RISET BALITBANG KEMENAG

Literasi Media Keagamaan Pelajar MA Berbasis Pesantren Tahun 2018

Literasi Media Keagamaan Pelajar MA Berbasis Pesantren Tahun 2018
Ilustrasi
Ilustrasi
Pada tahun 2018, Balai Litbang Agama (BLA) Semarang Badan Litbang dan Diklat melakukan penelitian terkait literasi media keagamaan pada siswa madrasah aliyah. Penelitian dilakukan di sembilan Madrasah Aliyah (MA) berbasis pesantren yang dipilih secara purposive.
 
Sembilan MA itu ialah MA Salafiyah Kota Pasuruan, MA Ma’hadut Tholabah Babakan Lebaksiu Tegal, MA YAJRI Secang Magelang, Perguruan Islam Mathaliul Falah Pati, MA Salafiyah Syaifi’iyah Tebuireng Jombang, MA Maarif NU Blitar, MA Unggulan Ammanatul Ummah Surabaya, dan MA Unggulan Nurul Islam Jember.
 
Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan praktik literasi media keagamaan di kalangan pelajar MA di Jawa Tengah dan Jawa Timur; mendeskripsikan sikap pimpinan madrasah, guru, lingkungan madrasah, dan stakeholder madrasah terhadap praktik literasi media keagamaan di kalangan pelajar MA di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
 
Tim peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan desain studi multi kasus. Sedangkan dalam pengumpulan datanya, tim peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, diskusi kelompok terfokus (FGD), dan studi dokumen.
 
Penelitian didasari bahwa pemuda masa kini (generasi milenial) terlahir sebagai generasi yang dibanjiri oleh berbagai media, terutama media online. Menurut Nurwati (2016), media memiliki dua pengaruh sekaligus, yaitu pengaruh postif dan negatif. Pengaruh positif media dapat digunakan sebagai sarana bisnis, pendidikan, dakwah keagamaan, dan hiburan. Sementara pengaruh negatifnya, ialah mudahnya seseorang mengakses dan menyebarkan hal-hal negatif dan membuat berita hoaks.

Era generasi milenial ini salah satunya ditandai dengan melek teknologi informasi. Berbagai informasi dapat dengan mudah diakses dalam hitungan detik. Kemudahan akses informasi ini merambah pula dalam penyebaran bidang pendidikan agama dan keagamaan, termasuk dalam pendidikan agama Islam.
 
Peneliti juga memperhatikan bahwa generasi milenialtelah mengalami fragmentasi dalam dunia literasi yang berkembang sangat cepat. Merujuk pada Rizal, sebut peneliti, perkembangan teknologi dan informasi mengakibatkan disrupsi dalam dunia pendidikan, yaitu terjadinya digitalisasi sistem pendidikan (Rizal, 2018). Rizal menyatakan bahwa dalam dunia pendidikan ke depan dimungkinkan juga menggunakan aplikasi, sebagai contohnya adalah aplikasi Massive Open Online Course (MOOC).

MOOC adalah inovasi pembelajaran daring yang dirancang terbuka, dapat saling berbagi, dan saling terhubung atau berjejaring satu sama lain. Pembelajaran secara daring pada generasi milenial saat ini juga terjadi dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan, termasuk dalam pendidikan di madrasah.  
 
Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa praktik literasi media dibagi menjadi tiga, yaitu akses, pemahaman, dan produksi. Akses literasi media keagamaan para pelajar MA di lingkungan pesantren sangat terbatas karena adanya pembatasan yang dilakukan oleh pengelola pesantren. 

Peneliti menyebutkan, pada umumnya, pesantren melakukan pembatasan akses informasi, termasuk informasi keagamaan melalui media internet dengan alasan agar siswa tidak terkontaminasi dampak negatif penggunaan media itu. 
 
Pada sisi lain, pengelola MA di pesantren melakukan upaya penguatan kemampuan literasi siswa melalui berbagai cara, di antaranya melalui literatur pesantren yang memang menjadi ciri khas dari pesantren, optimalisasi kompetensi ustadz dan ustadzahnya, dan media perpustakaan dan majalah yang dikelola oleh siswa.
 
Media internet yang dimiliki MA digunakan secara terbatas dan penggunaannya dalam pengawasan yang cukup ketat oleh para ustadz dan ustadzah. Meskipun demikian, siswa yang sedang liburan di rumah dapat mengakses berbagai informasi melalui media sosial yang dimilikinya.
 
Berkenaan dengan akses literasi media tersebut, konten keagamaan yang disenangi para siswa yaitu berupa cerita fiksi baik berupa novel, cerpen, dan bacaan keagamaan lainnya. Konten keagamaan yang ditemukan cenderung bercorak moderat, meskipun ada variasi pada pesantren salaf dan pesantren modern. 
 
Penulis: Husni Sahal
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile