IMG-LOGO
Nasional

LP Ma'arif NU Bakal Bangun Gedung Pusat Pelatihan Guru di Grogol

Jumat 20 September 2019 23:30 WIB
Bagikan:
LP Ma'arif NU Bakal Bangun Gedung Pusat Pelatihan Guru di Grogol
Desain gedung pusat pelatihan guru LP Ma'arif NU di Grogol, Jakarta Barat. (Foto ilustrasi: LP Ma'arif NU)
Jakarta, NU Online
Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU akan membangun gedung baru di Grogol, Jakarta Barat. Pembangunan yang akan dimulai tahun 2019 ini akan jadi pusat pembelajaran para guru di lingkungan LP Ma’arif NU.

Ketua LP Ma’arif NU KHZ. Arifin Junaidi mengemukakan hal tersebut dalam rapat Reboan hari Rabu lalu. Pembangunan pusat pelatihan guru (teacher training center) akan dipusatkan di tanah hibah Ma’arif NU Grogol, Jakarta Barat.

Menurut Arifin Junaidi, pembangunan ini dilakukan secara bertahap. Rencananya ada dua tahap sesuai siteplan. Tahap pertama dimulai awal Oktober 2019 dan selesai pada awal tahun 2020.

“Selesai tahap pertama akan dilanjutkan pada pembangunan tahap kedua. Tahap kedua akan selesai pada akhir 2020,” ujar Arifin Junaidi kepada NU Online lewat keterangan tertulisnya, Jumat (20/9).

Sejauh ini LP Ma’arif NU selalu melaksanakan pelatihan seperti IPA, bahasa, dan pelajaran lainnya. Pelatihan tersebut pernah dilaksanakan di Jatim, Jateng, Jabar, Kalimantan, dan lainnya.

“LP Ma’arif NU tidak perlu repot untuk mencari gedung dalam penyelenggaraan pelatihan. Di gedung ini akan jadi pusat pelatihan guru setiap LP Ma’arif NU menyelenggarakan pelatihan untuk guru dan tenaga kependidikan (GTK),” ujar Ketua Panitia Pembangunan Saidah Sakwan.

Menurut Saidah, pembangunan diperkirakan menelan biaya sebesar Rp41 miliar. Dana tersebut belum terkumpul, tapi LP Ma’arif akan bertekad menyelesaikan pembangunan gedung itu sesuai rencana.

“Gedung akan dikelola secara modern berdasarkan kebutuhan era sekarang. Di sana akan ada pusat pelatihan, tempat istirahat, dan parkir secukupnya,” ujar Saidah. 

Pewarta: Fathoni Ahmad
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 20 September 2019 21:0 WIB
Sambut HUT ke-74 TNI, Panglima TNI Ziarah ke Makam Gus Dur
Sambut HUT ke-74 TNI, Panglima TNI Ziarah ke Makam Gus Dur
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melakukan ziarah ke makam Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Rabu (18/9). (Foto: Syarief/NUO)
Jombang, NU Online
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melakukan ziarah ke makam Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Rabu (18/9).
 
Kedatangan orang nomor satu di TNI ini disambut ratusan santri, polisi, dan TNI dengan tabuhan rebana. Panglima disambut Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdullah Hakim Mahfudz di depan dalem kasepuhan.
 
Panglima TNI datang bersama istri, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Pangkostrad, serta Danjen Kopassus. Dari jajaran TNI Angkatan Laut, ada Kasal dan Dankormar, serta dari jajaran TNI Angkatan Udara ada Kasau dan Dankor Paskhas.
 
Rombongan tiba sekira pukul 14.50 WIB dan melakukan pertemuan tertutup di ndalem kesepuhan bersama keluarga pesantren. Usai itu, dilanjutkan upacara penghormatan kepada almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pahlawan Nasional KH M Hasyim Asy'ari dan KH A Wahid Hasyim.
 
Kepada awak media Hadi menjelaskan, ziarah ke makam Gus Dur ini merupakan rangkaian ziarah bersama pejabat utama TNI ke makam para mantan presiden. Kegiatan ini dilakukan guna menyambut HUT TNI ke-74.
 
Sebelum ke Gus Dur, rombangan ini terlebih dahulu ke makam Presiden RI pertama  Soekarno di Blitar. Rangkaian kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan kepada mantan pemimpin negara, selaku Panglima Tertinggi di jajaran TNI.
 
"Ini adalah sebagai tradisi dalam rangkaian kegiatan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) TNI yang ke-73. Pejabat TNI dan semua prajurit berziarah kepada para pendahulu, sebagai pejuang dan sebagai presiden," jelasnya.
 
Panglima TNI berharap para pejabat dan semua prajurit TNI bisa meneladani perjuangan para mantan presiden. Seperti kecintaan mereka dengan negara, jiwa satria, pemberani dan setia.
 
"Kami tauladani perjuangan beliau-beliau. Kami tidak akan melupakan sejarah  bagaimana pengorbanan dan jerih payah beliau-beliau yang ditujukan kepada generasi penerus TNI, sehingga patut kami tauladani bersama," tutur Panglima TNI.
 
Usai menabur bunga di komplek makam Pesantren Tebuireng, Panglima TNI beserta rombongan dijadwalkan berziarah ke makam Presiden RI kedua, Soeharto di Jawa Tengah melalui jalur tol Kertosono-Solo via Tembelang.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Muhammad Faizin
Jumat 20 September 2019 19:0 WIB
Selain Promosikan Moderasi Agama, Pesantren Juga Pelihara Nilai Demokrasi
Selain Promosikan Moderasi Agama, Pesantren Juga Pelihara Nilai Demokrasi
Kamarudin Amin (kiri) bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin usai meluncurkan Hari Santri 2019. (Foto: Kemenag RI)
Jakarta, NU Online
Indonesia tidak hanya sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Negara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote itu juga merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Sebagai negeri Muslim terbesar, Indonesia berperan penting dalam menjaga sekaligus menyuarakan moderasi beragama. Pesantren lah sebagai akar budaya keagamaan Islam di Indonesia yang terus mengupayakan hal tersebut.

"Pesantren telah menunaikan mempromosikan moderasi agama dan memelihara nilai-nilai demokrasi," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin saat Peluncuran Peringatan Hari Santri 2019 di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (19/9) malam.

Hidup di tengah demokrasi sebagai sebuah sistem yang disepakati bersama oleh segenap bangsa Indonesia, pesantren konsisten dalam menjaganya. Bahkan terus menyuarakan hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

"Pesantren sudah berdakwah terkait kesesuaian demokrasi dan Islam," kata akademisi yang juga birokrat asal Bontang, Kalimantan Timur itu.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa pesantren memberikan sumbangsih terhadap perdamaian. "Pesantren telah berkontribusi dalam menebarkan perdamaian," katanya.

Sebab, lanjutnya, pesantren senantiasa memperkuat infrastruktur sosial Indonesia dan menjaga nilai-nilai agama dan demokrasi. Ia mengajak para santri sekalian untuk meningkatkan daya saing bangsa di tengah globalisasi yang sarat akan kompetisi antarbangsa ini. Dengan begitu, santri dapat menjaga ketahanan nasional dan perdamaian dunia sebagai suatu amanat dari para pendiri bangsa yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang 1945.

"Mari berkontribusi mempertahankan menjaga ketahanan nasional. Mari berkontribusi menjaga perdamaian dunia," pungkas alumnus Rheinischen Friedrich-Wilhelms Universitaet Bonn, Jerman itu.

Kegiatan ini dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir, para duta besar negara sahabat, dan santri-santri dari berbagai daerah.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Muchlishon 
Jumat 20 September 2019 14:0 WIB
Unipdu Kembangkan Bahan Ajar Matematika untuk Tunarungu
Unipdu Kembangkan Bahan Ajar Matematika untuk Tunarungu
Siswa tunarungu menjelaskan materi dengan bahasa isyarat. (Foto: NU Online/Humas Unipdu)
Jombang, NU Online
Anak berkebutuhan khusus atau ABK sekarang sudah lebih diperhatikan dari segi hak pendidikan. Salah satu instansi pendidikan di jenjang perguruan tinggi yang ramah difabel adalah Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), Peterongan, Jombang, Jawa Timur.
 
“Unipdu pernah menerima siswa berkebutuhan khusus dengan ketunaan komunikasi atau wicara. Hal tersebut merupakan bentuk dari kontribusi kampus dalam memajukan pendidikan dan dukungan untuk siswa berkebutuhan khusus,” kata H Zulfikar As’ad lewat surat elektronik yang diterima media ini, Jumat (20/9). 
 
Dalam pandangan Wakil Rektor bidang Keuangan, SDM dan Umum Unipdu tersebut, siapa saja berhak mendapatkan pendidikan, termasuk kalangan ABK.
 
“Jika memang dia berminat dan memiliki bakat, kenapa tidak? Karena setiap manusia memiliki kelebihan masing-masing,” ungkapnya.
 
Karenanya, kampus yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum tersebut turut mendorong dalam memajukan pendidikan. Salah satunya seperti dilakukan Tomy Syafrudin yang merupakan dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan kampus setempat. 
 
“Peran yang dilakukan adalah mengembangkan bahan ajar matematika yang dikhususkan untuk siswa tunarungu,” kata alumnus program doktor di Universitas Airlangga Surabaya ini.
 
Hal tersebut berawal dari pengalaman dosen yang pernah mengajar di sekolah luar biasa dengan mengajar matematika dan bahan ajar yang dijadikan sumber adalah bahan ajar sekolah umum. 
 
“Sehingga muatan materi yang disampaikan tidak sesuai dengan kurikulum siswa tunarungu,” terang Gus Ufik, sapaan akrabnya. 
 
Apalagi Tomy Syafrudin sendiri pernah di posisi tersebut sehingga merasa kesulitan ketika mengajar siswa tunarungu. 
 
Di sisi lain ternyata Sekolah Luar Biasa (SLB) juga diwajibkan untuk mengikuti Ujian Nasional (UN) supaya dinyatakan lulus dari sekolah. 
 
Pemerintah juga telah memberikan wadah untuk siswa-siswa SLB yang memiliki bakat di bidang akademik dengan Olimpiade Sains Siswa Nasional (O2SN). 
 
“O2SN merupakan agenda tahunan untuk siswa berkebutuhan khusus untuk berkompetisi di bidang sains sampai tingkat nasional. Sehingga pengembangan bahan ajar untuk siswa tunarungu memang harus dilakukan,” jelasnya. 
 
Siswa tunarungu menurutnya memiliki keterbatasan atau mempunyai keterbatasan dalam hal pendengaran. Komunikasi yang dilakukan adalah menggunakan bahasa isyarat. 
 
“Sehingga pemahaman dalam pembelajaran didapatkan dari memaksimalkan indra penglihatan siswa. Bahan ajar yang dikembangkan mengutamakan indra penglihatan sehingga ketika pembelajaran siswa dapat memahami dengan mudah, baik dengan membaca sendiri maupun dengan arahan dari guru,” urainya. 
 
Dari sisi pengajar, sangat terbantukan dengan adanya bahan ajar ini. Harapanya pengembangan ajar dapat dikembangkan lebih jauh lagi untuk mata pelajaran yang lain.
 
“Sehingga pendidikan untuk sekolah luar biasa dapat juga maju seiring perkembangan zaman,” katanya. 
 
Karena sudah banyak siswa yang berkebutuhan khusus dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. “Maka langkah pengembangan ini merupakan bentuk dukungan kepada mereka dalam menggapai cita-citanya,” jelasnya.
 
Dalam pandangan Gus Ufik, bentuk dari kemajuan suatu negara adalah kemajuan pendidikannya baik dari sekolah umum maupun sekolah luar biasa. 
 
“Juga keadilan dalam pemenuhan hak-hak warga negara termasuk di dalamnya hak-hak anak berkebutuhan khusus,” pungkasnya. 
 
 
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG