IMG-LOGO
Nasional

Kajian Islam Nusantara Unusia Diminati Berbagai Kalangan

Jumat 13 September 2019 14:45 WIB
Bagikan:
Kajian Islam Nusantara Unusia Diminati Berbagai Kalangan
Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta Ahmad Suaedy saat memberikan sambutan saat Orientasi Akademik di Aula lantai 4, Unusia Jakarta Kampus A Matraman, Jumat (13/9).
Jakarta, NU Online
Program Studi Kajian Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta begitu diminati oleh berbagai kalangan.

Dekan Fakultas Islam Nusantara Ahmad Suaedy mengungkapkan bahwa program studi doktoral ini diikuti oleh dosen, birokrat, anggota legislatif, hingga pendeta.

"Ini ada pendeta, ada juga birokrat dan anggota legislatif," kata Suaedy saat menyampaikan orientasi akademik di Aula lantai 4, Unusia Jakarta Kampus A Matraman, Jalan Taman Amir Hamzah Jakarta, Jumat (13/9).

Peneliti minoritas Muslim di wilayah Asia Tenggara itu mengungkapkan bahwa sebagai suatu ilmu pengetahuan, kajian Islam Nusantara tidak dibatasi untuk dikaji oleh akademisi Muslim saja.

"Kalau ada non-Muslim kuliah di sini ya tidak masalah. Ini kan ilmu pengetahuan," ungkapnya.

Menurutnya, semua orang bebas belajar Islam tanpa memandang status keagamaannya, tanpa memaksa mereka juga untuk memeluk agama Islam. "Boleh belajar Islam juga, teologi Islam juga, tapi tidak ada kewajiban untuk masuk Islam," jelasnya.

Lebih lanjut, Suaedy juga menjelaskan bahwa penduduk Nusantara tidak homogen, melainkan heterogen, terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, dan agama. "Penduduknya plural, bergaul setara dengan lain secara politik dan sosial budaya," ujarnya.

Sementara itu, Ayatullah, bagian akademik Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta, mengungkapkan bahwa pada tahun ajaran baru ini, ada 17 mahasiswa program doktoral, 27 mahasiswa program magister, dan 10 mahasiswa program sarjana.

Saat ini, menurut Ayat, program doktoral studi Islam Nusantara sudah angkatan kedua, sementara program magister studi Islam Nusantara angkatan keenam. Adapun program sarjana baru angkatan pertama untuk masa studi 2019 ini.

Usai orientasi, para mahasiswa baru dan mahasiswa lama akan mengikuti studium generale dengan tema Menemukan dan Menyusun Peta Peradaban Islam Nusantara. Kegiatan ini akan diisi oleh Peneliti Sejarah Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie, Ahli Filologi Adib Misbahul Islam, dan Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Jakarta Ahmad Suaedy.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Fathoni Ahmad
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 13 September 2019 23:55 WIB
Ketum Fatayat NU: Generasi Berkualitas Lahir dari Orang Tua yang Unggul
Ketum Fatayat NU: Generasi Berkualitas Lahir dari Orang Tua yang Unggul
Ketum PP Fatayat NU Anggia Ermarini saat memberikan pengantar pada FGD di Hotel A-One di Kebun Sirih, Jakpus, Jumat (13/9). (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama, Anggia Ermarini menegaskan pentingnya membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas sesuai dengan cita-cita pemerintahan Jokowi lima periode mendatang. Untuk mewujudkan itu, perlu langkah-langkah sedini mungkin, yakni dimulai dengan membentuk rumah tangga yang berkualitas.
 
“Kita menariknya harus dari belakang, (yaitu) bagaimana menyiapkan generasi muda yang baik, yang berkualitas, (dengan cara) menyiapkan terlebih dahulu kualitas seorang ayah dan ibu agar menghasilkan generasi yang unggul pula,” kata Anggi saat memberikan sambutan pada (FGD) yang diadakan organisasinya di Hotel A-One di Kebun Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (13/9).

Sehingga menurut Anggia, batas perkawinan anak dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, khususnya dalam pasal 7 yang kini masih di bahas di DPR menjadi salah satu persoalan yang menjadi perhatian pihaknya.
 
“Kita sangat menyadari bahwa perkawinan bukan hanya sekadar menghalalkan hubungan antar laki-laki dan perempuan, tetapi membangun sebuah rumah tangga, mengantarkan nilai-nilai (yang baik) dari orang tua ke anaknya, dari keluarga ke lingkungan dan seterusnya, (yang puncaknya) nilai-nilai itu bisa membangun negara,” paparnya.
 
Ia menyatakan bahwa banyaknya kasus, seperti kekerasan seksual, kemiskinan, dan stunting yang menimpa perempuan dan anak disebabkan seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, belum matang dalam membangun rumah tangga.
 
“Mudah-mudahn dengan acara ini dapat masukan-masukan, terutama dalam konteks batas perkawinan anak untuk membantu kebijakan-kebiajakan yang bisa dilakukan negara, untuk bisa lebih menjawab lagi kebutuhan yang ada, sehingga tercipta generasi yang unggul,” ucapnya.
 
Sementara pengurus Fatayat NU yang lain, yang juga anggota DPR RI Hj Erma Siti Mukaromah menegaskan, pihaknya melalui parlemen akan terus memperjuangkan nasib perempuan dan anak. Apalagi, hasil pemilu legislatif 2019 yang lalu, anggota Fatayat NU yang lolos ke senayan sebanyak 7 orang.
 
FGD yang mengusung tema Sinergi Pemuda dalam Menyikapi Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Batas Usia Perkawinan ini dimoderatori Ulfi Ulfiah dan dihadiri empat pembicara, yaitu Sekretaris LBM PBNU Ustadz H Sarmidi Husna, Hakim Mahkamah Konstitusi Wahiduddin Adams, Kepala Subdit Kesehatan Usia Reproduksi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) Lovely Daisy, dan Ketua KPAI Susanto.
 
Seusai FGD, kegiatan dilanjut dengan dialog dan penyusunan rekomendasi yang dipandu oleh Ai Maryati Solihah.
 
Pewarta: Husni Sahal
Editor: Muhammad Faizin
Jumat 13 September 2019 21:4 WIB
Fatayat NU Tegaskan Isu Perempuan dan Anak sebagai Perhatian Utama
Fatayat NU Tegaskan Isu Perempuan dan Anak sebagai Perhatian Utama
Sekretaris Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah saat memberikan sambutan pada FGD yang diadakan organisasinya di Hotel A-One di Kebun Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (13/9). (Foto: Husni Sahal/NUO)
Jakarta, NU Online
Isu-isu pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, termasuk pemenuhan terhadap hak-hak perempuan dan anak telah menjadi perhatian utama Fatayat Nahdlatul Ulama. Inilah yang dibahas pada Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘'Sinergi Pemuda dalam Menyikapi Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Batas Usia Perkawinan' yang diselenggarakan organisasi badan otonom NU tersebut.
 
“Dan bicara soal perkawinan anak, berarti itu terkait dengan isu perlindungan anak yang juga menjadi perhatian kita,” kata Sekretaris Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah saat memberikan sambutan pada FGD yang diadakan organisasinya di Hotel A-One di Kebun Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (13/9).
 
Menurut Margaret, data terkait perkawinan anak di Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan data dari UNICEF, Indonesia menempati ranking ke-7 di dunia. Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015, perkawinan anak untuk usia 10-15 tahun sekitar 11 persen dan usia 16-18 tahun sekitar 32 persen.
 
“Jadi ini kemudian membuat kita mempunyai perhatian yang penuh karena di samping tingginya angka perkawinan anak, juga karena ada dampak negatif yang luar biasa, yang dialami oleh anak-anak yang melakukan perkawinan anak,” ucapnya.
 
Ia menyatakan bahwa terjadinya perkawinan anak dilatarbelakangi oleh berbagai hal, seperti pendidikan, sosial, dan budaya. Sementara dampaknya dirasakan oleh pelaku perkawinan anak, baik secara psikologis maupun kesehatan reproduksinya.
 
“Banyak angka perceraian pada perkawinan saat usia anak. Anak-anak belum siap membangun rumah tangga, kemudian harus berhadapan dengan usia muda yang pasangannya juga muda. Kemudian harus mengasuh anak di usia muda. Belum kondisi kesehatan reproduksinya, menjalani kehamilan, persalinan dan lain sebagainya,” paparnya.
 
FGD yang dimoderatori Ulfi Ulfiah ini dihadiri empat pembicara, yaitu Sekretaris LBM PBNU Ustadz H Sarmidi Husna, Hakim Mahkamah Konstitusi Wahiduddin Adams, Kepala Subdit Kesehatan Usia Reproduksi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) Lovely Daisy, dan Ketua KPAI Susanto.
 
Adapun peserta yang mengikuti diskusi ini berasal dari berbagai organisasi, seperti Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU, PP Muslimat NU, Kopri PB PMII, PP IPPNU, Wanita Budhis Indonesua (WBI), MUI Bidang Perempuan dan Remaja, Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), PP Nasyiatul Aisiyah, dan PP Aisiyah.
 
Pewarta: Husni Sahal
Editor: Muhammad Faizin
Jumat 13 September 2019 20:0 WIB
Menggerakkan Nahdliyin di Mimika Ketika Kondisi Tidak Menentu
Menggerakkan Nahdliyin di Mimika Ketika Kondisi Tidak Menentu
Bazar Kuliner Nusantara oleh IPNU-IPPNU Ranting Wanagon SP2. (Foto: NU Online/Sugiarso)
Mimika, NU Online
Perjuangan dan khidmah kepada Nahdlatul Ulama memang harus dilaksanakan secara istiqamah, semangat pantang menyerah, dan keberanian menambil risiko.
 
Hal ini dirasakan oleh para penggerak dan pengurus NU di akar rumput di Kabupaten Mimika, Papua, khususnya Jamaah Istighatsah An-Nahdliyyah, yang kondisi keamannya dalam status mengkawatirkan. Menyambut tahun baru Islam 1441 H di tengah suasa tegang, nahdliyin Mimika tetap menggelar kegiatan.
 
Berikut catatan kontributor NU Online, Sugiarso dari Mimika. Surat elektronik baru bisa dikirim Jumat (13/9) karena adanya pembatasan penggunaan internet.
 
Sambut Tahun Baru
Kegiatan dimulai di Masjid Al-Ikhlas, Kampung Kadun Jaya, KM10 pada Sabtu (31/8), sebelum Maghrib dengan menggelar mujanat doa akhir tahun. Acara doa dipimpin oleh Mbah Saean, sesepuh NU dari Wonosari Jaya. 
 
Bakda Shalat Magrib Mbah Saean melanjutkan memimpin munajat doa awal tahun. “Alhamdulillah kita bisa mengakhiri dan mengawali tahun di tempat mulia, yakni di masjid. Semoga semua dosa kita tahun yang sudah lewat diampuni Alla dan tahun ini kita bisa beramal yang lebih baik,” katanya usai mengantarkan doa awal tahun.
 
Acara dilanjutkan dengan khataman bin nadhar edisi 4. Hadir dalam kegiatan ini, pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama SP2, jamaah Kampung Mwuare, dan dari Kota Timika. Khataman menggunakan mushaf per juz. Ada sebagian juz yang bisa dibaca oleh lebih dari satu orang, khususnya jamaah yang bacaannya belum lancar. Dalam khataman ini, sebagian jamaah membawa takir janur kuning untuk menyambut Muharram.
 
Bakda Isya acara dilanjutkan dengan istighotsah yang dipimpin oleh Ustadz H Fadlan, Ketua Perwakilan Metode Belajar Membaca Al-Qur’an An-Nahdliyyah Cabang Mimika dengan singkat namun khusyuk. 
 
“Kita baca singkat namun berupaya untuk khusyuk mengingat malam ini banyak acara yang bersamaan,” terangnya. Acara dilanjutkan dengan tausiyah oleh Ustadz Abdul Aziz utusan dari Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi Jawa Timur.
 
“Makna sirathal mustaqim itu bukan jalan yang lurus kenceng tanpa berkelok-kelok seprti jalan tol. Namun maksudnya kita berjalan di dalam dan mengikuti alur jalan. Jika jalannya belok kiri, ya belok kiri. Bukan lurus terus saja malah akhirnya keluar jalan dan menabrak sesuatu di luar jalan. Maknanya kita berjalan di dalam koriodor syariat dan tuntunan para salafus shaleh,” urai ustadz bujang yang membantu mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Mimika. 
 
Pembacaan permintaan doa dari para jamaah untuk berbagai macam hajat dibacakan oleh Ketua Pengurus Pondok Pesantren Darussalam Mimika, Sugiarso. 
 
“Alhamdulillah infak spontan malam ini yang terkumpul 1 juta lebih untuk kemakmuran masjid dan Pondok Darussalam,” terangnya saat mengumumkan hasil infak spontan. Selesai pembacaan doa jamaah dilanjutan dengan penyampaian hajat malam 1 Muharam. 
 
“Malam ini jamaah ada yang sedekah dalam bentuk takiran artinya panataning pikir atau penataan pikiran sebagai simbol permohonan semoga tahun baru ini pikiran kita menjadi lebih tertata, tidak semrawut,” urainya. 
 
Menurutnya, ada waktu bekerja, ibadah, ada waktu keluarga dan sebagainya. Takir dibungkus dengan janur kuning artinyasajatinin nur, yakni Rasulullah SAW. Janur berwarna kuning artinya cahaya atau luhur atau tenang.
 
“Semoga kehidupan kita di tahun baru menjadi cahaya orang lain, mendapatkan ketenangan dan keluhuran akhlak,” urai Sugiarso yang juga penggelut sastra dan budaya Jawa ini.
 
Acara doa dipimpin oleh Ustadz Hasan dari Kampung Mwuare dan ditutup dengan potong tumpeng oleh H Mansyur selaku wakil tuan rumah.
 
Banyak Kegiatan
Malam tahun baru juga diisi dengan pengesahan anggota baru Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Mimika yang diadakan di halaman Masjid An-Nur, Soponyono, Kampung Wonosari Jaya. Dalam acara ini diisi dengan atraksi berpasangan dan kelompok para pedekar Pagar Nusa dan penyerahan sertifikat anggota oleh Ustadz Muhajir sebagai salah satu dewan guru Pagar Nusa Mimika.
 
Acara juga diisi dengan pengajian oleh Ustadz Hasyim Asy’ari dari Pesantren Darussalam Mimika, Kampung Mwuare. 
 
“Tugas Pagar Nusa adalah menjaga kiai, masyarakat, dan negara. Pagar Nusa adalah pagarnya Nusantara, pagar NKRI,” tegasnya. 
 
Menurutnya para muassis atau pendiri NU adalah pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional. “Kalian harus memperkuat pemahaman masalah NU agar kokoh dalam berpegangan kepada Aswaja An-Nahdliyah,” urainya.
 
Ahad (1/9) pagi atau satu Muharram, remaja NU yang tergabung dalam IPNU IPPNU Ranting Wanagon SP2 mengadakan kegiatan bazar kuliner nusantara. Momen ini untuk memanfaatkan kegiatan tabligh akbar warga Paguyuban Seruling Emas yang menghadirkan muballighah Mumpuni Handayayekti, pemegang Aksi Indosiar asal Cilacap. 
 
Tiga buah tenda kerucut dan dua buah tenda payung disiapkan untuk kegiatan bazar ini.
 
 
Pewarta: Sugiarso
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG