Anak Muda Harus Ulet dan Menemukan Talenta Sejak Awal

Anak Muda Harus Ulet dan Menemukan Talenta Sejak Awal
Seminar kependudukan dan lingkungan hidup di Fakultas Saintek UINSA Surabaya. (Foto: NU Online/Imam Kusnin Ahmad)
Seminar kependudukan dan lingkungan hidup di Fakultas Saintek UINSA Surabaya. (Foto: NU Online/Imam Kusnin Ahmad)
Surabaya , NU Online
Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Jawa Timur menggelar Seminar Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Kamis (26/9). 
 
Hadir selaku narasumber Yenrizal Makmur selaku Ketua Perwakilan BKKBN Jawa Timur dan H Mas’ud Said yang juga Ketua Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur. Kegiatan digelar di ruang sidang, gedung rektorat lama.
 
Dekan FST, Eni Purwati dalam sambutannya menilai, seminar dapat memberikan pengetahuan baru yang dapat diimplementasikan dalam karya-karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya Jawa Timur.
 
Dirinya menyampaikan, enam program studi yang terbagi dalam dalam dua jurusan, sains dan teknologi memiliki potensi yang besar untuk dikerjasamakan dengan BKKBN maupun ISNU.
 
Terutama kaitannya dengan prediksi penelitian dan model pemberdayaan di Jawa Timur. “Mudah-mudahan ini dapat ditindaklanjuti dengan karya dan  kerja nyata untuk Jawa Timur lebih baik. Manfaat bagi UINSA, Jawa Timur, Indonesia, dan rahmatan lil aalamin,”  ungkapnya.
 
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UINSA, Wahidah Zein Br. Siregar membuka sambutan dengan diskusi singkat mengenai realita kependudukan di Indonesia. 
 
Bahwa beberapa sahabat dekatnya dari luar negeri mengaku mengkhawatirkan kondisi Indonesia yang cenderung apatis terhadap lingkungan. 
 
“Kenapa ya, tanah subur dibikin rumah? Di Eropa justru tanah tidak subur yang dibikin rumah. Dan satu hal, kita tidak mau tinggal ke atas. Tapi membangun ke samping. Di Hongkong, mereka membangun ke atas,” katanya.
 
Permasalahan kependudukan lainnya yang juga disoroti adalah munculnya tren menikah muda. “Saya miris, datang ke toko buku terus ada buku tentang asyiknya menikah muda. Ini bagaimana? Kalau BKKBN kan jelas standarnya. Usia menikah perempuan minimal 20 tahun Laki-laki 25 tahun,” sergahnya.
 
Dalam pandangannya, fenomena menikah muda juga harus diantisipasi mengingat tingkat kematangan pribadi pasangan masih rentan. “Menikah terlalu muda tidak bagus bagi kesehatan bayi. Belum lagi urusan agama, bagaimana hak dan kewajiban, perilaku terhadap orang tua dan mertua, dan lain sebagainya,” tegas dia.
 
Menurutnya, diskusi ini sangatlah penting. “Semoga kegiatan ini membawa manfaat dengan menjaga rumah kita agar Indonesia baik,” pungkasnya.
 
Kegiatan juga dilanjutkan penandatangan nota kerja sama antara FST UINSA dengan BKKBN dan ISNU Jawa Timur. 
 
Yenrizal sebagai narasumber menyampaikan materi terkait ‘Pemahaman Mengenai Dampak Kependudukan Menghadapi Revolusi Industri 4.0’. Sedangkan Mas’ud menyampaikan materi terkait ‘Peluang Bonus Demografi Menyongsong Revolusi Industri 4.0’.
 
“Rumusnya ialah siapa yang bisa berani mencoba berusaha dan menguatkan dengan IT, maka dia bisa menjadi generasi yang produktif. Untuk kaya tidak harus IP 4, yang penting ulet dan menemukan talentanya sejak awal serta menjadikannya usaha dan uang,” papar Mas’ud. 
 
Tim pakar Gubernur Jawa Timur ini juga menjelaskan, bahwa generasi muda ideal harus skillful, menguasai IT, berani memulai usaha, dan berkarakter.
 
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja sama FST UINSA, Yusuf Amrozi menambahkan, bahwa seminar merupakan rangkaian harlah FST yang ke-6. 
 
Rangkaian Harlah FST akan ditutup dengan jalan sehat bersama pada Jumat (27/9) yang akan diikuti 1500 civitas akademika UINSA.
 
 
Pewarta: Iimam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile