IMG-LOGO
Nasional

Rais 'Aam PBNU: Zaman Rasulullah Hoaks Jadi Faktor Kekalahan Umat Islam

Selasa 3 September 2019 10:45 WIB
Bagikan:
Rais 'Aam PBNU: Zaman Rasulullah Hoaks Jadi Faktor Kekalahan Umat Islam
Rais 'Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar
Brebes, NU Online
Akhir-akhir ini bangsa Indonesia dilanda perpecahan sebagaimana yang terjadi di Papua dan lain sebagainya. Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Achyar mengingatkan, dalam menjalani kehidupan, sebagaimana yang dipesankan oleh KH Maimoen Zubair, sebisa mungkin kita berusaha untuk menjadi orang pintar yang benar. 
 
"Minimal, apabila ingin meniru orang dahulu, walaupun mereka tidak terlalu pintar, yang penting jadi orang benar, sehingga hidup tenteram, tidak menjadi orang berseumbu pendek, mudah marah," tegasnya. 
 
Demikian disampaikan Kiai Miftah pada acara Haul ke-8 KH Masruri Mughni di Masjid An-Nur, komplek Pesantren Al-Hikmah 2, Benda, Sirampog, Brebes, Ahad (1/9) 
Selain itu, Pengasuh Pesantren Miftahus Sunnah tersebut menekankan kepada masyarakat supaya tidak hanyut dalam arus gelombang hoaks yang membanjiri bumi Indonesia saat ini. 
 
“Ada berita jelek dari pemimpin ini, langsung disebarkan. Kalau ada berita, isu yang tidak jelas, tabayyun dulu, jangan dipercaya dulu. Ini kelemahan kita.
 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا 
 
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasiq, klarifikasilah kalian.” (QS Al-Hujurat: 6)
 
Sejak zaman Rasulullah ﷺ, umat Islam mengalami kekalahan disebabkan berita-berita hoaks. Contohnya adalah waktu hijrah pertama ke Habasyah, orang-orang kafir Makkah menyebarkan hoaks yang menjelaskan bahwa orang kafir Makah sudah pada masuk Islam semua. 
 
"Kabar ini tentu menjadikan umat muslim yang sudah hijrah di Habasyah merasa bahwa orang Makkah sudah berubah menjadi teman semua. Akhirnya mereka kembali lagi ke Makkah. Ternyata, ketika mereka benar-benar sampai di Makkah, umat muslim ditangkap dan dianiaya," tandas Kiai Miftah.
 
Begitu pula dalam perang Uhud. Pada saat Sahabat Mush’ab bin Umair terbunuh, berita yang disebarkan oleh orang kafir, yang gugur adalah Rasulullah ﷺ. Informasi ini menjadikan pasukan muslimin kocar-kacir karena mentalnya sudah down. Padahal yang terbunuh adalah shahabat Mush’ab. 
 
"Atas infomasi sesat ini menjadikan salah satu faktor pasukan muslim terbunuh sangat banyak termasuk di antaranya adalah paman Rasulullah ﷺ sendiri yang bernama Hamzah," bebernya.
 
Masih menurut Kiai Miftah, di antara orang yang menjadi korban hoaks di masa Nabi adalah salah satu istri Rasulullah yang bernama Aisyah. Ia dituduh berlaku tidak senonoh dengan sahabat yang kemudian turun haditsul ifki.  
 
Kiai yang pernah menjabat menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur dua periode ini mengajak masyarakat untuk tidak gegabah dalam menerima dan meneruskan berita dari siapapun dan ke manapun. 
 
“Mari kita, tentang (berita) apa-apa, tentang kiai kita, pemimpin kita, harus ada tabayyun (klarifikasi). Ini senjata yang ampuh, maka kemenangan dan kenikmatan akan kita raih,” pesannya.  
 
Di depan ribuan warga yang hadir di majelis Haul tersebut, Pengasuh Pesantren Al-Hikmah 2 yang diwakili KH Izzuddin menjelaskan, rangkaian upacara haul sudah dilaksanakan mulai usai shalat subuh dengan sima’atul Qur'an oleh santri dan Jamiyyatul Qura wal Hufadz (JQH) NU, pertemuan alumni di Gelanggang Olah Raga (GOR), dan berbagai macam lomba.
 
Tahlil untuk Kiai Masruri dipimpin Habib Abdullah Mohammad Haddun dari Tegal dan pembacaan Yasin dipimpin KH Athoillah dari Pruwatan Bumiayu.
 
Tampak hadir pada kesempatan itu cucu pendiri NU KH Hasib Wahab Chasbullah, Ketua PWNU Jawa Tengah HM Muzammil dan Sekretris KH Hudallah Ridwan Naim, Sekretaris Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang KH Muhyiddin, Pengurus Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima Semarang, para habaib, dan Pengasuh  pesantren se-Jateng. 
 
KH Masruri Mughni adalah Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah yang lahir di Benda, Sirampog, 23 Juli 1943 dan wafat di Kota Suci Madinah 20 November 2011. 
 
Menurut KH Miftahul Akhyar, Kiai Masruri adalah sosok yang pantas menjadi Rais Aam PBNU. “Kiai Masruri itu, kalau ada orang mau mengadukan masalah, belum sampai ketemu, masalahnya bisa selesai. Andai Kiai Masruri Mughni masih hidup, beliau lah yang akan menduduki posisi Rais Aam PBNU, tapi takdir mengatakan lain.” pungkasnya. 
 
Kontributor: Ahmad Mundzir
Editor: Muiz
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 3 September 2019 20:50 WIB
Pesan KH Ma’ruf Amin dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional GP Ansor
Pesan KH Ma’ruf Amin dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional GP Ansor
Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin saat memberikan sambutan dalam Pelatihan Kader Nasional (PKN) di Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten, Selasa (3/9).
Serang, NU Online
Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menggelar Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Angkatan VII di Pondok Pesantren An Nawawi, Tanara, Serang Banten. Pelatihan ini diikuti 100 peserta dari seluruh Indonesia dan berlangsung mulai 3-8 September 2019.  

Pembukaan dihadiri jajaran Mustasyar PBNU, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Mustofa Bisri, Abuya Muhtadi Dimyathi, TGH Turmudzi, serta KH Machasin. Selain jajaran Mustasyar, pembukaan juga dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj serta sejumlah pejabat di lingkungan TNI/Polri, dan Pemda Banten.

Dalam pembukaan di pesantren asuhan Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin ini, Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menegaskan, PKN dilakukan untuk mempersiapkan pemimpin masa depan, mencetak kader yang penuh integritas, dan profesional. 

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Gus Yaqut ini, panggilan Ketum Ansor juga menyampaikan pesan dari Mustasyar PBNU, KH Mustofa Bisri (Gus Mus). 

“Tadi Kiai Mustofa menyampaikan pesan kepada Ansor dan Banser, Kalau ada yang merendahkan Ansor dan Banser tidak usah kecil hati. Sebab Ansor dan Banser raksasa. Mereka kecil. Tidak ada alasan yang besar, raksasa, itu takut pada yang kecil,” tegasnya.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam pidatonya juga berpesan kepada Ansor agar berani mengatakan iya jika itu memang benar, dan berani mengatakan tidak pada sesuatu yang bathil. Kepada Ansor dan Banser, Kiai Said berpesan empat hal agar Ansor dan Banser tetap berlaku profesional dan proporsional. 

“Kedua, Ansor juga harus mampu membangun jaringan kerjasama dengan berbagai pihak. Ketiga, juga harus menguasai teknologi, dan terakhir harus bertanggung jawab terhadap nasib NU dan Ansor sendiri,’’ tegasnya.

Sementara dalam tausiyahnya, Wakil Presiden terpilih KH Ma’ruf Amin meminta kepada kader Ansor dan Banser harus menjadi dinamo. 

“Karena GP Ansor adalah gerakan, maka Ansor harus bergerak dan mampu menjadi dinamo. Dinamo itu mampu menggerakkan semua, beda dengan gasing, dia hanya bergerak sendiri. Jangan jadi seperti gasing. Bukan hanya berputar-putar, tapi jadi dinamo yang bisa menggerakkan semuanya,” tegas pengasuh Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang ini.

Kiai Ma’ruf juga berpesan agar Ansor dan Banser tetap membela agama dan negara. “Membela agama dalam pengertian mengawal agama supaya tidak dipahami secara salah. Membela negara berarti juga bahwa negara ini dibangun atas dasar konsensus nasional, di mana penyampaian aspiras tidak boleh keluar dari kesepakatan,” ujarnya. 
 
Dia sependapat kader Ansor mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk menumbuhkan potensi ekonomi umat, seperti melahirkan start up atau jaringan rintisan yang bisa mengonsolidasikan potensi NU.

Editor: Fathoni Ahmad
Selasa 3 September 2019 20:15 WIB
Kemenkes Kemukakan Faktor Risiko Seseorang Terkena Diabetes Mellitus
Kemenkes Kemukakan Faktor Risiko Seseorang Terkena Diabetes Mellitus
Subdit DM GM Kemenkes RI Uswatun Hasanah di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (3/9). (Foto: Husni Sahal/NU Online)
Jakarta, NU Online
Era globalisasi telah mengubah gaya hidup baik individu maupun masyarakat secara luas. Era yang diantaranya ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi ini begitu terasa bagi kehidupan sehari-hari manusia.
 
Perubahan perilaku masyarakat ini  jelas terlihat pada zaman sekarang. Contohnya, pada zaman dahulu, anak-anak ketika melakukan sebuah permainan, melibatkan gerak anggota tubuh. Namun sekarang, banyak, kalau tidak dikatakan semua, anak-anak ketika bermain tidak menggerakkan anggota tubuhnya, kecuali jempol karena anak-anak lebih akrab terhadap handphone atau gadget.
 
Subdit Penyakit Diabetes Mellitus (DM) Ganggaun Metabolik (GM) Kementerian Kesehatan RI Uswatun Hasanah, ketika mengisi Talkshow dengan tema Peran Komunitas dalam Upaya Penanggulangan Diabetes Mellitus yang diselenggarakan Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (3/9), menyatakan bahwa perubahan gaya hidup yang ada itu menjadikan prevalensi penyakit DM terus meningkat.
 
"Inilah yang menjadikan kenapa DM prevalansinya terus meningkat. Di mana  salah satu faktor risiko DM adalah kurang aktivitas fisik," kata Uswatun.

Selain fisik kurang gerak, sambung Uswatun, faktor lain yang menyebabkan seseorang terserang penyakit DM karena diet yang dilakukan terjadi ketidakseimbangan, yakni konsumsi karbohidratnya tinggi, sementara konsusmi sayur dan buahnya rendah.
 
"Itu dibuktikan dengan hasil riset kesehatan dasar Litbangkes itu juga menunjukkan prevalensinya terus meningkat dari tahun 2013 sampai dengan 2018 angkanya terus meningkat," ucapnya.
 
Ia menyatakan bahwa lembaganya telah banyak membuat strategi dan kebijakan untuk mengurangi mengurangi angka penyakit DM. di antara yang dilakukan pihaknya, ialah dengan cara preventif dan promotif. Masyarakat diedukasi melalui berbagai macam sarana, seperti media sosial.
 
"Edukasi dilakukan kepada masyarakat luas, kemudian bisa melalui berbagai macam, misalnya dengan sosmed, ya, lewat Facebook, lewat Twitter, Instagram dengan mengikuti pola sekarang," ucapnya.

Pihaknya bersosialisasi melalui medsos karena dalam pandangannya, masyarakat sekarang lebih aktif membaca informasi melalui medsos, sehingga suatu keniscayaan ketika langkah tersebut dilakukan olehnya.

Selain Uswatun, turut menjadi pembicara pada acara itu kader kesehatan dari Blitar, Penanggung Jawab Program PTM Puskesmas Senen, Jakarta Pusat Sandra Avin, dan pemilik Klinik Mannar Medika Makky Zamzami.
 
Pewarta: Husni Sahal
Editor: Kendi Setiawan
Selasa 3 September 2019 20:0 WIB
LKNU Sebut Perhatian Dunia dan Pemerintah Belum Besar terhadap Diabetes Mellitus
LKNU Sebut Perhatian Dunia dan Pemerintah Belum Besar terhadap Diabetes Mellitus
Hisyam Said Budairi ketika memberikan sambutan pada acara laporan program LKNU for Diabetes Mellitus di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (3/9). (Foto: Husni Sahal/NU Online)
Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Kesahatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) Hisyam Said Budairi menyebut bahwa dunia internasional dan pemerintah Indonesia belum memiliki perhatian yang tinggi terhadap penyakit tidak menular seperti Diabetes Mellitus (DM). Padahal, penyakit DM masih membutuhkan perhatian yang sangat besar.

“Penyakit tidak menular itu masih butuh perhatian,” kata Hisyam saat memberikan sambutan pada acara pertemuan diseminasi program LKNU for Diabetes Mellitus (DM) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (3/9).

Pasalnya, dari sisi pendanaan saja masih timpang. Dana dari luar negeri yang untuk mengatasi penyakit menular berbeda jauh dengan dana untuk penyakit tidak menular. Dana untuk penyakit menular disebutnya sangat sedikit. Hal itu menunjukkan bahwa perhatian dunia terhadap penyakit tidak menular belum besar.

“Jadi perhatian antara penyakit menular dan tidak menular itu sangat besar, bahkan pada level internasional sekalipun,” jelasnya.

Namun demikian, sebagai organisasi kemasyarakatan, pihaknya mengaku beruntung menjadi yang pertama masuk pada wilayah penyakit tidak menular seperti DM. Walaupun, katanya, pelaksanaan ketika terjun ke masyarakat dan memberikan penjelasan itu mengalami kesulitan. 

Oleh karena itu, penjelasan kepada masyarakat tentang penyakit DM juga menjadi persoalan tersendiri. Hingga kini, sosialisasi yang dapat dijelaskan sekadar mengingatkan kepada masyarakat tentang gaya hidup yang baik.

“Kalau masuk ke masyarakat sulit menjelaskannya. Kalau penyakit menular kan gampang. Misalnya Tuberkolosis, ‘kamu kena bakteri, terhirup, ketularan, selesai, kan’. Coba jelasin Diabetes,” ucapnya.

Menurutnya, dalam mengatasi penyakit DM ini dibutuhkan kekuatan komunitas komunitas untuk preventif dan promotifnya. Ia menyatakan bahwa langkah itu pun masih kurang dilaksanakan.

“Ini yang menurut saya masih kurang,” ucapnya. 

Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak. Di antaranya, kader dari Jombang, Blitar, Depok, Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusat, Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Klinik Mannar Medika, Dinas Kesehatan Kota Depok, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Komunitas Sobat DM, Universitas Pembangunan Nasional, Yayasan CIKAL Sehat Indonesia, Yayasan Cipta Cara Padu (YCCP), dan Ikatan Komunitas Kedokteran Universitas Indonesia (IKK UI).

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Abdullah Alawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG