Penjelasan Ketua NU Jatim tentang Ber-Islam secara Kaffah

Penjelasan Ketua NU Jatim tentang Ber-Islam secara Kaffah
Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar saat mengisi pengajian Muharram di Pekalongan, Jumat (13/9) (Foto: Abdul Muiz)
Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar saat mengisi pengajian Muharram di Pekalongan, Jumat (13/9) (Foto: Abdul Muiz)
Pekalongan, NU Online
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar mengatakan, saat ini masih sering kita jumpai di beberapa daerah tentang keyakinan adanya maha pengatur selain Allah SWT. Meski hanya sebagian kecil, kata Kiai Marzuki, hal itu akan sangat mengganggu kehidupan untuk beribadah kepada Allah secara total.
 
"Saya akui, di beberapa daerah umat Islam, meski berislam sejak kecil, ikut Nahdlatul Ulama, tapi masih percaya dengan model hitungan hari, jodoh, pernikahan, atau perdagangan mencari hari dan pasaran yang baik," ujarnya saat mengisi pengajian pada peringatan Tahun Baru Hijriah 1441 Hijriyah di Bendan Gang 2, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (13/9) malam.
 
Dikatakan, adanya kekuatan selain Allah yang dipercaya oleh masyarakat terutama di kampung-kampung menjadi tugas NU untuk meyakinkan mereka bahwa hanya Allah yang memiliki kekuatan dan penentu segala perjalanan hidup makhluk di dunia ini.
 
"Contohnya bulan Muharram bisa kita lihat sepi dari kegiatan hajatan pernikahan, khitanan, dan lain-lain karena (dianggap) akan menimbulkan bencana atau lainnya," tandasnya.
 
Disampaikan, jika memang tidak menggelar hajatan di bulan Muharram, tentu alasannya dibuat yang masuk akal. Misalnya, belum memilik dana yang cukup, anak belum rampung sekolahnya, atau alasan lainnya boleh asal tidak berkaitan dengan hal-hal yang tidak masuk akal.
 
"Jika alasan syari dan adab bisa saja tidak menggelar hajatan di bulan Muharram karena hormat ahlul bait yang kehilangan cucunya bernama Sayidina Husain itu baik, dan ini diperbolehkan," tegasnya.
 
Di NU lanjutnya, mengapa menyebut Islam Nusantara menjadi brand baru amaliah NU yang oleh sebagian pihak ajaran yang menyimpang, menurutnya karena mereka hanya melihat sisi kulitnya. Islam Nusantara adalah ajaran Islam ala Indonesia dengan tetap mempertahankan budaya dan tradisi yang telah diajarkan oleh para ulama salafus shalihin, bukan Islam ala lainya.
 
"Kita berkewajiban mengajak mereka yang belum sesuai dengan ajaran ala Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah secara bertahap melalui berbagai majelis untuk menjadi Islam yang kaffah," tuturnya.
 
Oleh karena itu, kita yang berkecimpung di organisasi warisan Mbah Hasyim Asy'ari memiliki kewajiban untuk meluruskan pendapat yang salah yang menjadi keyakinan sebagian warga sesuai dengan NU.
 
"Mari kita ajak mereka menjadi bagian dari rombongan besar Nahdlatul Ulama, agar selamat dunia dan akhirat," pungkasnya.
 
Pewarta: Abdul Muiz
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile