IMG-LOGO
Esai

Masjid Tua di Jawa dan Makna Peziarahan


Sabtu 26 Oktober 2019 06:00 WIB
Bagikan:
Masjid Tua di Jawa dan Makna Peziarahan
Masjid Gedhe Kauman dibangun sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1773. (Foto: Danang Purwantoro/Instagram-dpwtr)
Oleh Hasan Basri Marwah
 
AIFIS (American Institute for Indonesian Studies) bekerjasama dengan ISAIS (Institute of Southeast Asian Islam), UIN Sunan Kali Jaga, dan Lakpesdam PWNU DIY, mengadakan diskusi publik (23/10/2019) dengan tema, “Oral Tradition and Archeology in The Study of Early Modern Period Mosques”, dengan narasumber utama, Aldo W. Foe, seorang kandidat Phd di Universitas Illionis, Chicago, Amerika Serikat. Aldo sedang melakukan penelitian tentang masjid-masjid modern awal di Jawa. Basis penelitiannya tentang lanskap  ekonomi (utamanya), sosial dan keagamaan dalam perubahan arsitektural masjid-masjid di Jawa.  Salah satu temuan awalnya, bahwa banyak masjid-masjid kuno di Jawa yang tidak memiliki catatan pasti tentang masa pembangunannya. Umur dari masjid-masjid itu penting di dalam penelitian ini karena akan menjadi pintu masuk untuk melihat lanskap ekonomi, politik, sosial dan religius saat masjid-masjid itu dibangun. Sayangnya, sejarah masjid-masjid tua di Jawa umumnya direkam dalam tuturan, tidak dalam tulisan yang terarsipkan dengan baik. Pada titik inilah, “sejarah lisan” dianggap akan banyak membantu dalam mengungkap titimangsa pembangunan masjid-masjid di Jawa. Secara umum, penelitian yang masih berjalan ini sangat menarik.

Dengan sudut pandang berbeda, sebagai narasumber kedua, saya melihat masjid-masjid awal di Jawa dari sudut seorang peziarah (paskakolonial). Seorang peziarah mengindap penyakit akut dengan waktu: seluruh ikhtiar hidupnya dihabiskan untuk memastikan kesinambungan dirinya dengan berbagai hal yang telah dikubur oleh rezim temporal dan spasial bernama modernitas dan kapitalisme. Hal ini disebut oleh Michel Foucault sebagai kesadaran yang menghapus anggapan bahwa manusia berdaulat penuh atas masa lalunya. 

Peziarahan secara harfiah adalah sebuah laku pengingatan tanpa jeda. Hanya dengan menggemakan sisa-sisa atau puing dari ingatannya secara berulang-ulang sang penziarah bisa merasakan kesinambungannya dengan berbagai hal yang disebut sebagai masa lalu, tetapi tidak dalam bentuknya yang utuh. Masa lalu itu sebutan bagi jarak (disntance) yang jauh dan tak terkira.

Seorang peziarah bukanlah seorang peneliti, maka ia terus berjalan dan datang ke berbagai tempat tanpa pertanyaan tetapi dengan kelinglungan, antara kerinduan atau kerapuhan dirinya di garis waktu. Tidak setiap peziarahan menghasilkan kejutan. Dalam peziarah hanya berlaku hukum pengulangan yang niscaya yang memberi para peziarah keteguhan untuk mengarungi teka-teki yang tidak selalu harus ada jawabannya.

Peziarah (poskolonial) semisal orang yang mengindap demam (mengingatkan pada phantsmagorianya-Walter Benjamin) sehingga apa yang ditangkapnya dalam setiap langkah peziarahannya seperti serangkaian gambar tak sepenuhnya terstruktur. Sang penziarah menyadari bahwa yang diziarahinya adalah sebuah jarak (distance) sekaligus penjarakan (distancing) sehingga ia tidak pernah membayangkan, apalagi mengambisikan, sebuah keutuhan dari masa lalu. Seperti kata Benyamin, masa lalu itu hadir sebagai “kelebatan” tak terhingga.

Peziarahan ke masjid-masjid yang berdiri pada awal masa islamisasi di Jawa dan di Nusantara secara umumnya memaksa seorang peziarah untuk tidak membebani dirinya dengan historisme atau hal lainnya. Cukuplah baginya memastikan kesinambungan batiniahnya dengan ruang-ruang sakral yang didirikan oleh para suci pada abad-15 dan 16 Masehi sebagai petilasan (tilasan), sentrum (pathok), dan sekaligus sentrum dari kompleksitas ruhani sekaligus duniawiah mereka. Cahaya, tubuh dan semua jejak orang suci itu sendiri adalah sakralitas dalam ruang waktu yang fana sehingga antara yang sakral dan profan hampir saja tak terbedakan. Hati dan tubuh orang suci merupakan bukti tak terpisahkannya sakralitas dan kefanaan.

Ketika memasuki gerbang halaman masjid, ia merasakan sesuatu yang hadir secara serempak, simultan, tanpa mampu ia kontrol sepenuhnya. Hatinya seperti mengalami perluasaan ketika melihat pohon-pohon di halaman masjid, terlebih ketika pandangannya tersedot oleh kolam-kolam di depan masjid sebagai simbol kebeningan dari cahaya Tuhan. Ke sisi kiri atau sisi kanan ia melihat sendang pemandian dan tempat istirahat yang dinaungi oleh pohon yang rindang.

Sebuah kolam menjadi penghubung antara gerbang ke beranda masjid. Tiang-tiang (soko) pada beranda terlihat megah, terlihat dua pintu utama ruangan utama masjid yang tidak terlalu tinggi sehingga orang harus menunduk ketika melaluinya. Di dalam ruang utama tegak tiang-tiang yang lebih kokoh. Mihrab berdampingan dengan sebuah mimbar kayu khatib dengan ukiran yang estetis. Di sisi barat mihrab ada areal pemakaman orang-orang suci. Sebagian sufi mengatakan bahwa tubuh orang suci menyimpan cahaya Tuhan atau nama lain dari “kiblat” itu sendiri. 

Seluruh bangunan masjid periode awal Islam di Jawa disebut sebagai kontruksi pendhopo. Pada masa penjajahan, beberapa arsitek diperintahkan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk meneliti sebab-sebab pendhopo begitu kokoh konstruksinya. Mereka terpesona dengan stabilitas dan kekokohan konstruksi pendhopo.

Jika seseorang datang sekali atau dua kali ke masjid-masjid periode awal Islam di Jawa, maka sulit baginya membedakan perubahan dan perbedaan satu masjid dengan masjid lainnya. Seringkali mereka terpaku pada homologi antarsatu masjid dengan masjid lainnya. 

Berbeda dengan mereka yang berulang kali mendatangi masjid-masjid periode awal di Jawa, tidak saja perbedaan yang mereka tangkap, tapi mereka mulai memiliki kapasitas untuk melakukan pemilahan (rarefaction): mereka menemukan persamaan sekaligus perbedaan, menandai aspek-aspek yang bertahan dan berubah. 

Di antara masjid periode awal yang komponen ruangnya relatif utuh adalah Masjid Gedhe di Kotagede, Yogyakarta. Seperti telah digambarkan di atas, di masjid pusaka kesultanan Mataram Islam itu para peziarah yang masih bisa menemukan sendang pemandian. Bahkan ada dua sumber air di sisi barat masjid. Tapi kita tidak menemukan adanya alun-alaun di sisi timur (depan) masjid, seperti pada Masjid Demak. Mungkin karena perkembangan pesat demografi masyarakat Kota Gedhe yang menghilangkan alun-alun tersebut.

Jika dikonstruksi ulang, maka komposisi masjid tua di Jawa demikian: alun-alaun yang luas, halaman masjid dengan sejumlah pohon yang telah ditentukan, kolam-kolam penghubung halaman ke beranda, setelah beranda terus ada ruang dalam (inti) yang terdiri dari mihrab dan mimbar khotib, kemudian pemakaman di sisi barat tanpa pembatas dengan bangunan masjid, kemudian sendang dan beberapa titik sumber air di sekitarnya.

Mereka yang berulang kali mendatangi menziarahi masjid periode awal Islam di Jawa tidak berambisi mempertanyakan aspek ekonomi-politik vulgar yang melahirkan kemegahan arsitektural. Justru di dalam hati ia bergumam: spiritualitas tumbuh subur ketika ekonomi-politik berjalan dengan baik dan mandiri. Dan bisa saja sebaliknya.Wal-Allahu yaqulul haqqa wahuwa yahdis-sabil.   

Penulis adalah Lurah Pesantren Kaliopak,Yogyakarta 
--------------
Artikel ini diterbitkan kerja sama antara NU Online dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo RI
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG