IMG-LOGO
Nasional

Pepali Ki Ageng Selo tentang Kebahagiaan

Rabu 9 Oktober 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Pepali Ki Ageng Selo tentang Kebahagiaan
Makam Ki Ageng Selo (Foto: Grup fb Paguyuban Warga Purwodadi Grobogan)
Penelitian Berbasis Pengabdian Masyarakat yang dilakukan Rima Ronika pada tahun 2018 mengulas tuntas tentang ajaran sufistik Ki Ageng Selo. Salah satu pokok pembahasan dalam penelitian berjudul Corak Ajaran Tasawuf dalam Peepali Ki Ageng Selo Ditinjau dari Perspektif Hermeneutik Friedrich Daniel Er Nst Schleiermacher tersebut adalah tentang konsep hidup bahagia dunia akhirat atau saadah al-daraini.

Rima mendeskripsikan konsep kebahagiaan yang diajarkan Ki Ageng Selo terdapat dalam syair-syair Dandhanggula, Asmaradhana, dan Megatruh. Dalam ketiga bagian tersebut Ki Ageng Selo menuturkan secara lugas kriteria dan syarat 'perilaku' manusia untuk memperoleh kehidupan bahagia dunia akhirat.
 
Pertama, manusia harus meninggalkan sifat tercela dan perbuatan keji. Karena, sifat tercela dan perbuatan keji mengakibatkan pelakunya terjauhkan dari hidayah Tuhan. Termasuk salah satu dari perbuatan buruk adalah sifat angkuh, bengis, serakah, mencuri dan bahkan memburu pujian orang lain.
 
Dalam penelitian yang didukung sepenuhnya oleh Diktis Kemenag ini, peneliti mengatakan, menurut Ki Ageng Selo perbuatan buruk merupakan penyakit hati. Maka untuk menjauhi perbuatan tercela ini manusia harus menjaga kesucian hati. Ajaran ini terdapat dalam syair Dandhanggula pupuh pertama.
 
Kedua, manusia harus memperbanyak berbuat baik kepada sesama. Bagi Ki Ageng Selo, ketika manusia melakukan perbuatan baik kepada sesama, sejatinya ia berbuat baik kepada dirinya sendiri. Konsep ini dikenal dengan istilah jalma patrap, yaitu sifat dan sikap manusia yang mesti harus beretika dan senantiasa bersikap santun, etis dan menghargai orang lain.
 
Dalam bagian ini Ki Ageng Selo menegaskan bahwa hakikat sikap hidup manusia adalah untuk memberi berkah dan manfaat bagi semua manusia. Bukan aniaya, dengki, dan congkak yang cenderung merugikan dan menyengsarakan orang lain.
 
Bagian ini dijelaskan pula bahwa manusia laksana pemimpin yang seharusnya berbuat baik dan memberi teladan kepada rakyat dan bawahannya. Sebagai seorang pimpinan manusia mesti bersikap sopan dan mengayomi kepada rakyat dan bawahannya.

Tentang hakikat baik dan buruk, Ki Ageng Selo menjelaskan dalam syair Megatruh pupuh keempat sampai sepuluh. Bahwa, kebaikan dan keburukan tidak bisa ditawar ditukar. Ketika membahas tentang kebaikan disandingkan dengan surga, dan ketika membahas tentang keburukan dikaitkan dengan neraka. Itu artinya, orang yang berbuat baik kelan akan ditempatkan di tempat yang layak, surga. Begitu pula sebaliknya, orang yang berbuat jelek niscaya akan dibalas dengan kesengsaraan kelak di akhirat.
 
Ketiga, manusia harus mengetahui arti hidup dan hakikat keberadaan dirinya. Menurut Ki Ageng Selo, manusia yang mengetahui hakikat keberadaanya, niscaya akan mampu sampai kepada Tuhannya. Setelah manusia sampai kepada Tuhannya, manusia bisa melepaskan seluruh ketergantungan dan kepentingan duniawi yang cenderung membelenggu dan membuat manusia resah. Penjelasan ini dengan lugas dijabarkan dalam Dandhanggula pupuh kelima.

Bersamaan dengan ketiga syarat tersebut, Ki Ageng Selo juga menegaskan bahwa syarat-syarat tersebut hanya dapat ditempuh dengan penggunaan akal sehat manusia secara maksimal. Karena hanya dengan akal sehatlah manusia mampu menyaring prihal baik dan buruk serta merefleksikan hakikat keberadaan dirinya.
 
Selanjutnya, setalah meninggalkan perbuatan tecela, memperbanyak berbuat kebaikan serta mengenali hakikat hidup dan keberadaan dirinya, syarat kebahagiaan yang keempat, yaitu proses manusia mengenal Tuhannya. Ki Ageng Sole menjelaskan bahwa puncak kebahagiaan manusia adalah ketika manusia mengenal Tuhannya. Karena, dengan mengenal Tuhannyalah manusia mampu menjalani ketiga syarat sebelumnya dengan tulus, tanpa embel-embel kepentingan apa pun. Selengkapnya, tentang proses perjalanan manusia untuk mengenal Tuhannya dijabarkan dalam syarir-syair Dandhanggula pupuh kesembilan, sepuluh, dan sebelas. 
 
Manusia yang hendak sampai pada pengetahuan atas Tuhan oleh Ki Ageng Selo disyaratkan untuk menempuh empat tahapan secara tertib. Yaitu, jalan syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Secara bertahap tingkatan ini dijelaskan dalam Asmaradana pupuh ketiga dan keempat, bahwa manusia bisa mencapai tingkatan makrifat, setalah melewati berbagai ujian untuk menguatkan jiwanya dan memperluas pengetahuannya.

Maka, manusia yang mampu menekuni keempat syarat kebahagiaan di atas, niscaya akan memperoleh ketenangan hidup, ketenteraman hati dan kedamaian jiwa sebagaimana yang dituliskan dalam Asmaradhana pupuh kedua.
 
Hakikat Kebahagiaan Menurut Ki Ageng Selo
 
Setalah pembahasan tentang syarat-syarat kebahagiaan, syair-syair Ki Ageng Selo dilanjutkan dengan jabaran tentang hakikat kebahagiaan itu sendiri. Penjelasan ini secara terperinci dijabarkan dalam syair-syair Asmaradhana.
 
Bagi Ki Ageng Selo, hakikat kebahagiaan bukan hanya milik pribadi. Kebahagiaan adalah milik bersama, semua manusia. Oleh karenanya setiap manusia diharuskan untuk saling membantu mencapai kebahagiaan itu sendiri. Setiap manusia harus saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan kejelekan (tawasau bi al-shabri, tawasau bi al-sobri).

Konsep kebahagiaan secara umum terbagi menjadi dua, kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Kebahagiaan dunia hanya akan diperoleh dengan ketenangan hati dan ketenteraman jiwa, yaitu kebahagiaan yang tidak didasarkan pada predikat-predikat duniawi. Bentuk kebahagiaan ini telah dibahas syarat-syaratnya, yaitu ketika manusia mampu melepaskan diri dari dari kepentingan dan ketergantungan; dan pada selain Allah, sebagaimana tercantum pada Dandanggula pupuh kelima.

Kebahagiaan yang kedua adalah kebahagiaan akhirat, kebahagiaan manusia setelah bertemu dengan Tuhannya. Kebahagiaan akhirat ini dapat ditempuh dengan memperbanyak berbuat kebaikan, menjauhi perbuatan keji, serta menempuh jalan hakikat dan makrifat. Syarat kebahagiaan ini telah dijabarkan dalam Dandhanggula pupuh kesembilan, sepuluh, dan sebelas; dan di Asmaradana pupuh ketiga dan keempat. Isinya, manusia harus menempuh jalan suci dengan 'melakoni' syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. 
 
 
Penulis: Ahmad Fairozi
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 9 Oktober 2019 23:3 WIB
PBNU Bahas Ekonomi Digital untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah
PBNU Bahas Ekonomi Digital untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah
FGD Lakpesdam PBNU terkait digitalisasi UMKM (Foto: NU Online/Abdullah Alawi)
Jakarta, NU Online 
PBNU melalui Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) terkait infrastruktur regulasi yang mendorong tumbuhkembangnya Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di dunia digital di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (9/10).  

Di dalam FGD bertema Infrastruktur Kebijakan dalam Meningkatkan Kontribusi Ekonomi UKM melalui Pemanfaatan Ekonomi Digital tersebut, Lakpesdam mengundang berbagai pihak terkait mulai dari pihak swasta, pengamat, pelaku usaha, dan dari pihak pemerintah. 

Undangan tersebut adalah dari Kementerian komunikasi dan informatika, Dirjen Aplikasi Informatika /APTIKA, Kementerian Keuangan, Kementerian perindustrian, dari Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Bank Indonesia, Kementerian Koordinator bidang perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, Otoritas Jasa Keuangan RI, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). 

Undangan  lain di antaranya adalah idEA - Indonesian E-Commerce Association, Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicrat Indonesia (ASEPHI), The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Kamar dagang dan Industri (KADIN), Asosiasi Penyelenggara inovasi keuangan digital Indonesia / AFTECH, Gojek, Bukalapak, Tokopedia,  Sekretariat Kabinet, Bank Dunia, Badan Ekonomi Kreatif, Sampoerna Retail Community, dan lain-lain. 

Kegiatan tersebut dibuka Wakil Ketua Umum PBNU KH Mochammad Maksum Machfoedz. Ia memulai pembukaan dengan memperkenalkan NU secara umum. Kemudian mengajak kepada seluruh peserta yang hadir untuk memperhatikan apa yang dia sebut “si kecil” yaitu masyarakat akar rumput. 

Masyarakat akar rumput, lanjutnya, yang melakukan aktivitas perekonomian jangan sampai kehilangan pasarnya ketika terjadi tren ekonomi digital. Namun, mereka tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri, melainkan harus dipikirkan cara-cara tepat untuk membantunya. 

Menurut dia, suatu saat warung-warung kecil seperti warteg bisa jadi kehilangan pelanggannya karena orang semakin malas datang ke warteg. 

“Kita harus memproteksi mereka agar bisa bertahan,” katanya. 

Menurut dia, “si kecil” tersebut mayoritas adalah warga NU. Oleh karena itu, NU selalu memikirkan bagaimana cara membantu mereka. Karena NU, hanya organisasi massa yang tidak memiliki perlengkapan untuk membantunya, maka mengajak semua pihak untuk turut serta membantunya. NU akan menjadi penghubungnya.

“Selama ini energi NU terkuras habis memikirkan terhadap hifdzul wathon (menjaga negara) dari rongrongan ideologi pemecah belah. Sementara perekonomian tertinggal,” katanya. 

Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Fathoni Ahmad
Rabu 9 Oktober 2019 22:30 WIB
LSN 2019 Region Kalimantan I Berlangsung Secara Mandiri dan Profesional
LSN 2019 Region Kalimantan I Berlangsung Secara Mandiri dan Profesional
Foto: Zamroni
Samarinda, NU Online
Ketua Pengurus Pusat Rabhitah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) H Abdul Ghafarrozin (Gus Rozin) membuka Liga Santri Nusantara (LSN) 2019 Region Kalimantan I pada Rabu (9/10). Di Stadion Widya Sempaja, Samarinda, Gus Rozin menyampaikan bahwa pelaksanaan LSN 2019 yang mandiri dan swadaya tidak boleh menjadi alasan penurunan kualitas dan profesionalitas.

Dalam sambutan pembukaan, Gus Rozin menekankan pentingnya profesionalitas kompetisi. Pasalnya, pelaksanaan LSN 2019 sudah memasuki tahun kelima yang menjadi modal pengalaman dari pelaksanaan sebelumnya.

“Selama lima tahun ini, kami rasa kita sudah punya cukup modal pengalaman (menjalankan kompetisi). Ke depan diharapkan bisa mengikuti Liga 3,” kata Gus Rozin.

Ia menambahkan, pelaksanaan kompetisi region secara mandiri dan swadaya membuat jumlah klub yang terlibat menurun jumlahnya. Oleh karena itu, ia mengharuskan adanya peningkatan kualitas, baik penyelenggaraan (kompetisi) maupun pembinaan pemain.

“Dengan kepanitian yang solid, maka harus lebih profesional. Pemain juga harus profesional,” tambah Gus Rozin.

Ia berharap pelaksanaan LSN dapat mandiri sepenuhnya. “Bila LSN sudah bisa mandiri, di seri nasional ke depan harus mandiri juga,” pungkasnya.

Perlu diketahui, RMI NU sebagai penyelenggara LSN bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Asosiasi pesantren NU ini menangani LSN sejak tahun 2016, setelah sebelumnya, kompetisi sepakbola santri pesantren ini diselenggarakan penuh oleh Kemenpora.

Adapun kompetisi pada LSN Region Kalimantan I dikuti oleh peserta dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.
 

Kontributor: Dafit
Editor: Alhafiz Kurniawan
Rabu 9 Oktober 2019 21:0 WIB
RISET DIKTIS
Betulkah Siswa Laki-laki Lebih Dominan dari Siswa Perempuan?
Betulkah Siswa Laki-laki Lebih Dominan dari Siswa Perempuan?
Santri laki-laki di pesantren (Foto: Abdul Hakim Hasan)
Ada stigma di masyarakat yang menyebutkan bahwa siswa laki-laki dianggap lebih dominan dari pada siswa perempuan. Dalam artian, siswa laki-laki dipandang memiliki kemampuan lebih, baik dari segi intensitas belajar maupun hasil belajar, dari siswa perempuan. Namun, betulkan stigma tersebut?
 
Muhammad Nur, Hairunnisa, dan Siti Mariyah, ketiganya dosen STAI Miftahul Ulul, Tanjungpinang melakukan penelitian berjudul Studi Komparatif Intensitas dan Hasil Belajar Siswa Laki-laki dan Siswa Perempuan di Madrasah Se-Kota Tanjungpinang, mencoba membuktikan stigma yang berkembang di masyarakat tersebut. Adapun yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas XI dan XII MAN Tanjungpinang dan MAS Miftahul Ulum, dengan sampel 211 siswa untuk mewakili sebanyak 229 siswa Madrasah Aliyah se-Kota Tanjungpinang.
 
Dalam penelitian yang didukung Diktis Kemenag RI tahun 2918 ini, Muhammad Nur dkk menggunakan analisis deskriptif dan uji t, dengan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas sebagai teknik analisis data. Sementara teknik pengumpulan data menggunakan angket, dokumentasi, dan wawancara. Setidaknya ada dua data yang terkumpul dalam penelitian ini untuk membuktikan stigma tersebut, yaitu data hasil belajar dan data intensitas belajar. 
 
Setelah dilakukan penelitian, maka ditemukan hasil bahwa rata-rata hasil belajar kognitif siswa laki-laki lebih kecil (71,50) dibandingkan nilai rata-rata siswa perempuan (74,26). Hal itu berbanding lurus dengan intensistas belajar siswa, dimana siswa perempuan memiliki nilai rata-rata intensitas belajar lebih tinggi (78,22) dari nilai rata-rata intensitas belajar laki-laki (77,66).
 
Meski demikian, hasil uji Anava menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan intensitas belajar (nilai signifikasinya 0.121 (Sig. >0.05; Ho diterima)) dan hasil belajar (nilai signifikasinya 0.121 (Sig. > 0.05; Ho diterima)) antara siswa laki-laki dan perempuan di madrasah se-kota Tanjungpinang.

Memang dalam aspek kognitif (intelektual), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan)—yang menjadi dasar penentuan prestasi atau hasil belajar- antara siswa laki-laki dan siswa perempuan terdapat ‘kecenderungan-kecenderungan’. Misalnya, dalam proses pembelajaran, pada proses kognitif, perempuan lebih ahli dalam kemampuan berbahasa dan berbicara dari pada laki-laki, dan di sisi lain laki-laki lebih tertarik terhadap kemampuan logika matematis dari pada perempuan. 
 
Penelitian juga mengungkapkan, pada aspek afektif, motivasi siswa laki-laki dalam sebagain besar subjek pelajaran lebih rendah dari pada perempuan. Tetapi, dalam beberapa subjek pelajaran yang disukai siswa laki-laki seperti matermatika, sains, olahraga, dan mekanika, hasil belajar afektif mereka pada subjek ini cenderung lebih tinggi dari perempuan. Adapun pada aspek psikomotorik, pada proses pembelajaran siswa laki-laki cenderung memiliki potensi psikomotorik lebih baik dari perempuan karena kondisi fisiknya, terutama setelah pubertas. 
 
Namun, secara umum tidak ada perbedaan yang besar antara siswa laki-laki dan perempuan dalam hal kemampuan kognitif. Perbedaan-perbedaan seperti kemampuan bahasa dan logika antara siswa laki-laki dan perempuan bersifat situasional, tergantung waktu dan tempat. Begitupun dengan perbedaan bentuk fisik dan kepribadian antara siswa laki-laki dan perempuan, itu juga tergantung pada etnis, ras, budaya, lingkungan, dan kelas.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah, dalam proses pembelajaran perbedaan gender tidak mempengaruhi prestasi atau hasil belajar anak. Namun, perbedaan kemampuan kognitif, fisik, motivasi, self-esteem, aspirasi karier maupun hubungan interpersonal, dapat mempengaruhi hasil belajar seorang anak dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, sekolah atau guru harus bisa menangani ‘kecenderungan-kecenderungan’ tersebut, tanpa membedakan gender. Hal itu akan membantu mereka dalam proses belajar dan mendapatkan hasil belajar yang optimal.
 
Penulis: Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG