IMG-LOGO
Internasional

Kampanye Boikot Produk Non-Muslim di Malaysia Timbulkan Polemik

Selasa 10 September 2019 14:45 WIB
Bagikan:
Kampanye Boikot Produk Non-Muslim di Malaysia Timbulkan Polemik
Ilustrasi: istockphoto.com
Kuala Lumpur, NU Online
Di Malaysia kini tengah ramai dengan sebuah kampanye boikot produk non-Muslim. Kampanye tersebut beredar di media sosial seperti Whatsapp Group dan Facebook menyerukan orang-orang Melayu memboikot barang-barang yang diproduksi non-Muslim, bahkan yang halal sekali pun.

Tidak hanya itu, kampanye juga menyerukan agar pasar-pasar minimarket yang dianggap dimiliki non-Muslim juga harus diboikot atau harus dihindari. Demikian dilaporkan South China Morning Post, Ahad (8/9).

Kampanye ini mengundang polemik di Malaysia. Seorang anggota keluarga kerajaan negara bagian Perak menggambarkan, kampanye boikot produk non-Muslim di Malaysia bak bom waktu yang berdetak dan siap meledak kapan saja.

Seorang profesor ekonomi di Sunway University, Ya Kim Leng, menilai, jika orang-orang mengikuti kampanye tersebut maka sektor halal yang mencakup makanan, minuman, dan kosmetik bisa terkena dampaknya.

Untuk tahun ini saja, dilaporkan industri makanan dan minuman yang melayani Muslim Malaysia diperkirakan bernilai 50 miliar hingga 55 miliar ringgit atau setara Rp 168-185 triliun. 

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad menghimbau agar rakyat Malaysia tidak ikut ambil bagian dalam kampanye tersebut. Menurutnya, upaya boikot seperti itu hanya akan menimbulkan kemarahan saja. 

“Boikot adalah senjata yang tidak efektif, (itu hanya) akan menimbulkan kemarahan. Jangan memboikot siapa pun, Bumiputra atau non-Bumiputra,” katanya, merujuk pada etnis Melayu dan penduduk asli di Malaysia.

Mahathir juga mengatakan, marah terhadap ras lain yang sukses karena kerja kerasnya tidak akan membantu ras Melayu di Malaysia. Ia mengingatkan, nasib suatu kaum berada di tangan kaum itu sendiri. Jika ingin sukses atau bisa bersaing, maka mereka harus bekerja lebih keras lagi.

“Orang Melayu harus sadar akan apa yang terjadi pada mereka. Sayangnya tidak. Mereka masih menolak bekerja. Orang Melayu bersedia menyerahkan pekerjaan kepada orang asing dan orang asing membanjiri negara kita. Tujuh juta orang asing ada di sini hari ini. Mereka sedang bekerja,” tulis Mahathir dalam sebuah blog.

“Nasib kita ada di tangan kita sendiri. Marah dengan orang lain tidak akan menyelesaikan masalah kita. Jumlah kita memang dikatakan meningkat. Tetapi mayoritas orang miskin tidak dapat bersaing dengan minoritas kaya,” lanjutnya. 

Kabinet Malaysia menganggap, kampanye boikot produk non-Muslim adalah hal yang tidak masuk akal. Menurut kabinet, kampanye itu bisa mengganggu harmoni nasional.

“Kabinet menolak sikap picik ini berdasarkan sentimen rasial yang digunakan oleh pihak-pihak tertentu, karena dapat mengganggu harmoni dan kemakmuran nasional," kata Kantor Perdana Menteri dalam sebuah pernyataan, dikutip dari laman Malay Mail, Rabu (4/9).

"Sebaliknya, rakyat diminta untuk mendukung kampanye pembelian barang-barang Malaysia, karena itu akan membawa manfaat bagi bangsa," lanjutnya. 

Kelompok veteran angkatan bersenjata Malaysia juga mengecam kampanye boikot produk non-Muslim tersebut. Mereka bahkan menyebut kampanye tersebut kekanak-kanakan. Presiden Asosiasi Patriot Nasional Datuk Mohamed Arshad Raji menuturkan, kampanye itu bisa menghambat kemajuan ekonomi Malaysia.

"Seruan seperti itu tidak masuk akal, bodoh, tidak dewasa, mengganggu, dan mengancam menghambat kemajuan secara ekonomi," kata Raji, diberitakan The Star, Ahad (8/9).

Peningkatan ketegangan rasial dan agama di Malaysia tidak bisa dilepaskan dari transformasi lanskap politik di negeri jiran tersebut. Kampanye boikot tersebut dinilai sebagai contoh ketegangan rasial dan agama yang telah mengganggu Koalisi Pakatan Harapan. Sebagaimana diketahui, pada pemilu Mei lalu Koalisi Pakatan Harapan berhasil mengalahkan Barisan Nasional yang memerintah selama 61 tahun.

Saat ini Organisasi Nasional Melayu Bersatu (Umno), partai terbesar di Koalisi Barisan Nasional, berada dalam barisan oposisi. Umno bekerja sama dengan Partai Islam se-Malaysia (PAS) untuk menghadapi Koalisi Pakatan Harapan. Koalisi pimpinan PM Mahathir Muhammad itu terdiri dari partai-partai Melayu, nasionalis, Islam dan China.
 
 
Pewarta: Muchlishon
Editor: Alhafiz Kurniawan
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 10 September 2019 14:30 WIB
Myanmar Bangun Fasilitas Pemerintahan di Bekas Perkampungan Rohingya
Myanmar Bangun Fasilitas Pemerintahan di Bekas Perkampungan Rohingya
Kamp transit Hla Poe Kaung dibangun di atas lahan yang sebelumnya merupakan dua kampung warga Rohingya, Haw Ri Tu Lar dan Thar Zay Kone. (bbc)
Jakarta, NU Online
Lebih dari 700 ribu etnis Rohingya meninggalkan kampung halamannya di negara bagian Rakhine, Myanmar, dan mengungsi ke Bangladesh setelah terjadi operasi militer yang dilakukan tentara Myanmar pada 25 Agustus 2017 lalu.

Setelah etnis Rohingya dipaksa pergi, pemerintah Myanmar menghancurkan perkampungan mereka dan kemudian membangun bangunan-bangunan pemerintahan, barak-barak polisi, dan kamp relokasi pengungsi. Demikian dilaporkan BBC, Selasa (10/9).

Ada empat lokasi yang dilaporkan dibangun sejumlah fasilitas pemerintahan di mana dulunya lokasi tersebut adalah wilayah perkampungan warga Rohingya. Berdasarkan analisa foto satelit yang dilakukan Institut Kebijakan Strategis Australia, setidaknya 40 persen perkampungan warga Rohingya yang hancur akibat operasi militer 2017 lalu telah dihancurkan total.

Di bekas perkampungan Rohingya juga dibangun kamp-kamp transit seperti kamp transit Hla Poe Kaung, sebuah kamp yang dilaporkan mampu untuk menampung hingga 25 ribu pengungsi Rohingya yang kembali.

Ironisnya, kamp tersebut dibangun di atas lahan yang sebelumnya merupakan dua kampung warga Rohingya, Haw Ri Tu Lar dan Thar Zay Kone, yang dihancurkan pada saat operasi militer pada 2017 lalu. Kamp yang dilaporkan kondisinya buruk–toilet umum rusak–ini menjadi tempat singgah sementara pengungsi Rohingya yang kembali sebelum mereka pindah ke permukiman permanen.

Begitupun dengan kamp relokasi Kyein Chaung. Sebuah kamp relokasi yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal jangka panjang untuk para pengungsi yang kembali. Kamp yang dibangun dengan dana Jepang dan India ini berdiri di lahan yang dulunya kampung Rohingya, Myar Zin. Penghancuran desa Rohingya ini dikonfirmasi pejabat setempat.

Dulu Myo Thu Gyi, wilayah di luar kota utama Maungdaw, memiliki penduduk Muslim lebih dari 8 ribu orang. Setelah operasi militer 2017, banyak rumah warga yang terbakar. Meski demikian, bangunan besar masih utuh dan pepohonan masih ada. Namun saat itu, wilayah tersebut disulap menjadi kompleks pemerintahan dan kepolisian.

Hal yang kurang lebih sama juga ditemui di Desa Inn Din. Dulu sekitar tiga perempat penduduk desa ini adalah Muslim dan sisanya adalah umat Buddha. Namun saat ini, tidak ada jejak umat Muslim di sana. Sebelumnya juga di desa ini berdiri rumah-rumah warga Rohingya dan pepohonan yang mengelilinya. Kini, itu semua digantikan dengan pagar kawat yang mengelilingi barak-barak baru Polisi Penjaga Perbatasan.

Belum ada respons resmi dari pemerintah Myanmar terhadap beberapa temuan tersebut di atas.

Dulu mayoritas penduduk Maungdaw dan Buthidaung–dua distrik di perbatasan–adalah Muslim. Namun setelah wilayah tersebut dihancurkan pada operasi militer 2017, umat Muslim menjadi minoritas di sana. Diperkirakan, umat Muslim di sana hanya tersisa 10 persen dari populasi awal.
 

Pewarta: Muchlishon
Editor: Alhafiz Kurniawan
Selasa 10 September 2019 10:15 WIB
Sepak Bola Satukan Pelajar Indonesia dari Beragam Organisasi di Jerman
Sepak Bola Satukan Pelajar Indonesia dari Beragam Organisasi di Jerman
Pelajar Indonesia di Jerman dari berbagai latar organisasi jalin kebersamaan melalui pertandingan sepak bola persahabatan. (Foto: NU Online/Ahmad Sahal Mahfudz)
Berlin, NU Online
Silaturahim dan nilai-nilai kebangsaan perlu terus dirajut, tak terkecuali bagi dan oleh para pelajar Indonesia di luar negeri. PCINU Jerman menggunakan cara kreatif untuk mewujudkan hal itu. Salah satunya pada Sabtu 31 Agustus 2019 lalu, dengan mengadakan pertandingan sepak bola persahabatan.
 
Pertandingan bertempat di Poststadion Lehrterstrasse, Kota Berlin dengan mengundang beberapa perwakilan organisasi lainnya di Berlin seperti PCI Muhammadiyah Jeman Raya, PCI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) NU Jerman, Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI) Berlin, serta Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belin Brandenburg.  
 
Pertandingan sepakbola yang dihadiri sekitar 40 orang. Selain itu, hadir juga anak-anak, remaja, bahkan orang tua untuk menonton dan menikmati pertandingan. Pertandingan yang berjalan dengan rileks ini dimulai dengan membagi pemain menjadi dua tim yang mesti mewakili berbagai macam golongan agar nuansa kebersamaan semakin terasa.
 
Pertandingan persahabatan dimulai pukul 08.00 sampai 11.30 waktu Berlin berlangsung dengan meriah, penuh keceriaan, dan sesekali diselingi dengan canda tawa antar pemain dan penonton.  
 
Kegiatan silaturahmi antarorganisasi masyarakat (ormas) Indonesia melalui olahraga bola ini merupakan yang kedua kalinya di tahun 2019.  Gagasan kegiatan ini berawal sejak bulan Maret lalu ketika Andri Hutari, Sekjen PCI Muhammadiyah Jerman Raya, menunjukkan sebuah publikasi berjudul 'Friendly Match PCINU Saudi vs PCI Muhammadiyah Saudi'.
 
Gagasan ini disambut hangat oleh PCI NU Jerman dengan mengajak PPI Berlin Brandenburg serta PCI PMII Jerman untuk ikut bergabung bersama pada Sabtu 23 Maret 2019. Di samping itu, kegiatan ini juga berfungsi sebagai pendingin suasana Pilpres saat itu. 
 
Perwakilan dari berbagai organisasi yang menghadiri pertandingan persahabatan sepak bola sebagian besar memberikan pendapat positif terkait keseluruhan kegiatan ini. Satu harapan dari hadirin yaitu semoga kegiatan positif ini bisa lebih meluas membawa lebih banyak lagi elemen masyarakat Indonesia untuk ikut bergabung, serta agar dapat dilaksanakan dua sampai empat kali dalam setahun. 
 
Sejumlah komentar positif datang dari beberapa perwakilan organisasi yang hadir. "Friendly match kali ini seru banget, karena kita bisa kumpul dari berbagai organisasi buat olahraga bareng sekaligus mempererat tali silahturahmi. Semoga ke depannya kita terus ada acara-acara bareng lagi," kata Daniel Yanuar, Koordinator KMKI Berlin.
 
Wakil Ketua Tanfidz PCI NU Jerman, Husein mengatakan, "Di lapangan ada orang Jawa, Sunda, Batak dan lainnya. Ada keturunan Arab, keturunan China dan lainnya. Ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik, dan lainnya. Indonesia dan sepak bola menyatukan kita semua."

Sementara itu Ahmad Muktaf Haifani, Ketua PCI Muhammadiyah Jerman Raya berkomentar, "Bersama sepak bola menyatukan hati, jiwa, dan persahabatan. Warna boleh beda, tapi tujuan tetap satu. Goal."

"Asik senang semoga bisa terus berlanjut sekaligus bersilaturahmi," imbuh Muhammad Mulahela, anggota PCI PMII Jerman.
 
"(Ini adalah) ajang olahraga untuk mempersatukan masyarakat indonesia di Berlin, harus lebih sering," timpal Alwan, Kepala Departmen Olahraga PPI Berlin.
 
"Kebersamaan dalam suatu tim seperti dalam sebuah permainan sepak bola; merupakan syarat mutlak untuk tim tersebut bisa unggul. Sementara itu, kebersamaan atau tim dalam kehidupan akan mampu mempersatukan kita, karena kebersamaan itu akan memberikan keamanan, saling dukung atau berkorban dan juga perasaan saling memiliki satu sama lain, sehingga pada akhirnya akan menumbuhkan rasa cinta kepada orang lain di sekeliling kita, yang buahnya adalah perdamaian abadi," ungkap Sari Firdaus, orang tua salah satu pemain. 
 
Ketua Lesbumi PCINU Jerman, Nova menilai kegiatan sepak bola bersama yang digagas PCINU dan didukung empat organisasi kemasyarakatan Indonesia lainnya di Berlin, memberikan angin segar dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan NKRI di Berlin khususnya dan Jerman pada umumnya.
 
"Sekali lagi, ini membuktikan tekad kuat PCINU untuk merangkul semua pihak, mewujudkan masyarakat yang damai untuk bersama-sama menciptakan Indonesia yang maju dan unggul secara SDM, kali ini lewat ajang yang sederhana, meriah dan menyenangkan," kata Nova.
 
 
Kontributor: Ahmad Sahal Mahfudz
Editor: Kendi Setiawan
Senin 9 September 2019 23:30 WIB
Jamaah Haji Rohmatul Ummah An-Nahdliyah Sidoarjo Bersiap Pulang
Jamaah Haji Rohmatul Ummah An-Nahdliyah Sidoarjo Bersiap Pulang
Sholehuddin berjabat tangan dengan pihak Saudi Airlines usai penimbangan koper. (Foto: NU Online/istimewa)
Madinah, NU Online
Sejumlah prosedur harus dituntaskan bagi jamaah haji yang telah menunaikan ibadah haji. Termasuk yang dilakukan Kelompok Bimbingan Ibadah (KBIH) Rohmatul Ummah an-Nahdliyah, Sidoarjo, Jawa Timur.
 
KBIH dimaksud adalah milik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo yang masuk kelompok terbang atau Kloter 70. 
 
Lewat surat elektronik yang diterima NU Online, Sholehuddin selaku Ketua Kloter 70 SUB menjelaskan telah melakukan pertemuan dengan ketua rombongan dengan didampingi Ketua KBIH H Abu Hamid dan seorang tim medis. Pertemuan dilakukan dalam rangka membahas kepulangan jamaah haji yang akan dilakukan pada Selasa (10/9) pagi pukul 11.10 waktu setempat.  
 
“Berarti jamaah  harus segera keluar dari hotel dan bergerak ke bandara pukul 06.00. Karena itu segala kesiapan dilakukan, termasuk penurunan dan penimbangan koper jamaah,” kata Sholehuddin, Ahad (8/9).
 
Dirinya juga dihubungi tim Saudi Airlines yang akan melakukan penimbangan koper jamaah asal Sidoarjo yang berjumlah 449. “Mereka adalah jamaah haji kloter 70 dari KBIH Rohmatul Ummah An-Nahdliyah milik PCNU Sidoarjo,” ungkapnya. 
 
Sesampai di hotel Amjad Al Ghrarra, Ketua Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sidoarjo itu juga menemui Koordinator Pekerja (Rais Ummal). Hal tersebut demi memastikan kesiapan Tim Saudi Airlines dan perusahaan logistik, juga pengangkut koper. 
 
Setelah menandatangani format semacam surat jalan, Sholehuddin berunding mengenai teknis penurunan dan penimbangan. Satu persatu koper diturunkan dari lantai, lalu ditimbang oleh tim. Beruntung barcode yang telah dibagikan semalam sudah tertempel di koper masing-masing jamaah, memudahkan proses input data dalam sistem. 
 
“Proses penimbangan meski secara umum berlangsung lancar, namun ada saja yang bermasalah karena tidak kurang dari sepuluh koper yang melebihi kapasitas 32  kilo gram,” jelasnya. 
 
Maka, tidak pandang siapa pemiliknya, termasuk koper salah seorang petugas yang menunjukkan angka 35 kilo gram, dengan segala konsekuensi harus dikurangi. “Ini sekaligus menjadi perhatian bagi seluruh jamaah agar tidak melanggar ketentuan barang bawaan,” katanya. 
 
Isi Koper Jamaah Dibatasi
Dalam edaran Saudi Airlines (SA) disebutkan bahwa koper jamaah tidak boleh melebihi kapasitas 32 kilo gram. Hal ini ditegaskan pula oleh Umar, perwakilan SA yang mengawal jalannya proses penimbangan. Pihak penerbangan memang dengan tegas tidak akan mengangkut koper melebihi batas (overload). 
 
Sementara itu, menurut ketua kloter melalui pesan Whatsapp melaporkan, bahwa jamaah Kloter 70 dengan kedatangan di Arab Saudi berjumlah 450 orang, mutasi keluar dua orang, mutasi masuk satu orang dan satu orang lagi masih dirawat di Rumah Sakit Miqat. 
 
Kemungkinan yang bersangkutan tidak bisa pulang bersama kloter, mengingat Senin (9/9) masih akan dilakukan tindakan. "Tapi kami masih berharap takdir Allah dia bisa pulang yang bersama-sama," tutur Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya itu. 
 
Dengan demikian, jamaah Kloter 70 debarkasi Surabaya yang siap diberangkatkan ke tanah air berjumlah 448. Sedangkan koper berjumlah 449 buah. Satu koper milik pasien yang harus dimutasikan (tanazzul) pulang tunda bisa digabungkan bersama kloter awal. 
 
Ada kejadian yang cukup menegangkan. Sebuah koper denga over kapasitas 48 kilo gram, dibongkar paksa dengan cara khusus. Alat yang digunakan adalah sebuah pulpen. 
 
Tanpa harus merusak resliting, koper bisa dikembalikan seperti semula. “Hal ini dilakukan karena pemilik tidak kunjung turun, padahal truk pengangkut segera diberangkatkan. Ternyata sang pemilik tidak bisa segera turun karena lift penuh, bersamaan kembalinya jamaah haji dari masjid,” ungkapnya.
 
Sholehuddin menambahkan, jamaah haji Kloter 70 diperkirakan mendarat pada Rabu (11/9) pukul 01.00 dini hari, dan sampai di Asrama Haji Sukolilo Surabaya hingga proses pelepasan sebelum Subuh. 
 
“Dan kami berharap para haji bisa menjaga kemabruran yang ditandai dengan meningkatkan kesalihan ritual dan sosial,” pungkasnya.
 
 
Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Musthofa Asrori
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG