IMG-LOGO
Nasional

Upaya NU Mewarnai Islam Indonesia di Eropa

Kamis 3 Oktober 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Upaya NU Mewarnai Islam Indonesia di Eropa
Yanwar Pribadi (tengah) saat menjadi panelis dalam AICIS 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Rabu (2/10). (NU Online/Syakir NF)
Jakarta, NU Online
Eropa saat ini masih dihantui oleh Islam yang datang dari imigran Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Kehadiran cabang Nahdlatul Ulama di beberapa negara di sana dalam rangka menghadirkan Islam ala Indonesia.

“NU dan Muslim lain ingin berusaha, sedang berusaha, setidaknya tidak mengubah, tapi mewarnai Islam Indonesia sedikit diperhatikan,” kata Yanwar Pribadi, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, saat panelis dalam Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Rabu (2/10).

Namun, menurutnya, untuk mencapai apa yang diharapkan masih cukup jauh. Pasalnya, cara dakwah NU di Indonesia masih dibawa ke belahan dunia yang jauh berbeda secara sosial dan budayanya.

“Cara berdakwah NU masih dibawa di Eropa,” kata penulis buku Islam, State and Society in Indonesia: Local Politics in Madura itu.

Media sosial dan digital, katanya, masih belum menjadi sarana alternatif dalam menyampaikan dakwahnya ke Muslim yang tinggal di sana. Bahkan, dalam penelitiannya di Belanda dan Jerman, keterlibatan Nahdliyin di sana dengan komunitas Muslim di sana masih sangat rendah di dunia Islam sana. Menurutnya, persoalan utamanya adalah bahasa.

Ada mahasiswa yang memiliki kemampuan agama mumpuni, tetapi dia tidak bisa interaksi dengan masyarakat di sana karena kurang aktif berbahasa negara yang ditinggalinya. Sebaliknya, ada orang yang mampu berbahasa Belanda dan Jerman dengan baik, tetapi tidak begitu memahami persoalan agama.

Meskipun demikian, harapan pengecatan Islam di Eropa dengan warna Islam Indonesia itu tetap ada. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda, misalnya, yang telah dua kali berhasil menggelar konferensi ilmiah, yakni di Amsterdam pada tahun 2017 dan di Nijmegen pada tahun 2019.

Yanwar menjelaskan bahwa pihak kampus penyelenggara mengakui bahwa hal tersebut hanya memberikan dampak kecil di publik. Namun, pertemuan ilmiah yang membahas tentang Islam Nusantara dan moderatisme Islam itu menjadi suara baru bagi pemerintah.

“Terus terang, konferensi ini sedikit banyak memberikan pendengaran baru bagi pemerintahan Belanda,” ujarnya dalam konferensi bertema Digital Islam, Education, and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam itu.

PCINU Belanda melalui konferensinya tersebut, jelasnya, berusaha untuk membuka mata pemerintah di sana untuk memperhatikan agama yang dianggap penting di mata masyarakat imigran.

Selain itu, konferensi tersebut juga, katanya, memberikan sisi Islam lain yang selama ini tidak diketahui oleh pemerintah, yaitu Indonesia. Menurutnya, suara konferensi itu mungkin menjadi alternatif kebijakan pemerintah di sana dalam memandang Islam.

Pertumbuhan NU juga, lanjutnya, mulai tumbuh di Inggris dengan inisiasinya membuat buku tentang Diplomasi Islam Nusantara di berbagai belahan dunia.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Fathoni Ahmad
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 3 Oktober 2019 22:30 WIB
Belajar Agama dengan Riang Gembira
Belajar Agama dengan Riang Gembira
Diskusi panel pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Rabu (2/10) malam. (Foto: NU Online/Syakir NF)
Jakarta, NU Online
Pembelajaran agama di kalangan anak muda mengalami pergeseran. Mereka mempelajari ajaran agama tidak lagi dengan metode yang monoton, tetapi dengan cara yang lebih baru dan menyegarkan.
 
Hal itu diungkapkan oleh Najib Kailani, pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, saat mengisi diskusi panel pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Rabu (2/10) malam.
 
Najib menjelaskan bahwa pembelajaran agama dengan menyenangkan lebih diminati oleh kalangan muda.
 
Selain itu, kawula muda juga mudah diajak dengan cerita-cerita pertaubatan seorang ustaznya yang memiliki jejak kelam di masa silam. Dengan begitu, katanya, mereka menjadi merasa terlahir kembali sebagai seorang Muslim.
 
Di abad 21 ini juga, masyarakat belajar agama Islam tidak lagi di ruang-ruang khusus seperti masjid, tapi juga di tempat-tempat yang lebih umum dan terbuka seperti kafe.
 
Hal serupa diungkapkan Irfan Amalee dari Peace Generation, Bandung. Ia menyampaikan bahwa orang yang tergolong generasi Z berprinsip yang penting senang.
 
Tak ayal, ia membuat pembelajaran agama melalui permainan (game) di gawai. Pasalnya, penyampaian satu arah tidak lagi efektif bagi penduduk asli dunia digital itu.
 
Lebih lanjut, dengan game, Irfan mengatakan pengguna lebih mudah menularkan atau mengajak rekan-rekannya untuk turut gabung bermain.
 
Di sisi lain, lanjutnya, game memberikan nuansa petualangan yang digemari oleh generasi kekinian. Ia mencontohkan seorang anak yang pergi ke Timur Tengah untuk ikut Islamic State of Irak and Syiria (ISIS), ditengarai hanya karena keinginannya berjalan-jalan di padang pasir, lalu menemui unta sembari memberinya makan.
 
"Yang mengatur itu need for adventure (kebutuhan berpetualang), bukan ideologi," kata pria lulusan Universitas Brandeis, Massachusetss, Amerika Serikat itu.
 
Hal demikian, imbuhnya, belum sempat dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) Islam moderat besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
 
Oleh karena itu, dalam menghadapi zaman yang sudah demikian ini, Komedian Tunggal Sakdiyah Makruf menekankan bahwa kesadaran akan adanya Tuhan dan kewajiban kemanusiaan menjadi hal penting yang harus dipertahankan.
 
Sebab, manusia merupakan khalifah di bumi. Karenanya, kesadaran dan tanggung jawab menjadi hal inti.
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Muhammad Faizin
Kamis 3 Oktober 2019 21:30 WIB
Profesor University of New Castle Australia Kagumi Fondasi Keluarga Indonesia
Profesor University of New Castle Australia Kagumi Fondasi Keluarga Indonesia
Alan Hayes AM, profesor dari University of New Castle Australia di Forum AICIS 2019. (Foto: Humas Pendis)
Jakarta, NU Online
Keluarga adalah skup terpenting dalam mengkomunikasikan keyakinan dan kerukunan. Indonesia merupakan negara penganut prinsip agama Ibrahim yang memiliki tradisi religiusitas yang kuat.

Alan Hayes AM, profesor dari University of New Castle Australia memuji ide-ide kebaikan yang ditanamkan para orang tua di Indonesia kepada anak-anaknya.

"Kekuatan utama orang Indonesia terbangun dari fondasi keluarga dan komunitas yang cukup agamis," kata Hayes seperti keterangan Humas Pendis Kemenag kepada NU Online, Selasa (3/10).

Ini bukan hal yang spesifik, namun di masyarakat Indonesia yang heterogen, masyarakat telah memiliki resistensi dalam tingkat tertentu dari gangguan paham intoleransi dan anti-pluralisme.

Toleransi beragama di Indonesia bisa dibilang belum sepenuhnya baik. Masih ada saja kasus-kasus yang menodainya, seperti pengrusakan rumah warga yang mengeluhkan pengeras suara adzan di Tanjungbalai, Sumatera Utara pada Juli 2016 lalu.

Hayes merupakan profesor yang mengepalai Family Action Center di The University of Newcastle Australia. Ia juga memegang Hayes Family Foundation, sebuah lembaga yang membantu konsultasi bagi keluarga yang membutuhkan bantuan.

Keluarga memiliki peranan penting dalam membentuk karakter seorang anak. Sebagai suatu sistem sosial terkecil, keluarga menanamkan nilai-nilai moral dalam kepribadian yang menjadi dasar mentalitas seseorang.

Keluarga memiliki fungsi kompleks yang tidak hanya mengenai produksi dan konsumsi, tetapi juga mental dan spiritual. Di negara Indonesia yang masyarakatnya agamis dan pranata sosialnya cukup kuat, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter seorang anak.

Berbagai tema mengenai Islam dan era digital dibahas di forum AICIS. AICIS adalah forum kajian keislaman yang telah berjalan sejak 19 tahun lalu. Pada gelaran AICIS ke 19 ini, sekitar 1700 sarjana islamic studies berkumpul di indonesia selama empat hari, pada 1-4 Oktober 2019. Pertemuan ini membahas 450 paper dari 1300 yang diseleksi.

Editor: Fathoni Ahmad
Kamis 3 Oktober 2019 20:0 WIB
Kiai Said Meletakkan Batu Pertama Gedung Pusdiklat LP Ma’arif NU
Kiai Said Meletakkan Batu Pertama Gedung Pusdiklat LP Ma’arif NU
"Orang-orang mencuri, potong tangan. Orang zina dirajam sampai mati, kenapa kita tidak, karena Kiai mendahulukan akhlak, budaya," ujar Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat memberikan sambutan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pusdiklat Lembaga Pendidikan Ma'arif NU di Grogol, Jakarta Barat.

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Lembaga Pendidikan Ma'arif NU di Grogol, Jakarta Barat, Kamis (3/10). Kegiatan tersebut menandakan dimulainya pembangunan gedung yang diperuntukan sebagai tempat pengembangan kapasitas ribuan guru NU tersebut.

 

Dalam sambutannya, Kiai Said berharap agar hadirnya Pusdiklat LP Ma’arif NU tersebut dapat menjadi pusat pendidikan yang bernafaskan Islam Ahlusunah wal Jamaah, mengusung arus Islam moderat dan anti radikalisme.

 

"Alhamdulillah, Insyaallah ke depan ini akan dibangun di sini Pusat Diklat yang bernafaskan Ahlussunah wal Jamaah," kata Kiai Said seraya mengingatkan bahaya radikisme yang sudah masuk pada semua lini, termasuk lembaga pemerintahan.

 

Di bagian lain, Kiai Said menegaskan bahwa para kiai di pesantren mengkaji syariat Islam dari berbagai literatur kitab kuning. Di dalamnya tentu dibahas hukuman bagi orang yang mencuri, zina, dan pelanggaran lain yang kerap dilakukan umat manusia. Namun, para kiai tidak memberlakukan hukuman tersebut karena mereka mengedepankan akhlak.

 

"Orang-orang mencuri, potong tangan. Orang zina dirajam sampai mati, kenapa kita tidak, karena Kiai mendahulukan akhlak, budaya," ujarnya.

 

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat LP Ma’arif NU, H Zainal Arifin Junaidi mengatakan rencana membangun gedung Pusdiklat LP Ma’arif NU sudah muncul sejak beberapa tahun yang lalu. Namun karena berbagai hal akhirnya lembaga yang nantinya akan dijadikan pusat pelatihan bagi guru NU tersebut, baru terealisasi tahun 2019.

 

Ia menceritakan bagaimana dulu LP Ma’arif NU mendapatkan lahan untuk dijadikan sekolah NU di Jakarta Barat tersebut. Dikatakannya, menurut rencana, gedung Pusdiklat LP Ma’arif NU itu dibangun 4 lantai, di dalamnya terdapat ruangan pelatihan, perpustakaan, dan penginapan.

 

"Jadi nanti, mungkin ada perpustakaan segala macam, nanti rangkap dengan laboratorium juga. Nanti kami juga menambah kelas karena laporan yang kami terima sekolahan ini menolak ratusan siswa karena tempat tidak mampu menampung," katanya.

 

Dalam acara tersebut, hadir antara lain Ketua Pengurus Wilayah NU yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, H Saefullah, jajaran Katib Syuriah PBNU, Direktur Keuangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Faisal Sahrul, Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Masykuri, Direktur Keuangan BNI, Ario Bimo dan ratusan guru serta siswa-siswi SMK/SMP Ma'arif NU Jakarta Barat.

 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Aryudi AR

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG