Depan
Sekretaris Rapat Pleno PBNU 2019 Ulil Abshar Hadrawi (kanan) (Foto: Abdullah Alawi/NU Online)
Jakarta, NU Online 
PBNU akan menggelar Rapat Pleno 2019 di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 2, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, 20 sampai 22 September. Salah satu pembahasan rapat tersebut adalah tempat dan waktu muktamar NU ke-34 yang berlangsung tahun depan. 

“PBNU telah membentuk tim yang mengadakan survei ke beberapa daerah yang mengajukan diri menjadi tuan rumah muktamar tahun 2020,” ungkap Sekretaris Rapat Pleno PBNU 2019 H Ulil Abshar Hadrawi di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/8).

Menurut Ulil, para anggota tim tersebut akan melaporkan hasil survei mereka di Rapat Pleno PBNU. Setelah itu, PBNU akan membahas dan kemudian memutuskannya. 

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini mengatakan, sampai saat ini ada beberapa daerah yang mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah muktamar NU, yaitu Lampung, Sumatera Selatan, Banten, Yogyakarta, dan Kepulauan Riau. Di antara lima daerah tersebut, Lampung, dan Kepulauan Riau belum pernah menjadi tempat muktamar. 

“Sumatera Selatan pernah menjadi tuan rumah, yaitu di Palembang pada tahun 1952, sementara Yogyakarta pernah menjadi tuan rumah pada tahun 1989,” katanya. 

Rapat Pleno PBNU 2019 akan melibatkan seluruh pengurus NU, lembaga dan banomnya di tingkat pusat. Mereka terdiri, mustasyar, syuriyah, tanfidziyah, awan di PBNU, serta pengurus lembaga dan banom di tingkat pusat. 

Menurut Ulil Abshar, selain penentuan tempat dan waktu muktamar, pada kegiatan tersebut, PBNU akan mendengarkan laporan dari para pengurus lembaga dan banom NU di tingkat pusat. Setelah itu, kata Ulil, peserta Rapat Pleno akan dibagi dalam tiga komisi, yaitu program, organisasi dan rekomendasi.  

“Di tiga komisi itulah laporan dari masing-masing lembaga dan banom NU akan dievaluasi. Kemudian masukannya akan disampaikan dalam bentuk rekomendasi,” jelas pria asal kelahiran Pati, Jawa Tengah ini. 

Bagi warga NU atau masyarakat umum yang ingin hadir pada kegiatan tersebut, lanjut Ulil, panitia memfasilitasinya dengan menyediakan arena seni dan hiburan rakyat yang dipersiapkan Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Purwakarta. Juga akan ada bazar.

“Dua hari sebelum itu, panitia akan mengadakan seminar-seminar terkait isu-isu yang berkembang saat ini seperti dakwah media sosial, perekonomian, pertanahan dan lain-lain,” katanya. 

Penyelenggaraan Rapat Pleno PBNU 2019 ini melibatkan kepanitiaan gabungan yang terdiri pengurus PBNU bekerja sama dengan PCNU Purwakarta, PWNU Jawa Barat dan sahibul bait, yakni Pondok Pesantren Al-Muhajirin 2 KH Abun Bunyamin. 

Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Fathoni Ahmad

 
Jumat 30 Agustus 2019 23:0 WIB
Gus Miftah: Saya Belajar Memanusiakan Manusia dari Gus Dur
Gus Miftah: Saya Belajar Memanusiakan Manusia dari Gus Dur
Gus Miftah di makam Gus Dur, Jombang
Jombang, NU Online
Penceramah muda Miftah Maulana Habiburrahman atau lebih dikenal dengan Gus Miftah kali ini mengunjungi makam Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk berziarah dan membaca doa.
 
Kedatangan Gus Miftah ke Kota Santri sebenarnya untuk mengisi pengajian dalam haul ke-9 Kiai Shobar Rosyadi di Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Karena ingin ziarah ke makam Gus Dur, KH Hasyim Asy'ari, dan KH A Wahid Hasyim, maka ia datang sehari sebelum acara.
 
Pimpinan Pesantren Ora Aji Sleman, Yogyakarta ini mengaku sangat mengidolakan Gus Dur sejak lama. Ia menganggap Gus Dur adalah gurunya dalam bergaul dengan manusia selama sehari-hari. Ia membaca dan sering mendengarkan cerita tentang Gus Dur.
 
"Saya hari ini berada di makam pejuang kemanusian bapak pluralisme Indonesia KH Abdurrahman Wahid. Jadi kenapa saya ngefans dengan ia karena saya belajar memanusiakan manusia apapun agama dan suku bangsanya. Di belakang kita makamnya bersama KH M Hasyim Asy'ari dan ayahnya KH A Wahid Hasyim," katanya saat ditemui usai ziarah makam Gus Dur, Jumat (30/8).
 
Dari Gus Dur, ia belajar untuk tidak membenci sesama manusia meskipun berbeda dalam agama, suku bangsa, dan pilihan politik. Perbedaan baginya suatu keniscayaan yang tak bisa dielakkan. Karena di sanalah bukti Allah maha kuasa.
 
"Salah bila ada yang mengatakan Gus Miftah benci harakah (pergerakan agama) lain. Salah juga yang mengatakan Gus Miftah anti cadar. Kita tidak diajarkan Mbah Hasyim dan Gus Dur begitu," tambah dai yang fokus berdakwah bagi kaum marjinal ini.
 
Gus Miftah disambut oleh sejumlah pengurus utama Pesantren Tebuireng dan diterima di Ndalem kesepuhan pesantren. Selanjutnya, Gus Miftah shalat Jumat bersama para santri Tebuireng.
 
"Saat ini saya berada di kotak infak jalur ke makam Gus Dur. Dulu saya katakan sebulan Rp150 juta ternyata sekarang mencapai Rp300 juta. Dan hebatnya hasilnya tidak digunakan untuk membangun Pesantren Tebuireng. Tetapi untuk fakir miskin, duafa, dan fuqara," cerita Gus Miftah.
 
Da'i muda yang dilahirkan di Lampung ini juga mendoakan semua santri Tebuireng dan jamaah yang hadir semoga lebih baik. Terkhusus lagi Pesantren Tebuireng semoga tambah berkah.
 
"Semoga bisa semakin berkembang dan bermanfaat," tandasnya.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman 
Editor: Muiz
Jumat 30 Agustus 2019 21:0 WIB
Mukernas Sako Ma'arif, Komitmen NU terhadap Pramuka
Mukernas Sako Ma'arif, Komitmen NU terhadap Pramuka
Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Bidang Bina Muda Supriyadi (Foto: Husni Sahal/NU Online)
Jakarta, NU Online
Peran Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama dalam dunia pendidikan, terutama dalam hal Pramuka sudah diakui Kwarnas Gerakan Pramuka. Sebab menurut Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Bidang Bina Muda Supriyadi, selama ini Ma'arif NU mampu mengadakan berbagai kegiatan yang bersifat nasional.

"Tentunya ini adalah satu wujud Sako Ma'arif NU (dalam) berkomitmen, konsekuen, dan konsisten terhadap organisasi Pramuka," kata Supriyadi kepada NU Online seusai mengisi pembukaan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma'arif NU 2019 yang diselenggarakan di Rivoli Hotel Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat (30/8). 

Menurut Supriyadi, langkah selanjutnya yang harus dilakulan antara Sako Pramuka Ma'arif NU dan Kwartir Nasional adalah perlunya saling mendukung. Pihaknya perlu memberikan perhatian lebih kepada Sako Pramuka Ma'arif NU.

"Hanya tinggal bagaimana saling berkontribusi. Tentunya Kwartir Nasional juga harus berkontribusi lebih kepada maarif perhatiannya, dan Ma'arif juga demikian, tidak perlu ragu lagi (untuk selalu) berkegiatan secara nasional. Bumingkan (acaranya) secara nasional," terangnya.

Ia berharap, Sako Pramuka Ma'arif NU yang berada di bawah Satuan Karya (Saka), Satuan Komunitas (Sako), dan gugus darma Pramuka terus meningkatkan kualitasnya dalam menerapkan kaidah-kaidah nasional dan internasional Pramuka, serta perencanaan organisasi ke depan agar lebih baik.

"Tentunya ke depan lebih baik dengan berbasis kepada lima kecerdasan:  spiritual, emosional, intelektual, sosial, dan fisik," ucapnya.

Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari, yakni 30 Agustus hingga 1 September ini mengusung tema 'Pramuka Moderat Menuju Generasi Emas 2026'. 

Menurut Supriyadi, moderatisme yang dibangun LP Ma'arif NU khususnya, dan NU secara lebih luas tidak perlu diragukan. Keberadaannya dalam membangun bangsa melalui sikap moderat telah diketahui masyarakat.

"Ma'arif kan berinduk kepada NU yang lebih besar, lebih lama, lebih tua dari bangsa ini, jadi sudah tidak kami ragukan," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membuka Mukernas Sako Pramuka LP Ma'arif NU. Ia ditemani Ketua Panitia Sako Pramuka Ma'arif Nasional Muchsin Ibnu Djuhan dan Ketua PP Ma'arif NU KH Zainal Arifin Junaidi.

"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Musyawarah Kerja Nasional Sako Pramuka Ma'arif Nahdlatul Ulama saya buka," kata Kiai Said.

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Abdullah Alawi
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG