IMG-LOGO
Nasional

Menaker: Perjanjian Kerja Bersama Ciptakan Kenyamanan

Kamis 19 September 2019 9:0 WIB
Bagikan:
Menaker: Perjanjian Kerja Bersama Ciptakan Kenyamanan
Penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Periode 2019-2021 Antara Perusahaan dan Serikat Pekerja PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan PT Toyota Astra Motor (TAM) di Jakarta, Senin (16/9). (Foto: Kemnaker)
Jakarta, NU Online
Menteri Ketenagakerjaan, M Hanif Dhakiri, menyatakan bahwa Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tidak hanya berperan penting dalam pengaturan hubungan industrial di tempat kerja. Menaker Hanif menyebut bahwa PKB juga mampu ciptakan kenyamanan, kebahagiaan, dan kepuasan dalam bekerja.
 
"Perusahaan yang memiliki PKB itu 96 persen pekerjanya merasa puas. Ini artinya perusahaan dan serikat pekerja yang berhasil membuat PKB, itu sebagian besar pekerjanya merasa puas," kata Menaker Hanif saat memberikan sambutan dalam Penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Periode 2019-2021 Antara Perusahaan dan Serikat Pekerja PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan PT Toyota Astra Motor (TAM) di Jakarta, Senin (16/9).
 
Menaker menyebut, rasa bahagia, nyaman, dan puas tersebut lahir karena adanya pengaturan yang jelas dalam PKB. Baik menyangkut hak dan kewajiban antara pekerja dan pengusaha, maupun pengaturan terkait penyelesaian perselisihan.
 
"Sehingga kenyamanan dalam bekerja, level of happiness mereka dalam bekerja juga meningkat. Ini karena diatur secara jelas dalam PKB di perusahaan," kata Menaker Hanif.
 
Dalam kesempatan tersebut, Menaker menjelaskan PKB juga berfungsi sebagai sarana atau alat hubungan industrial yang dapat dipegang ketika terjadi suatu perselisihan karena PKB dibuat atas kesepakatan kedua belah pihak (pengusaha dan SP/SB).
 
Namun begitu, Menaker mengingatkan, dialog sosial jangan hanya dijadikan sebagai media komunikasi manakala ada perselisihan antar pihak saja.
 
"Dialog sosial harus terus dilakukan secara intens dengan berbagai media dan sarana komunikasi, untuk memupuk hubungan industrial yang harmonis," jelas Menaker.
 
Menaker juga menyampaikan apresiasi kepada manajemen dan SP/SB PT TMMIN dan PT TAM yang berhasil mewujudkan PKB ke-19 sejak perusahaan tersebut berdiri di Indonesia, atau PKB ke-8 sejak adanya pemisahan peran bisnis antara PT TMMIN dan PT TAM.
 
Capaian baik ini diharapkan menjadi teladan bagi perusahaan-perusahaan lain untuk menjadikan PKB dan dialog sosial sebagai budaya di lingkungan kerja.
 
"Ini suatu hal yang patut diapresiasi. Ketika hubungan industrial selalui didahului dengan dialog bipartit, itu akan lebih cepat dalam mencapai kesepakatan PKB," kata Menaker.
 
Presiden Direktur PT TMMIN, Warih Andang Tjahjono, mengatakan, PT TMMIN dan PT TAM berkomitmen untuk selalu memupuk hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan di lingkungan kerjanya.
 
"Kami selalu berkomitmen bahwa industrial relation itu seperti safety. Kita sudah bersama-sama komitmen, bahwa safety itu utama, maka hubungan industrial harmonis itu harus utama," terang Warih.
 
Ia menyampaikan bahwa pihaknya juga komitmen untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing pekerja PT TMMIN dan PT TAM, guna meningkatkan produktivitas usaha dan kesejahteraan pekerja.
 
"Ini adalah periode awal, mari terus mengevaluasi, agar ini tidak hanya terjadi di kita. Tapi juga supply chain kita," ujarnya.
 
Sementara itu, Ketua Umum KSP LEM PT Toyota Astra Motor, Dadang Sudarno, menyatakan bahwa pembuatan PKB Antara Manajemen Perusahaan dan SP/SB PT TMMIN dan PT TAM periode kali ini telah diawali dengan diskusi mengenai penerapan PKB periode sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kondisi ketenagakerjaan di masa depan.
 
Semua upaya tersebut, sebut Dadang, bertujuan untuk mendapat kondisi riil perusahaan dan pekerja, guna mewujudkan mutual understanding.
 
"Kami yakin dengan konsep ini kita akan menemukan solusi terbaik, untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dan kebahagiaan pekerja," ujarnya.
 
Turut hadir dalam penandatanganan PKB ini, Dirjen PHI dan Jamsos Kemnaker, Haiyani Rumondang; Kadisnakertrans Provinsi DKI Jakarta, Andri Yansyah; Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor, Yoshiro Nakata; dan Ketua PUK FSP LEM PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Aziz Syarif Hidayat.
 
Red: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 19 September 2019 19:30 WIB
Ini Penjelasan Logo Hari Santri 2019
Ini Penjelasan Logo Hari Santri 2019
Logo Hari Santri 2019 karya Muhammad Ainun Na’im (@mas_naim).
Jakarta, NU Online
Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) sebagai penyelenggara Sayembara Logo Hari Santri 2019 menjelaskan bahwa logo Hari Santri 2019 terbentuk dari kata “santri” yang ditulis aksara Arab. Kata “santri” membentuk sebuah logo yang menggambarkan kobaran api.

Kobaran api pada logo karya Muhammad Ainun Na’im (@mas_naim) menunjukkan semangat menyala kalangan santri dalam mengamalkan fatwa Resolusi Jihad NU dan semangat mereka dalam memelihara keutuhan NKRI demi mewujudkan Indonesia makmur dan sejahtera.

“Logo terdiri atas komposisi sejumlah warna. Gradasi warna biru dan hijau merupakan citra kesuburan dan kemakmuran Indonesia dengan kekayaan alam baik di laut maupun di darat,” kata salah satu dewan juri Sayembara Logo Hari Santri 2019, M Alfu Niam, mengutip ulang gagasan pembuat logo, kepada NU Online, Rabu (18/9).

Adapun warna emas, lanjutnya, yang menjadi titik pada logo itu menyiratkan santri sebagai generasi emas bangsa Indonesia dan penjaga tradisi keislaman dan keindonesiaan. “Warna emas dalam logo berjumlah lima titik yang menandai lima rukun Islam sebagai simbol keislaman dan menandai lima sila dasar negara sebagai simbol keindonesiaan,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, RMI NU telah mengumumkan juara sayembara logo atas nama Muhammad Ainun Na’im (@mas_naim). Juara sayembara berhak mendapatkan hadiah senilai Rp 5 juta.

Pihak panitia akan memberikan hadiah kepada Muhammad Ainun Na’im senilai Rp 5 juta berupa uang tunai sebesar Rp 3 juta dan suvenir senilai Rp 2 juta. Pihak panitia menjadikan karya pemenang sebagai logo Hari Santri 2019.

Pemilihan juara dilakukan setelah melalui sejumlah tahapan yang telah ditentukan oleh panitia. Pemilihan juara sayembara logo oleh dewan juri yang terdiri atas lima orang ini didasarkan pada pertimbangan dengan kriteria penilaian yang juga telah ditentukan. Perlu diketahui, ada 233 orang yang mengikuti Sayembara Logo Hari Santri 2019.

“Logo (pemenang) menjadi logo Hari Santri 2019 oleh PP RMI NU yang berlaku secara nasional. Keputusan tersebut final dan tidak bisa diganggu gugat serta mengikat,” kata dewan juri Sayembara Logo Hari Santri 2019, Hatim Gazali.

Kriteria penilaian dewan juri mencakup unsur keunikan, kesederhanaan, kemudahan untuk diingat, kesesuaian logo dengan tema dan karakter, aplikatif, hitam dan putih serta fleksibel pada semua warna, dan timeless/keabadian.

“Banyak sekali logo yang bagus. Ini menunjukkan santri merupakan generasi yang kreatif. Tetapi kita sebagai dewan juri harus menentukan siapa juaranya,” kata Hatim.

Untuk mengunduh logo Hari Santri 2019 dengan kualitas tinggi, silahkan klik tautan berikut: https://drive.google.com/file/d/0B3S2oUKMQ1Mjdmc1R3pfRWZtbVVQYnhidG1rVTVaLU1nVnRZ/view?usp=drivesdk

Pewarta: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon
Kamis 19 September 2019 16:30 WIB
Tiga Masalah Kepemudaan Perlu Jadi Perhatian Media Online
Tiga Masalah Kepemudaan Perlu Jadi Perhatian Media Online
Stafsus Menpora Bidang Kemitraan dan Komunikasi, Zainul Munasichin membuka Lokakarya Kontribusi Media Online dalam Merawat Kebhinekaan Bangsa di Jakarta, Kamis (19/9). (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Jakarta, NU Online
Tak bisa dipungkiri bahwa pemuda merupakan masa depan bangsa. Namun, pemuda tak sunyi dari masalah. Setidaknya ada tiga persoalan yang mendera pemuda saat ini.
 
"Tiga masalah tersebut perlu menjadi perhatian para jurnalis agar ikut berperan serta dalam mengatasinya," kata Kepala Biro Hukum dan Humas Kemenpora RI Sanusi saat menjadi narasumber dalam lokakarya Kontribusi Media Online dalam Merawat Kebhinekaan Bangsa di Hotel Aone, Jakarta, Kamis (19/9).
 
Ketiga persoalan itu, pertama, terkait degradasi moral dan nasionalisme. Tidak sedikit pemuda yang tergerus cintanya terhadap Tanah Air. Mereka kering nasionalismenya. Di sisi lain, terdapat pemuda yang moralnya rapuh.
 
"Yang begini ini juga menjadi tanggung jawab media online untuk memberikan pencerahan agar generasi muda bangkit nasionalisme dan moralnya," terang Sanusi.
 
Kedua, terkait narkoba. Sudah menjadi rahasia umum bahwa narkoba di Indonesia telah merangsek ke berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan pemuda. Bahkan, merujuk data BNN (Badan Narkotika Nasional) tahun 2018 pengguna narkoba sebagian besar adalah kalangan pemuda.
 
Peran media online (daring), kata dia, salah satunya adalah mensosialisasikan bahaya narkoba. Meskipun bahaya narkoba sudah tidak henti-hentinya disuarakan oleh berbagai kalangan, namun media online mempunyai jaringan (pembaca) yang luas sehingga pesannya sampai kepada generasi muda.
 
"Kita berharap pemuda bisa selamat dari pengaruh narkoba," ucap mantan pegawai Kementerian Hukum dan HAM ini.
 
Ketiga, terkait dengan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Menurut Sanusi, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele karena karena kasus LGBT sudah semakin tampak di masyarakat. Bahkan, sering terjadi kasus pidana yang melibatkan asmara sesama jenis.
 
"Itu harus segera diatasi. Tentu saja kita berharap bantuan media online," tandasnya.
 
Sanusi menegaskan, yang paling mengkhawatirkan dari persoalan pemuda adalah terkait dengan narkoba dan radikalisme. Narkoba sudah jelas daya rusaknya. Pemuda yang terpapar narkoba sudah cukup mengerikan.
 
Sementara radikalisme, para pemuda juga tak sedikit terpapar ideologi berbasis kekerasan itu. Bahkan, sejak lama radikalisme menyasar perguruan tinggi.
 
"Itu harus jadi perhatian kita semua. Jumlah pemuda saat ini sekitar 60 juta. Bayangkan jika narkoba dan radikalisme sudah melanda mereka," pungkasnya.
 
Lakakarya (workshop) yang dibuka oleh Staf Khusus Menpora Bidang Kemitraan dan Komunikasi, Zainul Munasichin, tersebut diikuti sekitar 40 pegiat media online. Mereka berasal dari perwakilan sejumlah media online keislaman moderat.
 
 
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Musthofa Asrori
Kamis 19 September 2019 15:0 WIB
Penasihat Presiden Mesir: Kasih Sayang Kunci Agama
Penasihat Presiden Mesir: Kasih Sayang Kunci Agama
Penasihat Presiden Mesir Usamah Mahmud al-Azhari berbicara pada kuliah umum di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Ciputat Tangsel, Rabu (18/9).
Tangerang Selatan, NU Online
Pemikiran ekstrem memunculkan narasi yang begitu keras. Hal demikian perlu diimbangi dengan wacana kasih sayang. Penasihat Presiden Mesir Usamah Mahmud al-Azhari menyampaikan bahwa kasih sayang itulah menjadi kunci.
 
“Kunci agama adalah akhlak kasih,” katanya saat menjadi narasumber pada kuliah umum Fakultas Dirasat Islamiyah di Auditorium Harun Nasution, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Ir H Juanda No.95, Kota Tangerang Selatan, Banten, Rabu (18/9).
 
Ia menyampaikan sebuah hadis tentang kasih sayang, al-rahimuna yarhamuhum al-Rahman, irhamu man fi al-ardli, yarhamkum man fi al-samai, Yang Maha Pengasih mengasihi orang-orang yang penuh kasih, maka kasihilah orang di bumi, Dzat yang di langit pun akan mengasihi kalian.
 
Hadis tersebut merupakan yang pertama kali didengar dari gurunya. Hadis tersebut juga didengar pertama kali dari gurunya, terus bersambung hingga Imam Zakariya al-Anshari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, sampai pada sumber utamanya, yakni Nabi Muhammad saw. “Inilah kalimat inti kenabian,” kata Syekh Usamah.
 
Lebih dari itu, ia juga menyampaikan bahwa Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, wa maa arsalnaka illa rahmatan lil alamin. Artinya, kata Syekh Usamah, Nabi tidak saja diutus bagi orang-orang Muslim, ataupun ahli kitab, atau hanya manusia saja. Tetapi, untuk semua yang terdapat di alam semesta. Hal tersebut harus dijaga dan disebarkan. “Jagalah ini dan sebarkanlah,” tegasnya.
 
Selain itu, ayat pertama dalam Al-Qur’an juga berbicara tentang kasih sayang, yakni pada lafal basmalah di surat al-Fatihah. “Juga karena al-Qur'an dalam ayat pertama fatihah itu basmalah,” ucapnya dalam kuliah umum dengan tema Moderatisme Al-Azhar dalam Menghadapi Pemikiran Ekstrem.
 
Kuliah umum ini juga dihadiri oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Hj Amani Burhanuddin Umar Lubis, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum sekaligus Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Prof Chuzaemah Tahido Yanggo, dan Duta Besar Republik Arab Mesir untuk Indonesia Ahmed Amr Ahmed Moawad.
 
Kegiatan ini diikuti oleh ratusan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan alumni Universitas Al-Azhar.
 
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Musthofa Asrori
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG