IMG-LOGO
Nasional

Abdurrahman Wahid Center UI Diskusikan Rasisme dalam Novel A Mercy


Ahad 8 September 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Abdurrahman Wahid Center UI Diskusikan Rasisme dalam Novel A Mercy
Para peserta diskusi buku A Mercy karya Toni Morisson yang digelar oleh Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPHUI) di American Corner Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (6/9). (NU Online/Syakir NF)
Tangerang Selatan, NU Online
Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPHUI) menggelar Literashinta, program diskusi karya sastra, di American Corner Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (6/9).

Literashinta kedua ini membahas novel A Mercy karya Toni Morisson, seorang sastrawan sekaligus akademisi penulisan sastra dari Amerika Serikat.

Rosida Erowati, pengajar sastra di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai pengantar diskusi mengungkapkan bahwa Toni terlahir di masa ketika rasisme telah mengakar kuat, menjadi bagian dari struktur sosial Amerika di awal abad XX.

“Dan semua pengalaman ini ia tulis dan ia tujukan untuk satu hal, yakni untuk memahami kenapa rasisme terjadi dan apa dampak yang ditimbulkan oleh rasisme terhadap masyarakat, baik anggota masyarakat yang menjadi pelaku ataupun yang menjadi korban,” ujarnya.

Dalam wawancara The Times London tahun 1995, dua tahun setelah menerima penghargaan Nobel, Toni mengungkapkan bahwa ia memang menujukkan novel-novelnya untuk kaum Afrika-Amerika, tidak lebih. Jika kemudian novel-novel ini dibaca oleh masyarakat yang lebih luas, katanya, ia menganggapnya sebagai bonus.

“Ia melihat bahwa kaum Afrika-Amerika mengalami perbudakan dalam berbagai bidang, bahkan ketika dunia sudah berubah, mereka masih mengalami hal yang sama. Toni melihat ketidakadilan sosial ini merajalela karena whiteness/blackness yang menjadi sumber dikotomi telah melembaga dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat Amerika,” katanya.

Untuk keluar dari cara berpikir itu, lanjutnya, ia harus mencari akar dari permasalahannya. Itu sebabnya, ia memasuki sejarah, mengambil fakta-fakta di dalamnya, dan mengungkapkan kembali sebagai dunia kemungkinan dalam fiksinya.

Oleh karena itu, Toni memilih tokoh-tokoh utamanya dengan karakteristik fisik perempuan berkulit hitam, etnis Afrika-Amerika. Pemilihan sudut pandang ini, menurutnya, membuat Toni mampu melengkapi karakter-karakter yang ia ciptakan dengan pengalamannya sebagai perempuan Afrika-Amerika.

“Ia ingin memberikan suara pada yang tak sanggup bersuara—kelompok yang merasakan akibat perbudakan dan menanggung beban peradaban pada dirinya: perempuan Afrika-Amerika, dari berbagai tempat, beragam usia, yang ia mampatkan dalam tokoh-tokohnya,” ujar perempuan yang asli Surabaya itu.

Ia ingin tokoh-tokohnya yang mengalami ketidakadilan dan penindasan dalam berbagai bentuk, kemudian mendapatkan ruang pengadilan di hati sidang pembacanya. Selain itu, ia juga ingin mendapatkan keadilan puitik yang ditarik dari penilaian pembaca sebagai sang hakim, dari pikiran dan suara hati mereka.

“Pengadilan yang tak mungkin dibayangkan dapat terwujud dalam dunia nyata karena ia hanya berlaku bagi sidang pembaca yang sadar juga peka akan nilai kemanusiaan,” pungkasnya.

Sementara itu, Toni Doludea, peneliti di AWCPHUI melihat bahwa Florens yang lahir sebagai budak, tetapi dia punya peluang untuk mengambil keputusan sendiri yang jatuh cinta kepada siapapun. Ia bebas merdeka menentukan pilihannya.

Artinya, katanya, meskipun sistem demokrasi dan ekonomi pasar yang cenderung memberikan kebebasan kepada masyarakat Indonesia saat ini, jika ia tidak menentukan pilihannya sendiri sejatinya tengah diperbudak.

“Masyarakat sekarang itu diperbudak juga kan oleh sistem ekonomi. Bahkan apa yang disebut dengan demokrasi sebenarnya itu bisa jadi membatasi kita,” katanya dalam diskusi yang diikuti oleh puluhan orang dari berbagai kalangan, seperti mahasiswa, dosen, hingga guru.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa masyarakat Indonesia harus mampu menentukan pilihannya sendiri secara personal dan eksistensial.

Adapun Risma Itawari, staf American Corner Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengungkapkan bahwa pihaknya sangat terbuka jika kelompok ingin berdiskusi di tempatnya.

Pewarta : Syakir NF
Editor : Abdullah Alawi
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG