IMG-LOGO
Fragmen

Ahli Pertanian Itu adalah Kiai

Senin 30 September 2019 7:45 WIB
Bagikan:
Ahli Pertanian Itu adalah Kiai
Ilustrasi petani singkong. (via Mareen)
"Petani itulah penolong negeri." Dawuh pendiri NU, KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) tersebut menunjukkan bahwa peran petani di Indonesia sangat penting dalam menyediakan bahan makanan setiap hari. Namun, peras keringat, banting tulang, dan kerja keras mereka tidak pernah terbayar lunas dengan yang namanya keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Karena mereka lebih sering didera kerugian saat menjual hasil panennya.

Indonesia yang dijuluki negara agraris juga dihadapkan pada fenomena punahnya pertanian yang sesungguhnya mempunyai filosofi dan kearifan lokal yang tinggi. Karena hampir sudah tidak ada generasi muda yang tertarik untuk bertani. Lumbung padi yang mempunyai nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat juga saat ini sudah tidak lagi menjadi tradisi.

Padahal, dari usaha pertanian tersebut, berbagai varietas tanaman dan produk bisa dihasilkan dan dikembangkan untuk kemakmuran rakyat secara luas. Dalam pengembangan, para petani butuh sentuhan negara lewat kebijakan-kebijakan yang mendukung pertanian. Dukungan petani bisa dilihat di Jepang dan sejumlah negara maju, mereka tidak hanya bisa mengembangkan varietas tanaman, tetapi juga mengekspor hasil pertanian dan perkebunan dalam jumlah besar ke negara lain.

Perihal pengembangan varietas hasil tani, di Indonesia pernah ada seorang kiai yang mampu mengembangkan tanaman singkong. Sosok tersebut diungkap oleh Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017). Selain mumpuni dalam bidang agama, kiai memiliki kepedulian sosial yang tinggi, sehingga menjalankan riset dan pengembangan guna memajukan ekonomi masyarakat. Langkah itu dilakukan dengan fasilitas seadanya yang dipersiapkan sendiri tanpa subsidi dari pihak manapun.

Ia adalah Abdul Jamil, salah seorang kiai yang kreatif dan inovatif di bidang pertanian. Dijelaskan Mun’im, ketekunan Kiai Abdul Jamil berhasil membuahkan inovasi baru di bidang persingkongan dengan ditemukannya singkong varitas baru yang diberi nama darul hidayah, yang diambil dari nama pesantren yang dipimpinnya yaitu Pesantren Darul Hidayah di Lampung Utara, Provinsi Lampung.

Temuan ini merupakan revolusi singkong gelombang kedua setelah revolusi pertama dilakukan oleh seorang santri dari Kediri yang bernama Mukibat, 40 tahun yang lalu, sehingga singkong hasil silangannya disebut dengan mukibat yang sangat terkenal.

Kiai Abdul Jamil yang berasal dari Lamongan itu masih kerabat dengan Mukibat, sehingga merasa bertanggung jawab untuk melanjutkan inovasi yang telah dilakukan sang paman. Berbeda dengan inovasi Mukibat yang sulit dibiakkan secara massal karena teknik okulasi.

Sementara inovasi Kiai Abdul Jamil bisa dibiakkan secara massal karena hasil silangan dengan semai biji. Hasilnya pun cukup baik, dalam umur 10 bulan telah mampu menghasilkan 15 kilogram per pohon, sehingga masuk singkong jenis unggul.

Namun menurut Mun’im, temuan kreatif sang kiai itu diabaikan oleh pemerintah. Bahkan surut bersama runtuhnya harga singkong. Akibatnya inovasi yang dilakukan tidak membuahkan kemajauan ekonomi, karena pemerintah tidak membuat pabrik pengolah singkong, atau membuka pasar ekspor.

Tetapi di tengah sikap abai terhadap temuan itu, pucuk dicinta ulama pun tiba, ketika budidaya singkong yang terpuruk itu tiba-tiba bangkit bersama dengan maraknya indutri bioetanol belakangan ini. Tidak ada pilihan lain mayarakat kemudian mencari lagi Kiai Adul Jamil untuk memesan bibit singkong unggul itu secara massal sebagai bahan pembuatan bioetanol.

Temuan tersebut tidak dipatenkan, karena sejak awal Kiai Jamil telah mewakafkan hak ciptanya untuk masyarakat dan umat manusia pada umumnya. Karena menurut Mun’im, sang kiai bukan kapitalis yang berbuat untuk mendapatkan untung, dia seorang sukarelawan yang mendermakan ilmu, tenaga, dan hartanya untuk umat.

Problem pertanian dan petani di Indonesia seolah menjadi agenda yang tidak pernah selesai (unfinished agenda). Bukan hanya dari problem klasik terkait kesejahteraan petani, tetai juga persoalan pertanian sebagai tradisi dan budaya orang-orang Indonesia.

Dalam hal ini Sejarawan NU, KH Agus Sunyoto (2018) mengungkapkan, dahulu anak petani mewarisi lahan pertanian, saat ini tidak ada karena petani di desa sudah tidak mempunyai tanah. "Saya itu tahun 1995 rencana mau bangun sekolah, sekolah menengah pertanian. Tanggapan teman-teman saya, loh kalau bisa jangan bikin sekolah pertanian, kita ini anaknya petani, sudah gak terlalu tertarik dengan pertanian," kata Agus Sunyoto.

Kita tahu, orang tua kita itu rugi terus. Agus Sunyoto ingat ketika tahun 1995, Ketua GP Ansor Kediri, Abu Muslih itu orang tuanya petani. Ketika mereka bincang tentang pertanian, dia sudah menggunakan pemikiran modern. Muslih berbicara ke ibunya, "mak, kita punya sawah 500 meter persegi. Dari luas tersebut, diitung sewa tanah setahun berapa”.

Kemudian membayar tukang yang nyangkulin tanah, nggarem, beli bibit, setelah itu beli pupuk. Lalu beli insektisida, termasuk membayar orang yang bertanam itu. Nanti setelah panen, membayar yang manen padi, setelah itu dijual.

Dengan luas 500 meter persegi, setelah dihitung, rugi 50.000 rupiah. Itu belum dihitung ongkos tenaga, dan lain-lain. Muslih bicara ke emaknya, “Mak, ini kita rugi 50.000. Emaknya hanya menjawab enteng, ‘lah iya, dari dulu memang petani itu rugi. Cuma kalau kita ngikutin untung-rugi, nggak bakal ada lagi orang yang bertani. Jadi sekalipun rugi, petani itu harus tetap ada’.

Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Senin 30 September 2019 19:0 WIB
Gus Dur dan Makam KH Abdul Halim Leuwimunding
Gus Dur dan Makam KH Abdul Halim Leuwimunding
KH Abdul Halim Leuwimunding. (Foto: Yayasan Sabilul Chalim Leuwimunding)
KH Abdul Halim Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat awalnya kurang dikenal. Karena menurut keterangan pihak keluarga, KH Abdul Halim memang tidak ingin terkenal. Padahal Kiai Abdul Halim Leuwimunding merupakan kiai pendiri NU satu-satunya dari Jawa Barat. Bahkan, Kiai Abdul Halim banyak mencatat dokumen-dokumen strategis dalam setiap sejarah penting bangsa ini karena posisinya sebagai Katib Tsani dalam kepengurusan PBNU awal (1926).

Nama KH Abdul Halim baru lebih dikenal luas setelah Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berziarah ke makam Kiai Abdul Halim di Leuwimunding, Majalengka pada Maret 2003. Kiai Abdul Halim juga tersorot saat rombongan Kirab Santri Nasional 2015 Surabaya-Jakarta singgah dan berdoa di makam kiai tersebut.

Mengapa Gus Dur berziarah ke makam KH Abdul Halim Leuwimunding? Alkisah pada awal 2003, sejumlah pengurus dan anggota Banser NU Majalengka sowan pada Gus Dur di kediamannya di Ciganjur. Saat tiba di Ciganjur, Gus Dur ternyata masih belum datang dari kunjungan ke Perancis.

Setelah Gus Dur datang dari kunjungannya di luar negeri, para aktivis Banser itu diterima di kediamannya. Dalam perbincangan tersebut, Gus Dur bertanya dari mana para tamunya. Saat diberitahu bahwa para Banser itu dari Leuwimunding, Majalengka, sontak Gus Dur kaget.

Segera Gus Dur memanggil stafnya untuk mengagendakan ziarah ke makam Kiai Abdul Halim, dalam rangkaian acara kunjungannya ke Cirebon dan sekitarnya. Dalam sambutannya sekitar 45 menit di depan warga Leuwimunding di area makam Kiai Halim, Gus Dur mengemukakan peran besar Kiai Halim di masa sebelum berdirinya NU, saat pendirian, dan dalam perkembangan NU.

Kunjungan Gus Dur tersebut menunjukkan betapa besarnya perhatian pemimpin terkemuka NU dan mantan Presiden RI tersebut. Pertanyaannya sekarang, bagaimana perhatian warga masyarakat, terutama kalangan NU sendiri?  Tidak mudah memang merangkai cerita tentang seorang tokoh yang selalu “bekerja dalam diam”.

Tokoh ini dikenal rendah hati. Beruntungnya ada sejumlah tulisan karya Kiai Halim yang ditinggalkan, khususnya tentang berdirinya NU, tokoh-tokohnya, serta perkembangan NU hingga tahun 1970. Tahun itulah buku karya KH Abdul Halim, Sejarah Perjuangan KH Wahab Chasbullah yang ditulis dengan huruf Arab Pegon diterbitkan. Tetapi itulah satu di antara sedikit buku yang membahas sejarah NU saat itu. Amat langka penulis yang menulis buku tentang NU, termasuk dari kalangan NU sendiri.

Tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa Kiai Abdul Halim sangat dekat dengan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah. Dengan kata lain, Kiai Abdul Halim adalah orang kepercayaan kedua ulama terkemuka tersebut. Lewat  Kiai Abdul Halim, dua kiai tersebut merancang komunikasi lewat surat-surat dengan para ulama terkemuka se-Jawa dan Madura.

Guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah sosok yang dikenal intens berziarah kubur. Bahkan setiap datang ke suatu tempat, yang pertama kali ia datangi adalah makam atau kuburan. Pernah suatu ketika ia melakukan kunjungan kenegaraan ke Australia dan langsung mencari makam orang pertama dalam lintas sejarah Suku Aborigin.

Makam-makam orang penting dan berjasa dari yang paling terkenal hingga yang tidak pernah dikenal masyarakat, pernah Gus Dur kunjungi. Bagi Gus Dur, interaksi orang yang masih hidup tidak hanya dengan orang-orang yang masih berada di atas bumi, tetapi juga manusia-manusia di bawah liang lahat yang telah dipanggil Sang Kuasa.

Berziarah ke makam orang-orang mulia bagi Gus Dur adalah sebuah keistimewaan spiritual. Di saat bertemu dan berkunjung dengan sebagian orang yang masih sarat dengan kepentingan duniawi, berkunjung ke makam bagi Gus Dur merupakan washilah untuk menemukan bongkahan solusi dari setiap persoalan, karena baginya orang yang sudah meninggal sudah tidak mempunyai kepentingan apapun.

Sekilas bisa dipahami bahwa ada interaksi metafisik antara Gus Dur dengan ahli kubur. Gus Dur memang disebut mampu berinteraksi langsung dengan sosok yang diziarahinya. Lalu, apa rahasia bacaan Gus Dur saat berziarah kubur?

Suatu ketika, KH Husein Muhammad Cirebon berkunjung ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya Jakarta. Ia bertemu dengan salah seorang sahabat karib Gus Dur, Imam Mudzakkir. Ia pernah mondok bersama Gus Dur ketika Lirap, Kebumen, Jawa Tengah dan di pesantren lain: Tebuireng, Tegalrejo, dan Krapyak.

Imam Mudzakkir yang juga sudah wafat pada 2017 lalu ini menceritakan kepada Kiai Husein bahwa apabila berkunjung atau berada di suatu daerah, Gus Dur selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke kuburan para wali dan ulama setempat.

Diceritakan Imam bahwa Gus Dur duduk cukup lama di pusara yang ia ziarahi. Paling tidak selama satu jam hingga satu setengah jam. “Beliau membaca tahil lalu membaca sholawat tidak kurang dari 1.000 kali,” ungkap Imam Mudzakkir almarhum. (KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Dinyatakan oleh Imam, Gus Dur juga tidak pernah absen membaca shalawat setiap harinya. Setiap hari Gus Dur membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW sebanyak 1.000 kali. Bagi Gus Dur, shalawat merupakan jalan pembuka segala-galanya setiap seseorang melakukan kebaikan, termasuk ibadah.

Kebiasaannya berziarah kubur ke makam orang-orang mulia setempat merupakan upaya Gus Dur menjaga peradaban. Jasad seseorang boleh saja dikatakan telah tiada, tetapi pemikiran, teladan, dan jasa-jasanya penting untuk selalu diingat. Kearifan orang-orang penting di suatu daerah bisa saja hilang ketika masyarakat sekitar telah melupakan sosoknya sehingga ziarah sebagai pengingat mempunyai energi positif.

Ketika berkunjung ke Daerah Tuban, Jawa Timur, tentu saja Gus Dur tidak melewati untuk berziarah ke makam Mbah Bonang dan KH Abdullah Faqih Langitan. Namun, ada sebuah makam wali di daerah tersebut yang tidak banyak diketahui masyarakat, yakni makam Mbah Kerto.

Hal itu diceritakan oleh Muhammad AS Hikam dalam Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (2013). Setelah Gus Dur mengunjungi makam Mbah Kerto, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya mengetahui salah seorang wali di Tuban tersebut. Sehingga kearifannya bisa digalih lebih mendalam sebagai teladan baik bagi generasi masa mendatang.

Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon
Sabtu 28 September 2019 6:0 WIB
Saat Ketegangan Gus Dur dan BJ Habibie Berakhir di Belgia
Saat Ketegangan Gus Dur dan BJ Habibie Berakhir di Belgia
Gus Dur dan BJ Habibie. (Foto: Pojok Gus Dur)
Dalam politik, siapa pun bisa bersitegang dengan orang lain karena berbeda pilihan dan pandangan. Begitu juga dengan dua tokoh bangsa, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Bacharuddin Jusuf Habibie. Keduanya berseberangan secara politik, terutama ketika Habibie bersama Soeharto mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tahun 1990 yang menempatkan Habibie sebagai ketua umum pertamanya.
 
Dengan kepemimpinan Habibie dan peran Soeharto di dalamnya, ICMI menjelma seolah menjadi organisasi penguasa. Kondisi demikian membuat ICMI bisa menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan organisasi swasta tersebut. Penggunaan fasilitas negara oleh ICMI terlihat ketika mereka menempati berbagai kantor departemen sebagai kantornya.

Bukan hanya itu, bahkan ICMI menggunakan dana negara untuk setiap kegiatannya serta merektur pegawai dan pejabat pemerintahan sebagai anggatanya. Dengan demikian, siapa saja yang masuk ICMI karir politik dan jabatannya di pemerintahan bakal lancar. Sebaliknya, yang menentang bakal bernasib susah. Tak pelak kebijakan tersebut ditentang Gus Dur karena dianggap diskriminatif dan sektarian.
 
Saat Presiden Soeharto lengser, ICMI yang terlalu menggantungkan diri pada fasilitas negara dipaksa mengembalikan seluruh aset negara yang digunakan oleh organisasi. ICMI tenggelam menjadi organisasi biasa yang tadinya cukup ditakuti. Namun, secara pribadi Gus Dur memiliki empati yang tinggi terhadap bekas rivalnya, Habibie.
 
Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017) mencatat, setelah dilantik menjadi Presiden RI pada 1999 Gus Dur langsung mengunjungi Habibie di rumahnya. Tidak hanya itu, ketika istri Habibie, Hasri Ainun Besari dirawat di Belgia, Gus Dur menjenguknya setelah perjalanan dari memenuhi undangan seminar di Jerman dan Belgia saat itu. Tak pelak Habibie saat itu kaget melihat Gus Dur rela menengok keluarganya di Brussel. Gus Dur diterima dengan hangat di tengah kondisi cuaca dingin di kota kecil tersebut.
 
Selain sebagai seorang insinyur dan penemu sejumlah komponen aerodinamika pesawat terbang ini, BJ Habibie juga dikenal sebagai Muslim yang taat. Saat meletakkan jabatan Presiden RI dan menyerahkannya kepada BJ Habibie pada 1998, Soeharto dengan jelas menyebut pria kelahiran Parepare, 25 Juni 1936 ini sebagai 'orang shaleh'.
 
Kecerdasan BJ Habibie mendapat kesan yang baik dari Soeharto. Dia mendapat amanat untuk memikul jabatan Menteri Riset dan Teknologi pada era Orde Baru selama hampir kurun 20 tahun. Predikat 'orang shaleh' juga membawa dirinya dipercaya Soeharto untuk memimpin Ikatan Cedekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dibentuk pada 7 Desember 1990 di Universitas Brawijaya Malang melalui Simposium Cendekiawan Muslim Cendekiawan Muslim.
 
Menurut Greg Barton dalam The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2003), salah satu tujuan Soeharto mendirikan ICMI adalah memisahkan kaum modernis dari kaum tradisionalis. Dengan demikian mereka tidak bisa bekerja sama untuk melawannya. Hal ini terbukti ketika pada awal tahun 1990-an, Amien Rais, orang yang memang biasa bersuara lantang belum lagi bersikap kritis terhadap Soeharto. Posisinya di Dewan Ahli ICMI sedikit banyak membuatnya bungkam.
 
Terbentuknya ICMI dengan ketua pertamanya, BJ Habibie tidak hanya dipandang Gus Dur sebagai langkah politis Soeharto dalam melokalisir tokoh-tokoh cendekiawan di bawah kendalinya, tetapi juga dilihat sebagai pembonsaian peran cendekiawan bagi kepentingan bangsa Indonesia secara luas. Gus Dur berharap ICMI sebagai sebuah wadah mencapai kesuksesan, namun ia dengan tegas menyatakan bahwa tempat dirinya bukan di situ (ICMI).
 
Saat itulah Gus Dur menanggapi terpilihnya seorang BJ Habibie sebagai Ketua ICMI pertama. Dalam Majalah AULA Nahdlatul Ulama edisi Januari 1991 halaman 28, Gus Dur mengenal BJ Habibie dan hormat kepadanya karena dia seorang pembantu presiden (Menrsitek). Gus Dur juga mendengar bahwa Habibie seorang perancang pesawat. Labih dari itu, dia dengan jelas mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal Habibie.
 
"Saya tidak mengenal Habibie. Namun, saya hormat karena dia pembantu presiden, saya dengar dia perancang pesawat dan dihormati di luar negeri. Saya turut bangga. Saya cuma berdoa supaya wadah itu (ICMI) sukses. Ketuanya Habibie atau bukan, yang penting sukses. Tapi tempat saya ndak di situ...."
 
Awalnya, pembentukan ICMI dalam kegiatan Simposium Nasional Cendekiawan Muslim di Unibraw Malang itu banyak yang memandang akan membawa angin segar umat Islam dari pemerintah. Juga merupakan harapan cerah bagi masa depan Islam karena organisasi ini dimpimpin oleh BJ Habibie, seorang intelektual yang cukup disegani di Indonesia dan di Eropa.
 
Namun, Gus Dur menyatakan bahwa ketidakhadiran dirinya pada Kongres ICMI di Malang lebih dikarenakan adanya pembatasan nama-nama yang diundang. Gus Dur menyebut, sepertinya hanya mereka yang 'Islam Masjid' yang boleh masuk ICMI. Sedangkan 'Islam Alun-alun' sama sekali tidak diajak, baik sebagai eksponen maupun pembawa makalah.
 
Gus Dur menegaskan bahwa keberatannya kepada ICMI bukan sebagai keberatan NU secara institusi, melainkan keberatan diri pribadinya. Karena orang NU seperti Yusuf Hasyim dan KH Ali Yafie termasuk yang hadir dalam simposium tersebut.
 
Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Kendi Setiawan     
Selasa 24 September 2019 12:10 WIB
Penyebab Bencana Kabut Asap Selama Berabad-abad Silam
Penyebab Bencana Kabut Asap Selama Berabad-abad Silam
Perusahaan membakar hutan di Gala-Gala, Tapanuli tahun 1933. (Foto: KITLV via Historia)
Bencana kabut asap, khususnya di Indonesia kerap kali terjadi dan hampir setiap tahun mendatangi sebagian kawasan Pulau Sumatera dan seluruh wilayah Pulau Kalimantan. Ironisnya, tragedi yang terjadi setiap tahun ini seolah tidak menjadi pelajaran bagi pihak-pihak terkait (stakeholders), baik masyarakat maupun pemerintah untuk menanganinya secara taktis dan strategis.

Bahkan, bencana kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya terjadi beberapa 20 tahun belakangan, tetapi juga sudah berlangsung sejak berabad-abad silam. Asap pekat yang sudah sering membumbung, pernah dicatat para pejabat kolonial Hindia-Belanda dan para pengelana.
 
Kisah William Marsden dalam History of Sumatra yang pertama kali terbit tahun 1783 menjadi pintu gerbang dalam memahami sejarah kabut asap di Nusantara. Dikutip dari Historia, Marsden pernah bertugas sebagai pegawai sipil di East India Company (Kongsi Dagang Inggris) yang berpusat di Bengkulu pada 1771 hingga 1779. Selama itu, dia berkelana meneliti etnografi dan kebiasaan suku-suku bangsa yang ada di Pulau Sumatera.
 
Dalam proses kelananya itu, Marsden mendapati pada April-Mei, jelang musim kemarau, petani telah memilih dan menandai hutan untuk ladangnya. Masyarakat memilih cara cepat meratakan pohon-pohon besar di hutan dengan memercikan api dari penggosokan dua potong kayu kering.
 
Pada 6 Juli 1863, kapal Josephine membongkar sauh di Kuala Sungai Deli. Kapal tersebut membawa Jacobus Nienhuijs, wakil-wakil perusahaan dagang J.F. van Leeuwen & Co. (perusahaan tembakau Belanda di Surabaya), seorang pangeran bernama Said Abdullah Ibnu Umar Bilsagih dan para pemilik kapal tersebut.

Kedatangan Nienhuijs dkk, sekaligus memulai babak baru Deli, menjadi pusat perkebunan di Timur. Lands Dollar, begitu media barat menyebutnya. Sultan Deli menyewakan tanah dan hutan di Sumatera Timur untuk dikavling-kavling menjadi perkebunan tembakau. Selanjutnya berubah menjadi perkebunan karet dan sawit.
 
Liberalisasi perkebunan semakin tumbuh subur seiring keluarnya Undang-Undang Agraria tahun 1870. UU ini memberikan perlindungan pada para pengusaha yang akan menginvestasikan modal mereka, khususnya di sektor perkebunan dan pertambangan. UU ini menjamin ketersediaan tanah untuk dikelola.
 
Meski lahan dan hutan Sumatera dikapitalisasi, tetapi pola pembukaan lahan dan hutan untuk perkebunan tetap dengan metode nenek moyang, yaitu dibakar. Belum bergesernya sistem peladangan tersebut, dikatakan Eri Gas Ekaputra, ahli teknik tanah dan air Universitas Andalas, karena membakar adalah cara murah dan efektif dalam membuka ladang. Di sisi lain, pengawasan lemah, izin murah, dan tidak ada regulasi yang tegas.
 
"Di timur Sumatera, karena tanahnya datar, sehingga bisa diblok-blok. Tidak perlu minyak yang banyak, karena gambut. Cukup satu drigen miyak tanah, 500 ha bisa terbakar," ucap Eri. "Pengusaha tentunya mau untung besar. Efeknya tidak dipedulikan. Kalau rakyat membuka lahan tidak segini efeknya. Ini kan perkebunan."

Solusi yang bisa dikedepankan, sebut Eri, mekanisasi pertanian, artinya memakai alat-alat teknologi pertanian. Misal mesin pemotong rumput, kayu alat shinshaw, pakai alat berat (ekskavator). Tapi biayanya memang tinggi,
 
Eri mengatakan, secara mekanisasi, sebetulnya nenek moyang telah menerapkannya. Persis dengan temuan lain Marsden dalam kelananya di Sumatera. Di beberapa daerah Sumatera, sebetulnya pembukaan ladang cukup ramah lingkungan, tidak menebarkan bencana.

Madelon Szekely- Lulofs (1899-1958), istri Laszlo Szekely, sang pemilik perkebunan di Asahan tahun 1918-1930, berkisah, asap cokelat kusam mewarnai cakrawala. Panas terasa bagai lelehan metal yang turun dari langit.
 
"Menjelang siang, hutan di belakang rumah dibakar. Pada siang hari yang tidak berangin, lidah api tampak tegak bagaikan pilar-pilar di tengah kepulan asap yang pelan-pelan naik ke udara membentuk kabut keabu-abuan yang mulai menutupi langit," cerita Madelon dalam Sumatera Tempo Doeloe- dari Marco Polo sampai Tan Malaka suntingan Anthony Reid. Anthony Reid sendiri menulis dua jilid buku berjudul Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1860. 
 
Jauh sebelum swastanisasi tanah Deli, masyarakat di sana sudah membiasakan pembakaran sebagai sistem pengelolaan pertanian. "Petani-petani ladang telah melakukan pembukaan dan pembakaran hutan pada musim kering yang akan digunakan menanam umbi-umbian, sayur-mayur, tebu, dan pisang," tulis Iyos Rosidah dalam tesis Eksploitasi Pekerja Perempuan di Perkebunan Deli Sumatera Timur 1870-1930 dikutip Historia.

Indonesia selalu dilanda kabut asap pada musim kemarau setiap tahunnya. Namun, kabut asap di tahun 2015 disebut NASA sebagai yang paling parah akibat fenomena El Nino.
 
Polusi asap ini terjadi akibat kebakaran hutan di beberapa provinsi yang ada di Sumatra, antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, serta dari Pulau Kalimantan. Pada 14 September 2015, status darurat ditetapkan di Riau lantaran tingkat pencemarannya telah melebihi batas berbahaya. Dilaporkan ribuan warga terpaksa mengungsi ke luar wilayah.
 
Tak hanya melanda Indonesia, kabut asap ini bahkan sampai 'diekspor' ke Singapura dan Malaysia. Dilansir dari The Guardian, pemerintah Indonesia menyebut korban tewas dalam peristiwa ini mencapai 19 orang. Sementara itu, Rp300-475 triliun harus digelontorkan untuk mitigasi. Sekolah di wilayah terdampak di Indonesia, Malaysia, dan Singapura juga ditutup.
 
Saat hujan lebat mengguyur Sumatera dan Kalimantan di akhir Oktober 2015, jumlah kebakaran hutan secara signifikan menurun sehingga kabut asap berangsung-angsur hilang. Peringatan kabut asap di Singapura pun dicabut pada 15 November 2015.
 
Namun, kabut asap ini seakan telah menjadi bencana tahunan tanpa solusi berarti. Pembakaran hutan dan lahan untuk kebutuhan tertentu telah mengabaikan keselamatan masyarakat. Warga secara umum mungkin tidak habis pikir, tetapi sejarah telah membuktikan bahwa hutan dan lahan dibakar secara sengaja. Para pengambil kebijakan harus bertindak tegas terhadap praktik pembakaran hutan dan lahan yang tidak hanya mengganggu, tetapi juga membunuh ini.
 
Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Kendi Setiawan
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG