IMG-LOGO
Nasional

Gagahnya Santri Darul Fallah Bogor Menjadi Petani

Ahad 6 Oktober 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Gagahnya Santri Darul Fallah Bogor Menjadi Petani
Santri Darul Fallah Bogor mempelajari pertanian (Foto: Fb Pesantren Darul Fallah)
Upaya mendekatkan santri pada kemandirian telah digalakkan sejak lama. Salah satunya di Pesantren Darul Fallah Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Ratusan santri asal Jawa Barat, Banten, Lampung, Palembang, Riau, dan daerah lainnya ditempa di Pesantren Pertanian Darul Fallah.
 
Nunu Ahmad An-Nahidl, dalam buku Top 10 Ekosantri Pionir Kemandirian Pesantren terbitan Puslitbang Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tahun 2017, menyebutkan dari sisi nama saja, Pesantren Darul Fallahjelas ingin mengembangkan sebuah visi pendidikan yang lebih spesifik. Bukan hanya pendidikan dan dakwah semata, tulis Nunu, melainkan pengembangan masyarakat.
 
"Di sini santri dan masyarakat menjadi pelaku langsung dalam upaya penguatan ilmu pengetahuan dan keterampilan tentang pertanian dan kewirausahaan," tulis Nunu pada halaman 63 buku yang penyuntingannya dikerjakan oleh Achmad Syalaby Ichsan.

Nunu juga menuliskan, sebagaimana pesantren pada umumnya yang ingin membentuk Muslim yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, begitu pula Pesantren Darul Falah. Pondok ini secara khusus ingin melahirkan umat Muslim yang mandiri. Kemandirian menjadi nilai dasar dan karakter penting yang niscaya dimiliki oleh lulusan pesantren dalam konteks peningkatan harkat kehidupan diri pribadi, keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini, masih kata Nunu, penegakan agama (iqomatuddin) akan lebih kuat dan kokoh manakala dilakukan oleh para lulusan pesantren yang kreatif, inovatif dan mandiri.
 
Personifikasi santri yang mandiri secara ekonomi adalah cita-­cita luhur KH Sholeh Iskandar, dan itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Pesantren Pertanian Darul Fallah, antara lain fokus kepada bidang pertanian.  Kemampuan santri mengelola ranah pertanian merupakan media penting untuk melakukan dakwah bil­hal. Santri pun dituntut untuk terus mengembangkan kemampuannya dalam menjaga kemandirian agar dia dapat bermanfaat lebih banyak bagi umat dan bangsa.
 
Dalam buku tersebut, Nunu meneruskan, paling tidak terdapat tiga upaya dan aktivitas yang dilakukan santri Pesantren Pertanian Darul Fallah untuk meraih kemandirian, yaitu praktik pertanian, praktik magang, dan program pascamagang. Tiga hal itu menjadi modal dasar yang diberikan pesantren agar santri siap menapak jejak kehidupan.
 
Melatih Santri Mandiri
 
Nunu mengakui, menumbuhkan semangat kemandirian di kalangan santri bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana, bahkan bisa dikatakan berat. Sebagai contoh, membiasakan santri ke kebun setiap pagi itu perlu upaya yang luar biasa. Dahulu, sebelum mengikuti kurikulum Kementerian Agama, santri Darul Fallah diharuskan ke kebun atau lahan pertanian milik pesantren setiap hari di pagi hari. Kewajiban itu mengalami penyesuaian waktu setelah pesantren mulai mengadopsi kurikulum Pemerintah.
 
Saat ini santri yang duduk di kelas X dan XI, sebanyak tiga kali dalam seminggu masih diharuskan ke kebun atau lahan pertanian setiap pagi. Selepas pengajian Tafsir Jalalain yang diikuti seluruh santri pada bakda Subuh, sebagian para santri mulai digerakkan menuju kebun pada pukul 06.00 WIB. Posisi kebun rata­-rata tidak terlalu jauh dari pesantren, sehingga dapat ditempuh dengan jalan kaki sambil berolahraga. Pesantren juga memiliki sejumlah lahan di beberapa wilayah sekitar pesantren sebagai tempat praktik pertanian.    

"Selama kisaran satu jam, para santri dididik praktik pertanian sesuai dengan programnya pada setiap semester di bawah bimbingan guru praktik. Misalnya, pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2016-­2017, santri kelas X di diberikan pelatihan tentang menanam sayuran atau palawija. Mereka pun membawa berbagai perlengkapan tani seperti pacul dan lainnya menuju kebun. Di sana santri diajarkan tata cara menanam sayuran atau palawija. Jenis praktik pertanian yang dipelajari santri akan berganti komoditasnya pada setiap semester, seperti menanam bayam, cabe, budidaya lele, memelihara ternak dan lainnya," sebut Nunu pada halaman 64.
 
Lalu apa yang menjadi alasan para santri dipaksa untuk bertani? Pertama, tujuan dari kegiatan ini untuk melatih dan membiasakan santri dengan lingkungan pertanian. Hal ini dipandang penting, mengingat visi dan misi pesantren adalah melaksanakan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai­nilai keislaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemandirian dalam berwirausaha.
 
Dalam pembiasaan praktik pertanian dimana santri digerakkan ke kebun pada pagi hari itu, pesantren juga sesungguhnya sedang melaksanakan pembelajaran yang mendorong santri peduli terhadap lingkungan di mana santri berada, terutama setelah mereka kembali ke tempat masing-masing. Pihak pesantren berharap agar santri alumni Pesantren Darul Fallah memiliki kesadaran penuh untuk kembali ke kampung halamannya. Mereka bisa berperan serta membangun daerahnya dengan mengelola dan mengembangkan berbagai kecakapan dan keterampilan berdasarkan ilmu dan pengalaman yang diperolehnya di pesantren.
 
Alasan kedua, sambung Nunu dalam tulisan yang berdasar penelitian awal 2017, santri diberikan pengalaman langsung tentang praktik bertani dengan belajar menanam kangkung, menanam cabe, dan membudidayakan lele, misalnya. Praktik ini tidak diarahkan untuk memperoleh nilai keuntungan (profit), melainkan lebih ditekankan kepada prosesnya ketimbang hasil yang didapatkan.

Proses atau kondisi di mana santri berupaya secara terus­-menerus untuk menghasilkan sesuatu dengan fokus kepada target pencapaian adalah ruang pembelajaran yang luas untuk menjadi dan menghasilkan apa pun. Sementara hasil praktik pertanian santri itu sendiri bahkan bisa saja tidak terlihat atau gagal. Pembiasaan yang dialami santri memberikan pengalaman dan pengaruh yang luar biasa terhadap pengetahuan santri tentang pertanian.
 
Faktor ketiga, praktik pertanian akan melatih kedisiplinan santri. Faktanya, tidak hanya santri yang merasa segan atau berat untuk pergi ke kebun, bahkan perasaan serupa juga terkadang menimpa guru praktiknya. Di sinilah semangat dan kedisiplinan tampaknya menjadi ujian yang berharga. Tidak hanya kepada santri, bahkan juga gurunya. Jika orang lain berangkat ke kantor di pagi hari, justeru pada saat yang bersamaan, guru dan santri Darul Fallah pergi ke kebun. 

Pengalaman ke kebun terbukti memberikan pengaruh yang luar biasa, baik secara mental dan terutama bertambahnya pengetahuan santri. Hal ini pasti dirasakan langsung oleh santri setelah mereka menyelesaikan pendidikannya di Darul Fallah dan mulai mengembangkan diri di tengah masyarakat. Bergaul dengan berbagai pihak di luar pesantren. 
 
Editor: Kendi Setiawan
 
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 6 Oktober 2019 15:0 WIB
Ketua PBNU Ajak Madura Satukan Potensi untuk Bangsa
Ketua PBNU Ajak Madura Satukan Potensi untuk Bangsa
Konsolidasi dan Dialog Kebangsaan Korda Nahdlatul Ulama Madura Raya. (Foto: NU Online/Abdullah Hafidi)
Bangkalan, NU Online
Potensi yang dimiliki bangsa ini harus terus terkonsolidasi. Pada saat yang sama, kekuatan dalam Nahdlatul Ulama hendaknya turut dioptimalkan demi menopang masa depan bangsa.
 
Berangkat dari realita tersebut, Koordinatorat Daerah (Korda) Nahdlatul Ulama Madura Raya menggelar Konsolidasi dan Dialog Kebangsaan Pengurus NU se-Madura, Sabtu (5/10).
 
“Tujuan diadakannya konsolidasi dan dialog kebangsaan ini yaitu untuk memperkokoh soliditas pengurus NU se-Madura dalam berkhidmat kepada NU dan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI,” kata Ketua Korda NU Madura Raya, KH Muhammad Makki Nasir.
 
Selain itu, konsolidasi semakin penting untuk memperkokoh persatuan antara pengurus NU dan tokoh Madura yang meliputi empat kabupaten yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
 
“Hal itu dalam mewujudkan pembangunan Madura yang lebih maju," jelasnya pada acara yang juga dihadiri sejumlah tokoh tersebut.
 
Kegiatan juga diisi dengan dialog interaktif untuk mengupas dan mendiskusikan beragam persoalan kebangsaan. “Juga menggali solusi sebagai dasar sikap bersama,” ungkapnya.
 
Pada acara yang digelar di Pendopo Pratanu, Kantor Dinas Bupati Bangkalan tersebut dihadiri Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Marsudi Syuhud.
 
Dalam sambutannya, Pengasuh Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini menjelaskan bahwasanya NU didirikan atas dasar empat pilar, di antaranya kebangkitan nasionalisme yang dikembangkan melalui pendidikan yaitu madrasah Nahdlatul Wathan.
 
“Kedua, melalui kebangkitan pemikiran atau Nahdlatul Fikri yang juga disebut dengan Taswirul Afkar. Dan ketiga yakni kebangkitan perekonomian atau Nahdlatut Tujjar,” ungkapnya. Sedangkan yang keempat melalui peran internasional, yang dimulai dengan dibentuknya Komite Hijaz, lanjutnya. 
 
“Karenanya, NU selalu bergerak atas dasar empat pilar ini," tegasnya.
KH Marsudi Syuhud.menerangkan sepak terjang PBNU yang kadang disalah pahami oleh warga NU atau Nahdliyin di bawah, seperti kegiatan beberapa pengurus yang sering melakukan kunjungan kerja ke luar negeri.
 
"Itu sebenarnya adalah amanah empat pilar berdirinya NU tadi, dan yang terbaru dengan kampanye perdamaian dunia melalui Islam Nusantara yang disampaikan ke berbagai negara di dunia,” terangnya.
 
Dirinya kemudian menjelaskan bahwa sejak dulu Gus Dur mengajari mengenal tokoh dunia. 
 
“Makanya PBNU sekarang terlibat aktif dalam menyampaikan pesan perdamaian dunia,” jelasnya.
 
Karenanya, apa yang dilakukan selama ini sebagai upaya pelaksanaan mimpi dari para pendiri NU. “Yakni menginginkan jamiyah ini terlibat aktif dalam dunia internasional sebagaimana Komite Hijaz dulu," katanya.
 
Acara diisi juga dengan dialog interaktif untuk menampung aspirasi dari sejumlah pengurus NU dari berbagai kawasan di Madura.
 
"NU itu lahir dan mimpinya dari Madura khususnya Bangkalan. Maka sudah seharusnya pengurus NU di Madura berperan aktif dalam program-program NU," harapnya.
 
Tampak hadir pada acara tersebut jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, di antaranya KH Abdul Azhim Cholili (wakil rais) dan KH A Jazuli Nur (wakil ketua).
 
Acara juga dihadiri Bupati Bangkalan sekaligus A'wan PWNU Jawa Timur, R Abdul Latief Amin. Nampak pula Ketua Ikatan Keluarga Madura (Ikama) Pusat, H Rawi. 
 
 
Kontributor: Abdullah Hafidi
Editor: Ibnu Nawawi
 
Ahad 6 Oktober 2019 14:30 WIB
UIN Palembang Tuan Rumah Perkemahan Wirakarya Kampus Agama
UIN Palembang Tuan Rumah Perkemahan Wirakarya Kampus Agama
Rapat persiapan Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Keagamaan (PWPTK) XV tahun 2020. (Foto: NU Online/Imam Kusnin Ahmad)
Palembang, NU Online
Kementerian Agama akan menggelar Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Keagamaan (PWPTK) XV tahun 2020. Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang telah ditetapkan menjadi tuan rumah kegiatan perkemahan bagi kalangan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) ini.
 
Ruchman Basori Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan mewakili Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kemenag Arskal Salim GP menyatakan, perkemahan wirakarya merupakan ajang apresiasi. Juga unjuk karya atas pembinaan pramuka yang selama ini dilakukan oleh UIN, IAIN, STAIN dan PTKIS.
 
“Melalui PWPTK kita akan melihat kapasitas, kreativitas dan semangat mahasiswa pandega dari hasil pembinaan dan dinamika kegatan kepramukaan di pangkalan PTKI,” tutur Ruchman di hadapan Pembina Pramuka PTKIN se-Indonesia, Ahad (6/10).
 
Ruchman berharap agar PWPTK 2020 akan diperkuat dengan mengundang Pramuka luar negeri minimal dari negara tetangga di Asia Tenggara untuk meningkatkan pergaulan dan kepedulian global. 
 
“Menjadi keharusan pramuka PTKI untuk membangun kepedulian mengatasi radikalisme dan intoleransi antar kawasan dengan pramuka lain dengan mengedepankan moderasi beragama,” katanya. 
 
Di samping itu, keberadaan perkemahan penting dalam upaya menjawab tantangan pada revolusi industri 4.0.
 
“Perkemahan Wirakarya PTK harus menjawab kebutuhan pramuka mahasiswa yang notebenenya adalah generasi milenial dan menjawab tantangan revolusi industri 4,0,” harap Ruchman.
 
Waryono Abdul Ghofur selaku Ketua Forum Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama PTKIN se-Indonesia mengatakan kegiatan PWPTK harus sukes. Salah satunya dengan mengedepankan koordinasi dan kolaborasi antara tuan rumah, Kementerian Agama, Wakil Rektor III dan unsur pembina Pramuka.
 
Waryono berharap melalui Gerakan Pramuka pengembangan karakter, penguatan nilai-nilai kebangsaan sekaligus moderasi beragama menjadi efektif ditanamkan kepada mahasiswa PTKI.
 
Rina Antasarim, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Raden Fatah mengatakan, PWPTK XV dengan menjadikan kampusnya menjadi tuan rumah adalah kehormatan sekaligus tantangan bagi UIN Rafa.
 
“Karenanya kita akan persiapkan dengan baik dengan menggandeng pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dan kota,” jelasnya.
 
Perkemahan akan digelar di Desa Payakabung, Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir. 
 
"Pemda akan membantu penyiapan infra struktur perkemahan yang berada di tanah seluas 20 hektar milik UIN Raden Fatah Palembang," kata Rina.
 
Kak Nanang Saikhu sebagai Ketua Forum Pembina Pramuka PTKIN se-Indonesia mengatakan kegiatan FGD Pembina Pramuka PTKIN digelar untuk membahas revitalisasi Gerakan Pramuka di kalangan PTKI.
 
Kegiatan juga dalam rangka membantu mempersiapkan penyelenggaraan Perkemahan Wirakarya tahun depan. 
 
Rapat dihadiri perwakilan pembina PTKIN, Wakil Rektor Bidang Kemahsiswaan dan Kerja Sama UIN Yogyakarta, UIN Rafa dan IAIN Batusangkar.
 
 
Pewarta: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi
 
Ahad 6 Oktober 2019 12:30 WIB
Generasi Unggul Harus Tumbuh Subur di Indonesia
Generasi Unggul Harus Tumbuh Subur di Indonesia
Ketua LKKNU Ida Fauziyah saat membuka kegiatan Festival Gerakan Keluarga Maslahah di Acacia Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (6/10) pagi. (Foto: NU Online/AR Ahdori)
Jakarta, NU Online
Generasi unggul yang menjadi harapan segenap bangsa harus tumbuh subur di negara Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu dimulai dari lingkaran terkecil, yakni keluarga.
 
Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKKNU), Ida Fauziyah, mengatakan hal tersebut saat membuka kegiatan Festival Gerakan Keluarga Maslahah di Acacia Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (6/10) pagi.
 
"Keluarga harus dianggap penting sebagai perangkat yang dapat melahirkan generasi tangguh serta generasi yang mampu menjawab tantangan zaman," tandas Ida. 
 
Menurut dia, harapan tersebut muncul jika iklim dalam keluarga kondusif dan maslahah. Keluarga maslahah, lanjutnya, berpeluang melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan tangguh.
 
“Bisa kan membangun Indonesia yang maju di saat menghadapi beberapa masalah? Semua itu bisa kalau semua sudah menganggap keluarga sebagai bagian terpenting untuk melahirkan keluarga tangguh dan menjawab tantangan zaman,” katanya.
 
Ia mengungkapkan, untuk menciptakan keluarga yang maslahah harus diawali dari suami atau istri yang shaleh atau shalehah. Juga harus memperhatikan nafkah yang digunakan keluarga apakah halal atau tidak. Dengan begitu, upaya menyambut golden moment oleh keluarga di Indonesia bisa terpenuhi.
 
“Berangkat dari itu bagaimana menyambut golden moment kalau tidak menganggap keluarga itu penting,” ucapnya menegaskan.
 
Aktivis perempuan asal Jawa Timur ini menyebutkan dua mandat yang diberikan PBNU kepada LKKNU. Pertama, menjaga Islam Ahlusunnah Wal Jamaah di lingkungan keluarga. Kedua, menanamkan penguatan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
Dua komitmen yang diikhtiarkan LKKNU itu, lanjutnya, sudah dimulai dari keluarga pengurus Nahdlatul Ulama di semua level. Jika komitmen tersebut terus digerakkan, Ida optimis akan lahir generasi yang unggul dan mencintai agama dan negaranya.
 
“Visi kami adalah mengabarkan Indonesia menuju Indonesia yang berkeadilan dan berkeadaban. Jadi, tugas ini akan ringan apabila dibantu seluruh penggerak LKKNU,  menjadi ambassador (duta) bagi terciptanya keluarga yang maslahah,” tuturnya.
 
Seperti diketahui, Festival Gerakan Keluarga Maslahah merupakan rangkaian dari Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang dihadiri 25 Pengurus Wilayah se-Indonesia, sejak Jum'at (4/10) lalu. LKKNU adalah salah satu lembaga di NU yang ditugaskan PBNU mengawal mengenai kemaslahatan keluarga.
 
 
Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Musthofa Asrori
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG