Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Buku 'Moderasi Beragama' Jelaskan Penguatan dan Implementasi

Buku 'Moderasi Beragama' Jelaskan Penguatan dan Implementasi
Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam peluncuran buku Moderasi Beragama di Auditorium KH M Rasjidi Kemenag Thamrin, Jakarta, Selasa (8/10) (Foto: Biro HDI)
Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam peluncuran buku Moderasi Beragama di Auditorium KH M Rasjidi Kemenag Thamrin, Jakarta, Selasa (8/10) (Foto: Biro HDI)
Jakarta, NU Online 
Buku Moderasi Beragama yang diterbitkan Kemenag dan diluncurkan Selasa (8/10) menjelaskan bagaimana strategi penguatan sekaligus implementasi moderasi beragama. Hal itu menjadi salah satu kandungan dalam buku Moderasi Beragama selain menjawab pengertian moderasi beragama dan pengalaman empirik bangsa Indonesia dalam melaksanakan prinsip moderasi beragama.
 
"Cara kita beragama yang moderat sesungguhnya bukankah hal baru di tengah masyarakat kita yang dikenal agamis," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam peluncuran buku Moderasi Beragama di Auditorium KH M Rasjidi Gedung Kementerian Agama Jl MH Thamrin No 6 Jakarta.
 
Menurut dia, moderasi beragama bukanlah moderasi agama. Kata ‘moderat’ dalam hal ini adalah lawan dari kata ‘ekstrem’. Moderat itu mengandung prinsip keseimbangan dan keadilan dengan tujuan agar tidak terjerumus pada ekstrimitas.
 
"Moderasi beragama tidak cukup dilakukan oleh Kementerian Agama namun harus menjadi gerakan semua kita," tandasnya.
 
Menag menyebutkan, ada tiga hal yang menjadi tolok ukur moderasi beragama. Pertama, kembali pada inti pokok ajaran agama, yakni nilai kemanusiaan. Setiap agama, inti pokok ajarannya mengajak untuk menghargai dan melindungi harkat dan martabat kemanusiaan.
 
"Bila ada ajaran agama yang bertolak belakang dengan inti ajaran pokok agama maka ini sudah berlebihan dan ekstrem," kata Menag Lukman. 
 
Kedua, kesepakatan bersama. Manusia tetaplah memiliki keterbatasan. Itulah mengapa Tuhan menghadirkan keragaman agar satu sama lain saling menyempurnakan. Keragaman adalah kehendak Tuhan. Manusia yang beragam membutuhkan kesepakatan. Dalam ajaran Islam dikenal dengan mitsaqan ghalidha (kesepakatan yang sangat kokoh). 
 
"Jadi, inti pokok ajaran agama bagaimana setiap kita tunduk dan taat terhadap kesepakatan bersama itu," tegas putra bungsu Menag era Bung Karno, KH Saifuddin Zuhri ini.
 
Ketiga, lanjut dia, ketertiban umum. Inti pokok ajaran agama, bagaimana manusia yang beragam latar belakang bisa hidup bersama secara tertib. "Tujuan agama dihadirkan adalah agar tercipta ketertiban umum di tengah kehidupan bersama yang beragam," jelasnya.
 
Usai diluncurkan, buku Moderasi Beragama langsung didiskusikan oleh tiga narasumber, yakni Komaruddin Hidayat (Rektor UIII), Adian Husaini (Dosen Universitas Ibnu Khaldun), dan Elga Sarapung (pendeta dan intelektual Kristen). Diskusi yang berlangsung seru itu dimoderatori Ulil Abshar Abdalla.
 
Pewarta: Musthofa Asrori
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile