IMG-LOGO
Nasional

Mencari Peta Peradaban Islam Nusantara dari Naskah Kuno


Jumat 13 September 2019 19:15 WIB
Bagikan:
Mencari Peta Peradaban Islam Nusantara dari Naskah Kuno
Filolog Islam Nusantara Adib Misbahul Islam saat Studium General Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (13/9). (NU Online/Syakir NF)
Jakarta, NU Online
Naskah kuno atau disebut juga manuskrip tersebar di berbagai daerah di wilayah Nusantara. Terkait jumlahnya, tak dapat dipastikan karena saking banyaknya. Banyaknya manuskrip juga belum disentuh oleh para peneliti dan akademisi. Artinya, hal itu belum menjadi mainstream penelitian.

“Banyak naskah kuno yang masih bertebaran di berbagai wilayah yang belum terbuka,” ujar Adib Misbahul Islam, filolog Islam Nusantara, saat menjadi narasumber pada Studium General dengan tema Menemukan dan Menyusun Peta Peradaban Islam Nusantara di Aula Lantai 4 Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta Pusat, Jumat (13/9).

Adib mengaku sering terlibat untuk mencari naskah-naskah kuno di berbagai wilayah di Nusantara. Selain di kesultanan dan lembaga pendidikan seperti pesantren, naskah kuno juga banyak terdapat di tangan individu masyarakat.

“Yang masih di tangan masyarakat individu masih banyak. Dari Aceh, Kalimantan, Sulawesi selalu ada,” ungkapnya.

Pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu juga menerangkan bahwa naskah-naskah bisa ditemukan di wilayah yang dahulu terdapat pusat kekuasaan politik dan pusat pendidikan keagamaan.

“Ada pusat-pusat pernaskahan ada di pusat kekuasaan politik dalam hal ini kerajaan kesultanan dan pusat keagamaan dalam hal ini pesantren,” ujarnya.

Setelah naskah-naskah tersebut ditemukan, lanjutnya, harus dikaji secara mendalam dan membuat konstruksi sosial baru dari kajian tersebut. “Menyusun kembali dalam arti merekonstruksi sejarah sosial dari sekian manuskrip isinya sangat beragam,” katanya.

Ia mencontohkan saat berkunjung ke sebuah masjid peninggalan Kiai Nawawi Magetan, seorang ulama yang juga menjadi pasukan Diponegoro. Di situ, katanya, ditemukan berbagai kitab dari berbagai fan ilmu, seperti Tafsir Jalalain dari tafsir, Ummul Barahin dari tauhid, Muqaddimah al-Hadramiyah dari fiqihnya, dan sebagainya.

“Kalau kerja yang melakukan banyak semakin banyak kita terbitkan semakin banyak yang bisa kita rekonstruksi,” pungkasnya.

Menyambung Adib, Zainul Milal Bizawie, sejarahwan Islam Nusantara, juga menjelaskan bahwa naskah-naskah tersebut jangan hanya dikaji secara teksnya saja, melainkan juga harus diketahui konteksnya seperti apa. “Kalau dia akan meneliti teksnya saja tanpa tahu konteksnya itu akan beda, kesimpulannya akan salah,” kata penulis buku Masterpiece Islam Nusantara itu.

Kegiatan yang dipandu oleh pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta Ulil Abshar Hadrawi itu diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Unusia. Hadir pula mahasiswa Unusia dari fakultas dan program studi lainnya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Fathoni Ahmad
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG