IMG-LOGO
Daerah

Sambut Muharram, Fatayat NU Majalengka Santuni Yatim

Senin 9 September 2019 21:15 WIB
Bagikan:
Sambut Muharram, Fatayat NU Majalengka Santuni Yatim
Fatayat NU Majalengka menggelar santunan yatim dalam rangka Muharram (foto: NU Online/Tata Irawan)
Majalengka, NU Online
Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Majalengka, Jawa Barat mengadakan santunan anak yatim dalam rangka Peringatan Asyura atau 10 Muharraman pada Ahad (08/09) di Majlis Taklim Al-Hikam Kapur, Jatiwangi, Majalengka. 
 
Ketua Fatayat NU Kabupaten Majalengka, Hj Upik Rofikoh, menyebut kegiatan santunan yatim tersebut merupakan agenda rutin Fatayat NU yang digelar setiap tahun untuk memeriahkan tahun baru Islam.
 
"Ini aksi nyata kepedulian sosial kami untuk berbagi kepada anak-anak yatim, sedikit membantu untuk meringankan beban orang-orang yang tidak mampu," ujarnya.
 
Fatayat NU berharap Tahun Baru Islam kali ini betul-betul bisa menjadi titik tolak untuk memperkuat sensitifitas kemanusiaan, antara lain melalui aksi-aksi sosial yang nyata semacam ini. 
 
Lebih jauh, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan itu menyebut sensitifitas kemanusiaan yang terasah dengan baik akan turut membangun solidaritas yang kuat antar sesama elemen dan golongan. Hal itulah yang akan turut meredam konflik atau gesekan sosial yang dipicu oleh isu-isu suku, ras, dan Agama (SARA) yang akhir-akhir ada kecenderungan kembali menguat lagi.  
 
"Kita punya tugas bersama untuk terus menguatkan solidaritas antar elemen bangsa dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa," tuturnya. 
 
Fatayat NU Majalengka sendiri manegaskan akan berdiri di depan menghalau segala bentuk ideologi dan gerakan-gerakan yang mempunyai niat buruk untuk memecah belah bangsa ini.
 
Kegiatan santunan Yatim ini juga didukung oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) Kecamatan Jatiwangi dan Majlis Taklim Al-Hikam Kapur Jatiwangi.
 
Kontributor: Tata Irawan
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Senin 9 September 2019 23:45 WIB
Terima Mahasiswa Baru, ITSNU Pekalongan Gelar Kuliah Perdana
Terima Mahasiswa Baru, ITSNU Pekalongan Gelar Kuliah Perdana
Mahasiswa baru ITSNU Pekalongan, Jateng. (Foto: NU Online/Muiz)
Pekalongan, NU Online
Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, memulai kuliah untuk mahasiswa baru yang terdaftar pada tahun akademik 2019/2020 di Kampus ITSNU Jalan Raya Karangdowo, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Senin (9/9).
 
Pembukaan kuliah yang diawali dengan kuliah umum pada Ahad (8/9) oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Hanif Saha Ghofur diikuti oleh seluruh mahasiswa, dosen, dan tamu undangan yang hadir.
 
Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan H Lukman Hakim kepada NU Online mengatakan, ITSNU yang didirikan pada tahun 2018 telah menerima mahasiswa baru untuk tahun akademik 2019/2020 sebanyak 280 mahasiswa melalui jalur reguler dan bidik misi.
 
“Pada kuliah perdana kemarin telah dikukuhkan menjadi mahasiswa baru sebanyak 124 orang melalui jalur reguler. Sedangkan untuk jalur bidik misi 156 mahasiswa akan dimulai kuliah pada akhir September,” ujarnya.
 
Dikatakan, saat ini PCNU Kabupaten Pekalongan memiliki dua perguruan tinggi, yakni ITSNU dan Politeknik. Ke depannya kedua lembaga ini akan digabung menjadi satu lembaga pendidikan tinggi berupa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU).
 
“Sambil menunggu selesainya pembangunan gedung perkuliahan, kedua lembaga ini tetap berjalan sesuai kondisi saat ini. Pada masanya nanti setelah pembangunan fisik dan sarpras lainnya siap, maka rencana penggabungan direalisasikan,” tandasnya. 
 
Target IPM Naik
Bupati Pekalongan, H Asif Kholbihi, mendorong dan mendukung berdirinya perguruan tinggi di Kabupaten Pekalongan. Bupati menargetkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 70 pada tahun 2021. 
 
“Saya berharap kedua lembaga yang dimiliki PCNU Kabupaten Pekalongan bisa mewujudkan 70 IPM pada tahun 2021. Karena indeks partisipasi perguruan tinggi masyarakat Kabupaten Pekalongan masih di bawah nasional dan provinsi,” jelas Asif. 
 
Dikatakan, angka partisipasi masyarakat Kabupaten Pekalongan saat ini pada perguruan tinggi agama sekitar 33 persen, sedangkan untuk perguruan tinggi umum sekitar 30 persen.

“Dengan adanya lima perguruan tinggi di Kabupaten Pekalongan yakni ITSNU, Politeknik Pusmanu, UNDIP kelas jauh, IAIN, dan UMPP diharapkan angkanya bisa mendekati itu,” papar bupati asal PKB itu.
 
Sarjana berkarakter Aswaja
Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan KH Muslikh Khudlori mengatakan, lahirnya Perguruan Tinggi Umum NU di Pekalongan diharapkan bisa melahirkan para sarjana teknik yang berakidah dan berkarakter Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah.
 
“Kami berharap, kelak ITSNU dan Politeknik dapat melahirkan sarjana teknik yang berakidah ahlussunnah waljamaah an-nahdliyah,” ungkapnya.
 
Rektor ITSNU Pekalongan Miftahul Huda melaporkan, mahasiswa baru angkatan tahun pertama ITSNU Pekalongan sudah ada 124 orang. Diperkirakan akan bertambah dengan adanya beasiswa Bidik Misi pada akhir September 2019. Ditargetkan sampai 280 mahasiswa untuk empat prodi jenjang Strata I, yakni Teknologi Informasi, Teknologi Komputer, Teknologi Industri, dan Fisika.
 
“Hingga pengukuhan mahasiswa baru, ada 124 mahasiswa yang resmi mengikuti kuliah umum. Sedangkan pada akhir September mendatang diharapkan ada tambahan hingga sampai 280 mahasiswa,” ungkapnya. 
 
Dalam kuliah umum, Ketua PBNU H Hanif Saha Ghofur mengatakan, menjadi mahasiswa ke depan potensinya besar, namun perguruan tinggi ke depan juga akan semakin mahal biayanya, sehingga dukungan beasiswa sangat dibutuhkan. 
 
“Namun jangan hanya andalkan beasiswa saja, supaya usaha untuk mendapatkan beasiswa dipertahankan ke depan tapi jangan hanya mengandalkan beasiswa. Perguruan tinggi terus menerus memperoleh mahasiswa di luar beasiswa,” katanya.
 
Ia berpesan ke depan ada tiga hal penting yang harus diperhatikan, yakni mutu, pendidikan karakter, dan kewirausahaan.
 
Dalam pembukaan kuliah, PCNU menyerahkan beasiswa aghniya sebesar Rp200 juta kepada 20 mahasiswa. Beasiswa aghniya ini dikumpulkan oleh PC LAZISNU dari aghniya melalui 'Program 1 sarjana sebulan Rp100 ribu'. 
 
Hadir pada acara kuliah perdana, Ketua PBNU H Hanief Saha Ghofur, Bupati Pekalongan, H Asip Kholbihi, Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Hj Hindun, Ketua PWNU Jawa Tengah, HM Muzammil, dan anggota DPRRI FKB Dapil X H Bisri Romly.
 
Pewarta: Muiz
Editor: Musthofa Asrori
 
Senin 9 September 2019 22:15 WIB
33 Pesilat Kendal Jadi Pasukan Inti Pagar Nusa
33 Pesilat Kendal Jadi Pasukan Inti Pagar Nusa
Pendidikan dan Pelatihan Pasukan Inti (Diklat Pasti) yang digelar oleh Pengurus Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (PC PSNU Pagar Nusa) Kabupaten Kendal. (foto: NU Online/Muhammad Sulhanudin
Kendal, NU Online
Sebanyak 33 pesilat menyelesaikan Pendidikan dan Pelatihan Pasukan Inti (Diklat Pasti) yang digelar oleh Pengurus Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (PC PSNU Pagar Nusa) Kabupaten Kendal di Padepokan Ki Bodo, Sentul, Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah.

Ketua Pengurus Wilayah Pagar Nusa Jawa Tengah, Harun Heru Prasetyo mengatakan para pesilat yang telah menyelesaikan Diklat Pasti memiliki tanggung jawab untuk menjaga ulama dan negara bersama pasukan inti lainnya.
 
"Selamat bergabung menjadi pasukan inti Pagar Nusa. Apa yang telah sahabat dapatkan ini bukan hanya untuk perlindungan diri, tapi sahabat semua punya tanggungjawab untuk menjaga ulama dan kia-kia NU. Bahkan manakala negara membutuhkan kalian harus siap," pesan Harun kepada para pesilat saat menutup kegiatan, Ahad (8/9).

Menurut Isro'i, ketua panitia, Diklat Pasti yang dilangsungkan selama tiga hari ini diikuti para pesilat delegasi dari berbagai anak cabang di Kabupaten Kendal. Selain itu, sejumlah peserta berasal dari kabupaten lain, seperti Magelang, Grobogan, Semarang, dan Batang.  
 
Dikatakannya, untuk mengikuti kegiatan ini peserta harus mendapatkan rekomendasi dari pengurus anak cabang untuk peserta lokal dan pengurus cabang asal bagi yang berasal dari luar Kabupaten Kendal.
 
"Peserta adalah pesilat-pesilat yang sudah terpilih dan direkomendasikan oleh pengurus di mana mereka berdomisili. Seleksi ini kami terapkan secara ketat karena selesai diklat ini mereka akan bergabung dengan pasukan inti Pagar Nusa," terang Isro'i.
 
Selain materi pencak silat, peserta juga dibekali dengan materi Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja), ke-NU-an, Wawasan Kebangsaan dan teknik intelejensi. Instruktur berasal dari pengurus cabang, dewan khos, dan juga para dewan pendekar senior. 
 
Tampak hadir KH R Gigik Kusiaji selaku Dewan Khos PC Pagar Nusa dan Muhammad Ulil Amri Ketua PC Ansor Kendal. Selain itu, juga anggota DPRD Kendal Hj Niken Larasari dan Muh Tommy Fadlurrahman. Sebagaimana diketahui, selain anggota dewan, Gus Tommy merupakan guru besar Padepokan Harimau Putih.

Masrur, Ketua PC Pagar Nusa Kendal, berharap dengan bertambahnya pasukan inti dapat meningatkan peran Pagar Nusa di masyarakat Kendal yang mayoritas warga NU. Menurutnya ulama dan kiai NU sebagai penjaga ajaran Aswaja menghadapi ancaman serius di tengah situasi kebangsaan yang marak dengan munculnya paham islam radikal dan intoleran. 
 
"Sekali lagi, menjadi pasukan inti bukan untuk gagah-gagahan, bukan untuk mencari musuh. Tapi kita semua punya tanggungjawab yang lebih besar untuk terus mengawal perjuangan para ulama dan kiai. Dan apa yang kita kerjakan ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban," tegas Masrur.
 
Kontributor: Muhammad Sulhanudin
Editor: Kendi Setiawan
 
Senin 9 September 2019 21:30 WIB
Jawaban Kasatkorcab Banser Sumenep Saat Ditanya Berapa Gaji di Ansor
Jawaban Kasatkorcab Banser Sumenep Saat Ditanya Berapa Gaji di Ansor
Pertemuan PAC Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (MDS RA) Pragaan, Jumat (6/9) malam di Desa Sentol Daya. (foto: NU Online/Achmad Khalilurrahman)
Sumenep, NU Online
Kepala Satuan Koordinasi Cabang Banser Sumenep, Jawa Timur, Naufan Hammam mengakui seseorang yang aktif di Ansor bakal menerima tantangan yang tidak ringan.
 
"Aktif di Ansor iitu tantangannya cukup berat,” kata Naufan Hammam pada acara rutinitas bulanan PAC Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor (MDS RA) Pragaan Jumat (6/9) malam di Desa Sentol Daya.
 
"Contohnya, untuk mengajak orang ikut PKD yang ditanyakan pasti, ‘Dapat apa?’ Malah kalau ikut Diklatsar pertanyaannya lebih berat, ‘Gajinya berapa?" tutur pria yang juga menjadi abdi negara di Kementerian Agama Sumenep.
 
Naufan lalu menceritakan apa yang akan dikatakannya jika dirinya ditanya soal mendapat gaji berapa. "Saya gajinya per jam. Satu jamnya 60. Jadi kalau dua jam ya 120, 120 menit tapi," selorohnya disambut tawa hadirin.
 
Hal senada disampaikan Moh Qudsi. Menurutnya sangat sulit untuk bisa mengaktifkan kegiatan di GP Ansor. "Meski demikian, semakin berat tantangan yang dihadapi, akan besar pula hadiah (pahala) yang bakal didapat," ujar Ketua PAC GP Ansor Pragaan ini.
 
Selain dikuti oleh para kader Gerakan Pemuda Ansor se-Kecamatan Pragaan, kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Kiai Hayatul Islam, pengasuh Pesantren Al-Ibrohimy Masaran Sentol Daya.
 
Usai pembacaan yasin dan tahlil, acara kemudian dilanjut dengan perampungan struktur Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Sentol Daya yang dipimpin oleh Khatibul Umam selaku ketua.​​
 
"Semoga semua pengurus yang baru saja dibentuk bisa terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan Ansor ke depan," harapnya.
 
Kontributor: Achmad Khalilurrahman
Editor: Kendi Setiawan
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG