IMG-LOGO
Daerah

Ibarat Satu Tubuh, Keluarga Besar NU Hendaknya Saling Menguatkan

Ahad 8 September 2019 6:0 WIB
Bagikan:
Ibarat Satu Tubuh, Keluarga Besar NU Hendaknya Saling Menguatkan
Turba PCNU Kabupaten Mojokerto di MWCNU Jetis. (Foto: NU Online/Syaiful Alfuat)
Mojokerto, NU Online
Seluruh elemen di Nahdlatul Ulama harus saling bersinergi. Memastikan jajaran kepengurusan di tingkat paling atas hingga bawah memiliki visi yang sama demi memajukan jamiyah dan kawasan setempat.
 
Penegasan ini disampaikan KH Abdul Adzim Alwy saat melakukan kegiatan turun ke bawah atau turba Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mojokerto, JawaTimur. 
 
“Turba ini dilaksanakan sebagai sarana untuk menyerap aspirasi warga mengenai berbagai persoalan yang ada di wilayah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama atau MWCNU,” katanya di Kecamatan Jetis, Jumat (8/9).
 
Selanjutnya, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto tersebut mengemukakan bahwa turba juga dapat merawat hubungan antara jajaran pengurus MWCNU dengan pengurus PCNU.
 
“Sehingga dapat saling bersinergi dan satu visi misi dalam memajukan NU Kabupaten Mojokerto ke depan,” jelasnya. 
 
KH Abdul Adzim Alwy sangat bangga dengan kekompakan segenap pengurus dan jajaran badan otonom atau Banom dan lembaga yang ada di wilayah Kecamatan Jetis serta Kabupaten Mojokerto dalam kegiatan turba pertama ini. 
 
“Oleh karena itu harus tetap kompak dan selalu saling bersinergi antar Banom dan lembaga,” pesannya.
 
KH Adzim, begitu sapaan akrabnya menginginkan bahwa antara seluruh komponen yang ada di jamiyah sebagai satu tubuh. 
 
“Kami berharap seluruh keluarga NU Mojokerto bisa menjadi jasadul wahid, yaitu menjadi satu kesatuan dan selalu bersinergi dalam segala hal. Saling mendukung dan mensupport serta melengkapi satu dengan yang lain,” urainya. Jajaran pengurus MWCNU merupakan salah satu pondasi yang menyokong kerukunan dan hubungan yang baik dengan seluruh warga NU yang ada, lanjutnya.
 
Dirinya menyatakan banyak manfaat yang bisa diraih dari kegiatan turba. “Dari agenda ini setidaknya kami bisa melakukan evaluasi terhadap program kerja yang telah disusun dengan harapan nantinya bisa berjalan maksimal dan sesuai harapan warga NU,” jelasnya.
 
Selain konsolidasi, agenda ini menjadi ajang dalam menyatukan visi dan misi NU kepada kepengurusan di 18 MWCNU se-wilayah Kabupaten Mojokerto sesuai hasil musyawarah kerja PCNU yang pada tahun pertama memasuki penyerapan aspiran warga.
 
Sedangkan Ketua MWCNU Jetis, Gus Khoirun Amin mengucapkan terima kasih atas kunjungan turba perdana jajaran PCNU Mojokerto untuk pertama kalinya di kantor MWCNU Jetis ini. 
 
“Semoga semua jajaran PCNU dengan MWCNU Jetis dapat saling bersinergi dalam satu visi misi demi kemajuan NU di wilayah Mojokerto,” katanya. 
 
Disampaikannya, dari beberapa lembaga yang telah terbentuk, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama secara rutin menggelar lailatul ijtima yang dihadiri seribu hingga dua ribu jamaah setiap kegiatannya.
 
“Hal ini menjadikan lailatul ijtima menjadi kegiatan yang menjadi daya tarik dari wara NU di Jetis,” ungkapnya.
 
Ke depan, kegiatan konsolidasi dan silaturahim yang dikemas dalam turba PCNU ini akan selalu dilaksanakan satu bulan sekali dengan bergiliran dimulai dari MWCNU Jetis ini hingga seluruh kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Mojokerto. 
 
 
Pewarta: Syaiful Alfuat
Editor: Ibnu Nawawi
 
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 8 September 2019 23:0 WIB
Ketika Bola Menyatukan Kiai, Santri, dan Masyarakat Umum
Ketika Bola Menyatukan Kiai, Santri, dan Masyarakat Umum
Dewan Pembina Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Amiruddin Abkari saat menendang bola di Lapangan Blodog Berdebu, Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (7/9). (Buntet Pesantren/Mahdi)
Cirebon, NU Online
Sepak bola bukan sesuatu yang asing bagi segenap masyarakat pesantren. Di beberapa pesantren di Cirebon, Jawa Barat, para santri biasa memainkannya saban Jumat ketika pengajian tengah libur. Mereka beradu memperebutkan dan memasukkan benda bundar itu ke gawang lawan.
 
Namun, bukan hanya santri saja yang menggemari permainan tersebut. Para kiai juga punya ketertarikan yang sama pada olahraga itu.
 
Hal tersebut terbukti ketika para kiai di Pondok Buntet Pesantrenberkumpul di Lapangan Sepak Bola Blodog Berdebu pada Sabtu (7/9) sore. Mereka bermain melawan tim dari kelompok masyarakat umum yang terdiri dari tukang becak, pedagang, pegawai, guru, dan sebagainya. Keragaman profesi itu menjadikannya disebut sebagai tim gado-gado.
 
Para kiai tersebut mengenakan kaos seragam abu-abu bertuliskan 'Reunion Football Team' di bagian dadanya. Sebagian dari mereka juga mengenakan peci, ada pula yang memakai topi karena silau dengan mentari yang masih terik. Beberapa di antaranya lagi membebaskan kepalanya dari penutup. Tetapi semuanya bercelana panjang. Sementara itu, tim gado-gado mengenakan seragam warna merah dengan tulisan dada yang sama.
 
Demi memeriahkan kegiatan itu, para nyai, istri kiai, juga turut hadir di pinggir lapangan bersama putra-putri dan santri-santri. Mereka menggelar tikar untuk duduk memberikan semangat dan juga tempat istirahat ketika para kiai kelelahan.
 
Acara tersebut semakin meriah dengan teriakan para santri. Bukan yel-yel yang biasa digaungkan oleh para penggemar klub di stadion-stadion sepak bola, tetapi mereka menyuarakan nazaman Alfiyah ibn Malik guna mengobarkan semangat para kiainya itu.
 
Berkat dukungan ibu-ibu nyai dan santri-santri, para kiai itu berhasil mengalahkan tim lawan dengan skor 4-2.
 
Adapun para kiai yang mengikuti kegiatan tersebut antara lain Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin Izza, KH Amiruddin Abkari, KH Mufid Dahlan, KH Aris Ni’matullah, KH Mustahdi Abdullah Abbas, KH Muhammad Abdullah Abbas, KH Imron Rosyadi, KH Iwan Sofyan Ibadi, KH Anas Asaz, KH Agus Nasrullah, dan KH Edi Khumaedi.
 
Kegiatan yang diinisiasi oleh masyarakat muda Buntet Pesantren itu merupakan puncak dari rangkaian turnamen sepakbola antarpondok di Buntet Pesantren dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia.
 
Pewarta : Syakir NF
Editor : Kendi Setiawan
Ahad 8 September 2019 22:30 WIB
Ansor Diminta Usulkan Sultan Agung Jadi Nama Bandara Baru DIY
Ansor Diminta Usulkan Sultan Agung Jadi Nama Bandara Baru DIY
jajaran PC Ansor Purworejo, Jateng
Purworejo, NU Online
Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Achmad Chalwani Nawawi meminta GP Ansor untuk mengusulkan nama Sultan Agung Hanyokrokusumo diabadikan menjadi nama Bandara Baru Yogyakarta.  
 
Permintaan itu disampaikan dalam diskusi interaktif 'Membaca dan Meneladani Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro Bendoro Raden Mas Ontowiryo: Kepemimpinan dan Religiusitasnya dalam Perjuangan Perang Jawa', Sabtu (7/9) malam di Masjid Santren, Bagelen Purworejo.
 
“Saya sering bilang pada teman-teman Yogya, cobalah untuk usul ke Ngarso Dalem bandaranya itu dinamai Sultan Agung, biar tidak kepaten obor (kehilangan jejak sejarah, red),” ungkap Kiai Chalwani, di depan puluhan Pengurus PAC dan PC GP Ansor Kabupaten Purworejo.
 
“Kalau namanya Yogyakarta Internastional Airport (YIA) ya nggak jelek, tapi kan nggak ada nilai sejarahnya itu,” imbuhnya.
 
Lebih lanjut, Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah itu mengungkapkan bahwa di Jawa ini belum ada bandara yang namanya sultan.
 
“Di Kalimantan sudah ada, di Sumatera sudah ada, di Ternate sudah ada, tapi Jawa belum ada. Apa salahnya (nama) Sultan Agung? orang yang lain pakai nama pahlawan semua. Semarang Ahmad Yani, Solo Adisumarmo, Surabaya Juanda, Bandung Husein Sastranegara. Apa salahnya (kalau Yogya memakai nama) Sultan Agung? Kalau perlu cabang Ansor se-Indonesia kompak, syukur-syukur PBNU, mau mengirim surat kepada Sultan, usul agar nama bandara diganti Sultan Agung Hanyokrokusumo. Biar anak cucu kita tidak kehilangan jejak sejarah,” pintanya.
 
Menurut Pengasuh Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo ini, nama Sultan Agung Hanyokrokusumo tepat dijadikan nama bandara. Jasa-jasa dan tinggalan Sultan Besar Mataram Islam itu, masih dirasakan oleh masyarakat sampai kini.
 
“Nama-nama Bulan Jawa (Kalender Islam-Jawa, red) ini kan yang memberi Sultan Agung. Sudah tahu kita dan itu diambil dari Al-Qur'an semua. Termasuk nama-nama hari. Hari itu kan dari Qur'an. Dulu kan Belanda mengganti Ahad jadi Minggu, ketahuan Sultan Agung. Minggu itu dari pendeta: Santo Dominggus. Maka Ansor kalau bikin surat jangan Minggu Kliwon, tapi Ahad Kliwon,” jelasnya.
 
Selain Kiai Chalwani, hadir sebagai narasumber dalam diskusi interaktif ini adalah Ki Roni Sodewo, Ketua Patra Padi (Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro) dari Wates Kulonprogo DIY, dan Ki Sudarto (Budayawan, Sastrawan dan Dalang ) dan Loano Purworejo.
 
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Purworejo HM Haekal kepada NU Online menjelaskan, diskusi interaktif ini merupakan rangkaian acara yang digelar menjelang konferensi cabang. Tujuannya adalah mengangkat sejarah dan kearifan lokal. 
 
“Kita ingin semangat nasionalisme dan spiritualisme Pangeran Diponegoro menjadi nilai-nilai yang dipegang segenap kader Ansor khususnya dan generasi muda pada umumnya. Dan Bagelen serta Purworejo ini juga terkait erat hubungannya dengan perjuangan Sang Pangeran,” tandas Haekal.
 
Kontributor: Ahmad Naufa
Editor: Muiz
Ahad 8 September 2019 17:0 WIB
Kenangan Romo Kepala Gereja Katolik akan Sosok Gus Dur
Kenangan Romo Kepala Gereja Katolik akan Sosok Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid. (Foto: NU Online)
Surabaya, NU Online
KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan Presiden Indonesia keempat yang juga mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sosok Gus Dur dilahirkan pada 7 September 1940 dan wafat pada 30 Desember 2009. Kelahirannya banyak diperingati di sejumlah kawasan sebagai bukti kecintaan dan kerinduan akan sosok dan kiprahnya. 
 
Sebagai sosok yang dikenal sebagai bapak pluralitas Indonesia, Gus Dur juga dirindukan oleh penganut agama lain, termasuk Katolik. Bahkan Romo Fransiscus Hardi Aswinarno, mengaku Gus Dur adalah tokoh yang sangat inspiratif.
 
“Gus Dur itu orangnya sangat bijaksana, dia orang yang mengagumkan. Meskipun menjabat sebagai presiden, bukan militeristik,” kata Romo Kepala di Gereja Katolik Paroki Surabaya ini, Ahad (8/9).
 
Pernyataan dari Romo Kepala Geraja itu bukan tanpa fakta. Pasalnya, hanya satu presiden yang pernah berkunjung ke gerejanya tersebut hingga saat ini, yakni ketika Gus Dur masih menjabat sebagai presiden.
 
“Hanya Gus Dur yang ke sini. Jadi setelah Gus Dur itu meresmikan masjid sebelah (masjid nasional Al-Akbar Surabaya, red), dia langsung ke sini untuk meresmikan gereja ini di hari yang sama,” kenangnya.
 
Tidak hanya itu, hubungan Gus Dur dengan umat Katolik juga dibuktikan dengan pengangkatan Romo Eko Budi Susilo yang nota bene merupakan Wakil Uskup di Indonesia sebagai anggota dari keluarganya.
 
“Jadi, Gus Dur itu orangnya memang benar-benar orang ramah, pluralismenya tidak perlu diragukan lagi, ini wakil uskup kami sudah diangkat sebagai keluarga. Kami kagum kepadanya dan kami sangat merindukannya,” ungkap kepala gereja berdarah Jawa tersebut.
 
Lebih dari itu, ia menganggap bahwa Nahdlatul Ulama (NU) dan Katolik merupakan wadah agama yang sama-sama menekankan toleransi terhadap para pengikut. Pasalnya Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari banyak suku dan agama.
 
“Kami umat Katolik dengan NU kalau berbicara soal nusantara, sama. Kami adalah saudara sesama manusia, dan kami sama-sama tidak menyukai kekerasan. Kami cinta damai sama dengan NU dengan Islam Nusantaranya,” paparnya.
 
Kerinduannya terhadap sosok Gus Dur sampai saat ini terus tertanam dengan merindukan pemimpin Indonesia bisa mewarisi semangatnya dalam berbangsa dan beragama, utamanya dalam segi pluralisme.
 
“Rindu sosok seperti Gus Dur sebagai presiden, tentunya ada. Dan semangat perjuangannya sudah tertanam dalam diri anak-anaknya,” tandasnya.
 
 
Pewarta: Ali Ya’lu
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG