IMG-LOGO
Nasional
HARI SANTRI 2019

Ajang Penghargaan Santri of The Year 2019 Resmi Diluncurkan 

Kamis 12 September 2019 10:30 WIB
Bagikan:
Ajang Penghargaan Santri of The Year 2019 Resmi Diluncurkan 
Peluncuran Ajang Penghargaan Santri of The Year 2019, di Jakarta
Jakarta, NU Online
Peluncuran 'Penghargaan Santri of The Year 2019' resmi dilakukan oleh Islam Nusantara Center (INC) bekerjasama dengan Penerbit Pustaka Compass di Jakarta, Selasa (10/9).
 
Ajang penghargaan ini secara rutin setiap tahun telah digelar oleh INC dalam memperingati Hari Santri 22 Oktober. Hari santri menjadi momentum santri seluruh tanah air untuk membaca kembali karya-karya keilmuan dan sejarah peran besar ulama-santri dalam membangun bangsa dan negara Indonesia. 
 
Panitia Pelaksana, Zainul Wafa menjelaskan, ajang besar penghargaan untuk santri ini akan digelar pada 18 November 2019 di Perpustakaan Nasional RI Jakarta Pusat. "Jika tidak ada perubahan dan hambatan, Insyaallah rencananya akan dilaksanaman pertengahan November tanggal 18 di Perpusnas," ujarnya. 

Dikatakan, tujuan ajang penganugerahan Santri of The Year ini, pertama, agenda ini diadakan untuk menemukan dan menampilkan tokoh atau figur santri yang telah memberikan sumbangsih berupa gagasan inovatif dan kerja serta karya dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
 
“Kedua, mampu membangkitkan motivasi dan dapat memberikan keteladanan generasi bagi generasi muda serta masyarakat umum untuk lebih giat membangun bangsa dan negaranya,” tandasnya.
 
Dalam rilis yang diterima NU Online, Kamis (12/9) dijelaskan, hingga hari ini santri masuk dan mengisi ruang-ruang dalam berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan sosial, keagamaan, pers, media, militer, politik bahkan hingga ke parlemen dan pemerintah. Tidak sedikit dari mereka yang mengharumkan nama santri.
 
"Di sini akan ditemukan komitmen kebangsaan kaum santri yang tak terbantahkan. 
Perjuangan kaum santri terus berlanjut dan menyebar di ruang-ruang berbagai bidang kehidupan. Seperti pendidikan, ekonomi, sosial-agama, politik, budaya, dll," ungkapnya. 
 
Dikatakan, kaum santri di Indonesia mengalami perkembangan yang mengesankan. Ini dapat menjadi refleksi santri masa kini untuk mengikuti suri tauladan akhlak mulia dan meneruskan perjuangannya.
 
"Mereka yang mendapatkan Santri of The Year bukanlah orang yang paling hebat di antara lainnya, tetapi mereka adalah yang mampu memberikan inspirasi kepada orang lain," tegasnya. 
 
ke depan lanjutnya, agenda ini akan menjadi sebuah penghargaan yang bergengsi dan kredibel sehingga ini bisa menjadi sebuah indikator bahwa santri memiliki banyak kemampuan dan keterampilan di luar bidang keagamaan.
 
Zaenul Wafa menjelaskan, ada empat belas kategori nominasi yang dipilih untuk mendapatkan penghargaan, yaitu Santri Inspirasi Bidang Seni dan Budaya, Santri Inspirasi Bidang Pendampingan Umat (Dakwah), Santri Inspirasi Bidang Pendidikan, Santri Inspirasi Bidang Wirausaha, Santri Inspirasi Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintah tingkat Provinsi, dan Santri Inspirasi Bidang Kepemimpinan dalam Pemerintah tingkat kabupaten/kota.
 
Selanjutnya, Pesantren Salaf Inspiratif, Pesantren Modern Inspiratif, Pesantren Takhasus, Pesantren Enterpreneur Inspiratif, Santri Berprestasi Tingkat Internasional, Pahlawan Santri, Santri Mengabdi Sepanjang Hayat, dan Mahasantri Bhakti Negeri.
 
"Saat ini, panitia sedang melakukan survei dan penelitian untuk menentukan siapa saja yang masuk dalam nominasi tersebut. Masyarakat juga bisa mengusulkan nama-nama tokoh santri yang layak mendapatkan penghargaan tersebut berserta sesuai dengan kategori dan alasannya," tukasnya.
 
Zaenul meminta, nama-nama usulan bisa dikirim ke akun media sosial Islam Nusantara Center. Facebook Islam Nusantara Center INC, @islamnusantaracenter (IG) @IslamNusantaraC (Twitter), 081384478968 (WhatsApps).
 
"Setelah terpilih nama-nama tokoh santri, panitia akan membuka polling di website resmi INC, www.jaringansantri.com. di sini, semua masyarakat dapat terlibat dalam menentukan siapa yang akan terpilih santri of the year 2019," tutupnya.
 
Editor: Abdul Muiz
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 12 September 2019 23:15 WIB
Gus Mus: Mbah Moen Saudaranya Sekemanusiaan
Gus Mus: Mbah Moen Saudaranya Sekemanusiaan
KH Ahmad Musthofa Bisri (Foto: NU Online/Ahmad Asmui)
Rembang, NU Online
Salah satu sikap yang dapat diambil contoh dari KH maimoen Zubair adalah tidak membeda-bedakan sesama umat manusia. Karena teman Mbah Moen bukan hanya se-NU, bukan hanya se-Partai, bukan hanya se-Muslim, tetapi juga se-manusia.
 
"Mbah Moen itu bukan hanya di lingkungan NU, lingkungan partai, lingkungan muslim saja, akan tetapi lebih dari itu, semua umat manusia dirangkul dan tidak membeda-bedakan," ucapnya.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh Rembang KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam acara Mengenang Kiai Bangsa, peringatan 40 Hari KH Maimoen Zubair dan peluncuran Buku Antologi Puisi Bersama Selasa di Pekuburan Ma'la, di Rembang, Kamis (12/9) malam.

Dalam kesempatan KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) membeberkan cuplikan sosok ulama milik bangsa itu, bangsa Indonesia saat ini sedang berduka, karena belum ada 40 hari sudah ada 2 ulama yang wafat.
 
Ulama dimaksud adalah Mbah Moen, dan Presiden ke–3 RI BJ Habibie yang disebut Gus Mus BJ Habibie Al-Ulama. 
 
Belum sampai 40 hari sudah ada dua orang alim yang wafat, yang pertama KH Maimoen Zubair telah wafat lagi seorang alim Presiden Republik Indonesia ke-3 Bapak BJ Habibie. 
 
"Saya dan santri menyambut para penyair yang memprakarsai kegiatan ini. ada penyair dari Kalimantan, Sumatra, Jawa barat, Bali, dan para penyair nasional datang semua kalih ini,” kata Gus Mus.
 
Lebih lanjut ia sampaikan, banyak masyarakat di berbagai daerah, di berbagai pondok pesantren, dan di berbagai provinsi menggelar doa bersama bertepatan hari ke-40 mangkatnya ulama karismatik yang dimiliki Kabupaten Rembang itu.

"Sekarang orang pada menangisi kehilangan KH Maimoen. Di mana-mana ada yang shalawatan, ada yang tahlilan di mana mana. Di sini ada yang menyampaikan ungkapan kehilangan melalui syair. Kalau semua sudah habis diambil semuanya semuanya pada bingung, maka orang bodoh akan dimintai fatwa. Maka cirinya orang bodoh adalah suka mengeluarkan fatwa,” tambah Gus Mus.
 
Baginya, Mbah Moen ilmunya bukan hanya dari ucapan, perbuatan ataupun prilakunya saja. Tetapi, pada diri Mbah Moen merupakan segalanya.
 
 “KH Maimoen Zubar itu ilmunya tidak hanya pada ucapannya, tidak hanya pada perbuatannya, tetapi pada dirinya. Maka tidak heran kalau seluruh Indonesia yang santri atau tidak, yang nasionalis yang biasa pasti akan diterima oleh Mbah Moen,” bebernya. 

Buku yang diluncurkan bersamaan peringatan 40 hari Mbah Moen mengkisahkan tentang Mbah Moen, merupakan karya para penyair nusantara. Acara tersebut juga dihadiri oleh ribuan santri dan penyair dari penjuru Indonesia.
 
Dalam kesempatan itu, juga hadir Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) KH Lukman Hakim Saifudin, putra Mbah Moen Gus Ghofur, dan para tokoh dari sejumlah pesantren yang ada di Jawa.
 
Kontributor: Ahmad Asmui
Editor: Abdul Muiz
Kamis 12 September 2019 22:30 WIB
Aklamasi, Ketua LPBINU Jadi Ketua Umum Humanitarian Forum Indonesia
Aklamasi, Ketua LPBINU Jadi Ketua Umum Humanitarian Forum Indonesia
Ketua LPBINU Ali Yusuf (kedua dari kanan) terpilih sebagai Ketua Humanitarian Forum Indonesia (HFI) pada Rapat Umum HFI di Yogyarakta, Kamis (12/9).
Yogyakarta, NU Online
Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) M Ali Yusuf terpilih menjadi Ketua Umum Humanitarian Forum Indonesia (HFI) periode 2019-202. Ali Yusuf terpilih secara aklamasi pada rapat umum 2019 yang digelar di gedung Pusat Rehabilitasi YAKKUM Yogyakarta, Kamis (12/19).
 
Dalam sambutannya, Ali menyampaikan bahwa Humanitarian Forum Indonesia (HFI) adalah sebuah forum lembaga-lembaga kemanusiaan berbasis interfaith. HFI sejak awal berdirinya juga telah bergerak untuk membangun dialog dan mendorong kerjasama lintas iman dalam pelayanan kemanusiaan.
 
"Semua agama tentu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, karenanya agama tidak boleh menjadi pemicu munculnya persoalan-persoalan kemanusiaan. Akan tetapi justru agama harus tampil sebagai penyelesai setiap persoalan kemanusiaan harus mampu dijawab dengan baik oleh agama," papar Ali.
 
Menurutnya, persoalan kemanusiaan saat ini semakin kompleks sehingga dibutuhkan penanganan yang efektif dan komprehensif. "Dan ini tidak mungkin dilakukan hanya oleh satu pihak atau satu kelompok saja. Di sinilah letak penting kerjasama Lembaga-lembaga berbasis interfaith dalam melakukan aksi kemanusiaan," ungkapnya.

Pria kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur itu mengatakan bahwa terselenggaranya Rapat Umum Anggota HFI 2019 ini untuk memperbarui struktur kepengurusannya. Selain itu, ke depan HFI diharapkan dapat lebih berperan dan memperbesar kontribusinya bagi upaya peningkatan kolaborasi lintas iman dalam merespon setiap persoalan kemanusiaan.
 
"Komitmen dan dukungan dari seluruh anggota harus lebih ditingkatkan lagi untuk mewujudkan harapan tersebut," ujarnya.
 
Adapun anggota HFI terdiri dari Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), Dompet Dhuafa, Wahana Visi Indonesia (WVI), Yakkum Emergency Unit (YEU), KARINA (Caritas Indonesia), Perkumpulan Peningkatan Keberdayaan Masyarakat (PPKM), PKPU, Church World Services (CWS) Indonesia, Habitat for Humanity Indonesia (HfHI), Unit Pengurangan Risiko Bencana Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PRB-PGI), Rebana Indonesia, Rumah Zakat (RZ), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), dan BaznasTanggap Bencana (BTB).
 
Kontributor: Anty Husnawati
Editor: Kendi Setiawan

 
Kamis 12 September 2019 22:15 WIB
Kiai Said Sebut Indonesia sebagai Bangsa yang Berkarakter
Kiai Said Sebut Indonesia sebagai Bangsa yang Berkarakter
KH Said Aqil Siroj (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) KH Said Aqil Siroj menekankan pentingnya akhlak yang mulia. Pasalnya, jika masyarakat memiliki akhlak yang mulia, maka akan melahirkan bangsa yang bermartabat dan berkarakter.
 
"Sebenarnya kita, bangsa Indonesia nature-nya bangsa yang berkarakter, berbudaya," kata Kiai Said saat mengisi seminar bertajuk 'Selamatkan Indonesia dari Radikalis, Teroris, dan Separatis' yang digelar LPOI di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (12/9).  
 
Menurut Kiai Said, bangsa Indonesia memiliki budaya yang tidak kalah baik dibandingkan dengan budaya yang ada di negara Timur Tengah. Untuk itu, pelajar Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan di Timur Tengah agar tidak minder dengan budayanya sendiri.
 
"Jadi ketika kita belajar ke Timur Tengah, mari kita bawa pulang ilmunya, bukan budayanya karena kami memiliki budaya yang sangat tinggi," ucapnya.
 
Begitu juga ketika pelajar Indonesia tengah mendalami ilmu pengetahuan di negara-negara barat, baik di Eopa atau Amerika, sudah seharusnya tidak membawa budaya barat ke Indonesia. Budaya barat, seperti minum alkohol tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Budaya Indonesia tidak membenarkan orang minum alkohol.
 
"Di sini Indonesia, Bung, bukan Amerika (yang membebaskan orang minum alkohol). Kita harus bangga budaya kita," jelasnya.
 
Menurutnya, puncak dari budaya bangsa Indonesia adalah sebagaimana yang digambarkan Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-An'am ayat 108: "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan (budaya) mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan".
 
"Al-Qur'an melarang keras kita mencaci-maki satu sama lain, mencaci maki budaya, peradabannya, norma-normanya, nilai-nilainya yang mereka (non-muslim) yakini, Al-Qur'an melarang keras, banyak ayat seperti itu," ucapnya.
 
Lebih lanjut Kiai Said menyatakan bahwa siapa pun yang menunjukkan perilaku yang menimbulkan keresahan di masyarakat dengan mengatasnamakan agama, maka disebut sebagai kezaliman.
 
"Yang paling zalim adalah orang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan Islam: membunuh, membakar, merusak dengan atas nama Islam. Tidak ada yang lebih zalim daripada itu (membuat kerusakan atas nama agama)," jelasnya.
 
Pewarta: Husni Sahal
Editor: Abdul Muiz 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG