IMG-LOGO
Internasional

Habib Lutfi Dinobatkan Sebagai Anggota Akademi Kerajaan Yordania

Selasa 8 Oktober 2019 23:15 WIB
Bagikan:
Habib Lutfi Dinobatkan Sebagai Anggota Akademi Kerajaan Yordania
Foto: Habib Luthfi
Amman, NU Online
Habib Luthfi bin Yahya kini menjadi anggota akademi diraja (royal academi) Kerajaan Yordania. Hal itu terjadi sesaat setelah Habi Luthfi menerima sertifikat keanggotaan dari The Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought, sebuah lembaga independen non-pemerintah Islam internasional yang berkantor pusat di Amman, Yordania.

Informasi tentang Habib Luthfi tersebut disampaikan dosen di New York University, Ismail Fajrie Alatas (Aji) melalui akun Twitternya @ifalatas pada Senin, (7/10).
 
Bersama dengan Habib Luthfi, Aji juga dilantik menjadi anggota akademi kerajaan Yordania. Acara seremoni pelantikan tersebut digelar di Istana Al Husseiniya, Yordania. Pangeran Al-Ghazi mengumumkan nama-nama anggota kerajaan baru.

“Hari ini saya dan guru saya @HabibluthfiYahy dilantik menjadi anggota akademi diraja Yordania (royal academy),” tulis Aji. 

Aji menjelaskan, sebelum dia dan Habib Luthfi, ada dua orang Indonesia yang juga menjadi anggota diraja Kerajaan Yordania. Mereka adalah H Din Syamsuddin (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah) dan KH Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta).

“Sebelumnya sudah ada 2 org Indonesia yg menjadi anggota: Dr Din Syamsuddin dan Prof Nasaruddin Umar,” lanjutnya.

Merujuk laman The Jordan Times, Senin (7/10), ada sejumlah cendekiawan Muslim lainnya yang menerima medali kerajaan dan sertifikat keanggotaan akademi diraja Yordania karena kontribusinya dalam perkembangan pemikiran Islam.

Di antara cendekiawan Muslim itu adalah Kareem Khalifa (mantan presiden Akademi Bahasa Arab Yordania), Osama Al Azhari (cendekiawan Al-Azhar), Omar Abboud (Direktur Institut Dialog Antaragama di Buenos Aires), dan Hamza Yusuf Hanson (salah satu Pendiri dan Direktur Zaytuna College di AS). 

Di samping itu, ada juga Mahmoud Sidqi Al-Habbash (Hakim Palestina), Salah Mezhiev (Mufti Besar Chechnya), Mohammad Al Bouti (Presiden Persatuan Cendekiawan Muslim dari Levant), dan Al-Musnid Habib Umar bin Hafidz dari Yaman.

The Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought didirikan pada 1980 dengan nama ‘The Royal Academy for Islamic Civilization Research (Aal al-Bayt Institute) oleh Raja Hussein bin Talal. Salah satu tujuan dari Aal al-Bayt Institute mempromosikan kesadaran dan pemikiran Islam, memperbaiki kesalahpahaman tentang Islam, menyoroti kontribusi intelektual Islam dan dampaknya terhadap peradaban manusia, dan mendorong pertemuan para cendekiawan Muslim.

Sebelumnya, Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC), sebuah lembaga yang berafiliasi dengan Aal al-Bayt Institute, merilis tokoh-tokoh Muslim yang paling berpengaruh di dunia untuk tahun 2019. Habib Luthfi bin Yahya sendiri menduduki posisi ke-33 sebagai Muslim paling berpengaruh di dunia.
 

Pewarta: Muchlishon
Editor: Alhafiz Kurniawan
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 8 Oktober 2019 21:0 WIB
Cara Jepang Menarik Minat Pemuda untuk Bertani
Cara Jepang Menarik Minat Pemuda untuk Bertani
Umur rata-rata pekerja pertanian Jepang adalah 67 tahun. (Foto: Getty Images via BBC)
Jakarta, NU Online
Lewat teknologi pemerintah Jepang berusaha menarik perhatian anak muda yang sebelumnya kurang tertarik bekerja di lahan pertanian, tetapi mereka tertarik pada teknologi. Ini adalah usaha untuk membangkitkan sektor ekonomi yang mengalami penurunan sumber daya manusia.

Dikutip dari BBC, dalam 10 tahun jumlah warga Jepang yang terlibat dalam produksi pertanian turun dari 2,2 juta orang menjadi 1,7 juta orang. Sementara umur rata-rata pekerja sekarang adalah 67 tahun dan sebagian besar petani bekerja paruh waktu.

Keadaan topografi juga sangat membatasi pertanian Jepang, yang hanya dapat memproduksi 40 persen dari pangan yang dibutuhkan. Sekitar 85 persen daratannya adalah perbukitan dan sebagian besar lahan yang tersisa dipakai untuk menanam beras.

Di antara ilmuwan Jepang yang mengembangkan teknologi ialah Yuichi Mori. Ia melakukan revolusi pertanian tanpa lahan dilakukan para ahli agroteknologi di Jepang untuk menyikapi lahan tanah yang semakin berkurang. Langkah ini juga dikembangkan sebagai upaya memberikan solusi terhadap kurangnya sumberdaya manusia di bidang pertanian.

Dia tidak menanam buah dan sayuran di tanah. Mori bahkan tidak memerlukannya. Ilmuwan Jepang ini malah bergantung pada materi yang awalnya dirancang untuk mengobati ginjal manusia — selaput polimer bening dan berpori.

Tanaman tumbuh di atas selaput yang membantu penyimpanan cairan dan nutrien. Selain memungkinkan tanaman tumbuh dalam keadaan apapun, teknik ini menggunakan air 90 persen lebih sedikit dibandingkan pertanian tradisional dan tidak lagi memakai pestisida karena polimer menghambat virus dan bakteri.

"Saya mengadaptasi materi yang digunakan untuk menyaring darah pada proses dialisis ginjal," kata Mori dikutip NU Online, Selasa (8/10) dari BBC.

Perusahaannya, Mebiol, memiliki paten penemuan yang telah didaftarkan di hampir 120 negara. Hal ini menggarisbawahi revolusi pertanian yang sedang berlangsung di Jepang yaitu lahan diubah menjadi pusat teknologi dengan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligent), internet of things (IoT), dan pengetahuan tercanggih.

Kemampuan agroteknologi untuk meningkatkan ketepatan dalam mengamati dan memelihara tanaman kemungkinan akan berperan penting di masa depan.

Laporan PBB tahun ini tentang Pengembangan Sumber Daya Air (UN World Report on Water Resources Development) memperkirakan 40 persen produksi biji-bijian dan 45 persen Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product) dunia akan bermasalah pada tahun 2050 jika kerusakan lingkungan dan sumber daya air berlanjut pada tingkat yang terjadi sekarang.

Metode budidaya seperti yang dikembangkan Yuichi Mori telah digunakan di lebih 150 daerah di Jepang dan tempat-tempat lain seperti Uni Emirat Arab (UAE).

Metode ini terutama penting dalam membangun kembali daerah pertanian Jepang timur laut yang tercemar berbagai zat dan radiasi dari tsunami setelah gempa besar dan bencana nuklir pada bulan Maret 2011.

Pewarta: Fathoni Ahmad
Editor: Kendi Setiawan
Selasa 8 Oktober 2019 13:0 WIB
Manfaatkan Teknologi, Jepang Kembangkan Pertanian Tanpa Lahan
Manfaatkan Teknologi, Jepang Kembangkan Pertanian Tanpa Lahan
Yuichi Mori terinspirasi membran yang digunakan ginjal buatan untuk mengembangkan pertanian tanpa lahan. (Foto: Mebiol via BBC)
Jakarta, NU Online
Para petani di negeri matahari terbit, Jepang terus berupaya memanfaatkan perkembangan teknologi untuk diterapkan ke dalam bidang pertanian. Selain menggunakan peralatan-peralatan pertanian canggih, petani di Jepang kini telah mengembangkan pertanian tanpa lahan.

Revolusi pertanian tanpa lahan dilakukan para ahli agroteknologi di Jepang untuk menyikapi lahan tanah yang semakin berkurang. Langkah ini juga dikembangkan sebagai upaya memberikan solusi terhadap kurangnya sumberdaya manusia di bidang pertanian.

Pengembangan tersebut dilakukan Yuichi Mori. Dia tidak menanam buah dan sayuran di tanah. Mori bahkan tidak memerlukannya. Ilmuwan Jepang ini malah bergantung pada materi yang awalnya dirancang untuk mengobati ginjal manusia — selaput polimer bening dan berpori.

Tanaman tumbuh di atas selaput yang membantu penyimpanan cairan dan nutrien. Selain memungkinkan tanaman tumbuh dalam keadaan apapun, teknik ini menggunakan air 90 persen lebih sedikit dibandingkan pertanian tradisional dan tidak lagi memakai pestisida karena polimer menghambat virus dan bakteri.

"Saya mengadaptasi materi yang digunakan untuk menyaring darah pada proses dialisis ginjal," kata Mori dikutip NU Online, Selasa (8/10) dari BBC.

Perusahaannya, Mebiol, memiliki paten penemuan yang telah didaftarkan di hampir 120 negara. Hal ini menggarisbawahi revolusi pertanian yang sedang berlangsung di Jepang yaitu lahan diubah menjadi pusat teknologi dengan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligent), internet of things (IoT), dan pengetahuan tercanggih.

Kemampuan agroteknologi untuk meningkatkan ketepatan dalam mengamati dan memelihara tanaman kemungkinan akan berperan penting di masa depan.

Laporan PBB tahun ini tentang Pengembangan Sumber Daya Air (UN World Report on Water Resources Development) memperkirakan 40 persen produksi biji-bijian dan 45 persen Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product) dunia akan bermasalah pada tahun 2050 jika kerusakan lingkungan dan sumber daya air berlanjut pada tingkat yang terjadi sekarang.

Metode budidaya seperti yang dikembangkan Yuichi Mori telah digunakan di lebih 150 daerah di Jepang dan tempat-tempat lain seperti Uni Emirat Arab (UAE).

Metode ini terutama penting dalam membangun kembali daerah pertanian Jepang timur laut yang tercemar berbagai zat dan radiasi dari tsunami setelah gempa besar dan bencana nuklir pada bulan Maret 2011.

Pewarta: Fathoni Ahmad
Editor: Kendi Setiawan
Senin 7 Oktober 2019 20:30 WIB
7 Fakta di Balik Aksi Demo di Irak
7 Fakta di Balik Aksi Demo di Irak
Massa membakar ban dan memblokir jalan dalam aksi protes di Baghdad, Irak pada Rabu (2/10). (Foto: AFP Photo/Hadi Mizban)
Baghdad, NU Online
Warga Irak menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di beberapa kota di Irak sejak Selasa, 1 Oktober lalu. Hingga sepekan berlangsung, massa masih terus berdemo. Akibatnya, lebih dari seratus orang dilaporkan meninggal dunia dan ribuan orang mengalami luka-luka.

Berikut fakta-fakta di balik aksi protes yang terjadi di Irak selama beberapa hari:
 
Berlangsung selama beberapa hari
 
Aksi protes terhadap pemerintah Irak telah berlangsung sejak Selasa (1/10) lalu. Hingga Ahad (6/10), massa masih mendesak pemerintah untuk menyelesaikan segala persoalan di negara tersebut dengan membakar kantor-kantor pemerintah. 
 
Aksi protes ini dinilai bersifat spontan karena tidak ada seruan secara langsung dari partai di Irak. Oleh karenanya, pada masa-masa awal aksi protes massa tidak menggunakan bendera atau poster partai. 

Terjadi di beberapa kota di Irak
 
Aksi protes antipemerintah di Irak tidak hanya terjadi di ibu kota Baghdad, namun juga di beberapa kota lainnya seperti Nassiriya, Amara, Baquba, Hilla, Najaf, Basra, Samawa, Kirkuk, Tikrit, Sadr, dan lainnya. 
 
Pada Ahad (6/10), terjadi bentrokan di Kota Sadr yang menewaskan 8 orang dan melukai 15 lainnya. Pihak kepolisian yang didukung tentara menggunakan peluru langsung dan gas air mata untuk membubarkan aksi demo di dua tempat terpisah di Kota Sadr. 
 
Korupsi hingga pengangguran picu aksi demo
 
Massa turun ke jalan memprotes tingginya korupsi, pengangguran, dan buruknya layanan publik di bawah pemerintahan Perdana Menteri (PM) Adel Abdel Mahdi. Selain itu, mereka juga menuntut agar PM Mahdi mengundurkan diri.
 
Para pemrotes Mmenuntut agar PM Mahdi mengundurkan diri, perbaikan kehidupan, dan mengakhiri praktik korupsi yang merajalela.
 
"Kami akan terus berdemo sampai pemerintahan tumbang," kata seorang lulusan universitas yang belum mendapat pekerjaan, Ali (22).
 
"Saya tak punya apa pun kecuali 250 lira (US$ 0,20) di saku saya sementara pejabat-pejabat pemerintah punya jutaan," cetusnya seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat (4/10).
 
Korban jiwa terus berjatuhan 
 
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Irak, Saad Maan, mengatakan bahwa hingga Ahad (6/10), setidaknya 104 orang meninggal dunia dan lebih dari 6.000 orang mengalami luka-luka dalam aksi demo yang terjadi beberapa hari terakhir. Sebagian besar korban meninggal berada di Baghdad.
 
Sebagaimana diberitakan Reuters, Ahad (6/10), Maan menjelaskan, delapan anggota dari pasukan keamanan juga termasuk dalam korban yang meninggal. Selain itu, peserta aksi unjuk rasa juga membakar 51 bangunan umum dan delapan markas partai politik.
 
PM Mahdi sebut aksi demo sebagai pengrusak negara
 
Dalam pidato pertamanya sejak terjadinya aksi demonstrasi, PM Mahdi menyatakan bahwa aksi-aksi demonstrasi tersebut sebagai 'pengrusak negara, seluruh negara'. Alih-alih merespons tuntutan para pengunjuk rasa, PM Mahdi justru membela pencapaian yang diraih di bawah pemerintahannya. Dia juga berjanji memberikan tunjangan bagi keluarga yang membutuhkan dan meminta waktu untuk menerapkan reformasi, sebagaimana yang dijanjikan tahun lalu.
 
Sebelumnya, PM Mahdi menerapkan jam malam di Baghdad dan beberapa kota lainnya di Irak sebagai respons atas aksi-aksi demo tersebut. Namun, kebijakan tersebut dicabut pada Sabtu (5/10) mulai pukul 05.00 waktu setempat. Selain itu, pemerintah juga membatasi siaran langsung dari tempat protes, juga media sosial. 
 
Ulama berpengaruh Irak serukan Mahdi mundur
 
Ulama berpengaruh Irak yang pernah menjabat Komandan Milisi Shiah, Moqtada Sadr, menyerukan agar PM Mahdi mengundurkan diri untuk menghindari korban meninggal lebih banyak lagi.
 
"Pemerintah harus mengundurkan diri dan pemilihan awal harus diadakan di bawah pengawasan PBB," katanya dikutip dari laman AFP. 
 
Sementara, dalam pernyataan tertulis, seperti diberitakan Anadolu Agency, Sabtu (5/10), mantan Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi juga menuntut Mahdi mengundurkan diri dan menyerukan pemilihan dini.
 
PBB minta kekerasan di Irak dihentikan
 
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan agar segala bentuk kekerasan yang menyebabkan ratusan orang meninggal dunia. Kepala Misi Bantuan PBB, Jeanine Hennis-Plasschaert, mendesak agar mereka yang bertanggung jawab atas meninggalnya orang-orang yang meninggal dibawa ke pengadilan untuk diadili.
 
"Lima hari kematian dan korban luka: ini harus dihentikan," kata  Plasschaert, dikutip laman BBC, Ahad (6/10).
 
Pewarta: Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG