IMG-LOGO
Nasional
RISET DIKTIS

3 Integrasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Sufistik di MTs Al-Qodiri I dan Nuris 1 Jember


Ahad 27 Oktober 2019 18:30 WIB
Bagikan:
3 Integrasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Sufistik di MTs Al-Qodiri I dan Nuris 1 Jember
Siswa MTs Nuris Jember pada suatu kegiatan (Foto: Fb MTs Nuris Jember)
Penelitian Ahmad Rosidi, mahasiswa STAI Al-Qodiri Jember berjudul Konstruksi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-nilai Sufistik di Islamic Boarding School: Studi Multikasus di MTs Al-Qodiri I dan Nuris 1 Jember Rosyidi menyatakan bahwa nilai-nilai sufistik di kedua lembaga itu bersumber dari ajaran dan perilaku pengasuhnya. 
 
Hasil penelitian yang dilakukan berkat dukungan bantuan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Dit PTKI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama RI tahun anggaran 2018 itu menemukan pembagian integrasi nilai-nilai pendidikan karakter berbasis nilai-nilai sufistik yang diterapkan di Madrasah Tsanawiyah Islamic Boarding School (MTs IBS) menjadi tiga.
 
Pertama, integrasi nilai-nilai karakter sufistik dalam kurikulum mata pelajaran. Integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum mata pelajaran dilakukan dalam tiga aspek yaitu ke dalam silabus, RPP, dan proses pembelajaran.
 
Setiap mata pelajaran memfokuskan pada penanaman nilai-nilai utama tertentu yang paling dekat dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Setiap awal semester sekolah sudah mempersiapkan silabus untuk membuat RPP agar guru mudah melakasanakan proses pembelajaran yang menyisipkan nilai-nilai karakter. Dalam proses pembelajaran di kelas atau di luar kelas, guru juga harus melaksanakan nilai-nilai utama secara langsung kepada peserta didik. 
 
Silabus menjadi pedoman bagi guru dalam menyusun RPP yang dirancang dan disusun dalam program pembelajaran satu atau kelompok mata pelajaran untuk satu waktu semester. Di dalam silabus terdapat integrasi nilai-nilai karakter, seperti melalui mata pelajaran PKN dan Bahasa Indonesia.
 
Dalam mata pelajaran PKN, integrasi nilai-nilai karakter dalam silabus PKN di antaranya adalah nilai rasa ingin tahu, dengan indikator berdasarkan jenjang kelas VII dengan kegiatan bermain dan belajar bersama dan pada jenjang kelas VIII sampai kelas IX dengan kegiatan mencari informasi tentang agama dan cinta bangsa di Indonesia.
 
Sedangkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, nilai-nilai karakter yang diintegrasikan antara lain seperti gemar membaca yang diindikatorkan pada jenjang kelas VII dengan memilih buku bacaan di perpustakaan dan membaca buku tersebut, dan pada jenjang kelas VIII sampai kelas IX dengan membaca buku-buku yang berkenaan dengan materi membaca cepat dan pemahamannya.
 
Kemudian, integrasi nilai-nilai karakter dalam RPP berjalan dengan sistematis dalan lancar. Nilai-nilai karakter yang sudah dicantumkan ke dalam silabus, maka nilai-nilai itu juga dicantumkan dalam RPP yang telah disusun dan dirancang sebelum guru melaksanakan pembelajaran. Pada penyusunan RPP yang berbasis nilai-nilai karakter, guru harus memahami materi dan metode apa yang akan diajarkan agar peserta didik dapat menginternalisasikan nilai-nilai karakter yang sudah ditentukan dan dicantumkan ke dalam RPP.
 
Guru mempermudah peserta didik menerapkan nilai-nilai karakter dalam kesehariannya, seperti contoh ketika peserta didik mengerjakan soal ujian atau ulangan yang di dalamnya terdapat nilai kejujuran, kerja keras, dan mandiri dalam mengerjakan soal.
 
Adapun integrasi pembelajaran berbasis karakter dalam proses pembelajaran memiliki peran yang sangat penting. Penanaman nilai-nilai karakter bangsa dengan cara memberikan contoh sikap atau memberikan teladan yang baik kepada peserta didik merupakan salah satu contoh pembentukan karakter dalam proses pembelajaran.
 
Saat di kelas, guru membiasakan peserta didik langsung berdoa sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran baik saat jam pelajaran kesatu maupun sampai jam pelajaran kesembilan. Pemimpin doanya adalah ketua kelas masing-masing. Kegiatan doa ini bisa menjadi contoh untuk kehidupan sehari-hari bahwa berdoa itu penting untuk keselamatan dan kelancaran yang dilakukan setiap kali sebelum melakukan pekerjaan.
 
Dengan pembiasaan tersebut peserta didik mengimplementasikan nilai religius, menghormati guru, dan bagi ketua kelas mereka bersikap tanggung jawab dengan tugasnya memimpin doa. 
 
Terkadang ada pula guru yang lupa atau tidak terbiasa dengan berdoa setelah jam pelajaran kedua maka peserta didik sendiri mengingatkan guru tersebut untuk berdoa. Setiap guru mengajar pasti memberikan nasihat agar tidak nakal dalam hal apapun. Guru juga melarang peserta didik berpacaran karena itu termasuk pelanggaran dan termasuk pergaulan yang tidak pantas. 
 
Jadi, pembentukan karakter tidak hanya guru bimbingan dan konseling saja yang bertugas, tapi semua guru dan pegawai lembaga pendidikan MTs. yang berbasis IBS bertanggung jawab juga untuk melaksanakan pembentukan karakter sufistik tersebut.
 
Kedua, integrasi nilai-nilai karakter sufistik di luar kelas. Integrasi nilai-nilai karakter sufistik melalui kegiatan rutin atau istiqomah sudah berjalan dengan rutin untuk semua kelas, baik kelas reguler dan kelas unggulan. Kegiatan sehari-hari ini kita masukkan ke dalam penilaian sikap yang diberikan kepada guru Bimbingan dan Konseling (BK), dan apabila peserta didik tidak mengikuti kegiatan rutinitas di sekolah ini maka akan dikenakan pelanggaran atau sanksi yang telah disepakati dan tertulis oleh lembaga MTs. 
 
Pelaksanaan kegiatan sehari-hari di sekolah ini dengan tujuan agar peserta didik membiasakan, mengenal, dan melakukan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yaitu nilai tanggung jawab dengan tugasnya, disiplin dengan waktu kegiatan disekolah, dan memiliki sikap religius seperti saling menghormati, taat pada agama islam yakni beriman dan bertaqwa pada Allah Swt, kerja keras dalam mencari ilmu di mana pun berada. Mengembangkan dan menamkan nilai-nilai pembelajaran berbasis karakter sejak dini pada peserta didik itu memang harus dilaksanakan agar peserta didik memiliki kepribadian atau berakhlak baik.
 
Kegiatan rutin sekolah dilakukan secara terus menerus. Kegiatan rutin dilakukan tidak ada hentinya pada jadwal yang sudah ditentukan. Salah satu kegiatan rutinnya adalah apel pagi pada pukul 07.00 WIB. Kegiatan ini dilakukan sebelum masuk kelas dalam bentul tawassul dan pembacaan surat waqi’ah dengan serempak dan dilakukan dengan senang hati. Peserta didik sendiri yang diberi tugas untuk memimpin dan membacakan Surat Waqi’ah.
 
Selain itu, kegiatan tersebut berisi arahan dari seorang guru pada semua peserta didik. Bagi peserta didik yang melanggar peraturan sekolah tersebut, maka guru yang bertugas mencatat dan memberikan sanksi yang sudah ditulis dan ditetapkan. Melalui apel, sekolah menyisipkan nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, religius, dan ikhlas.
 
Kegiatan rutin lainnya yaitu Shalat Dhuha berjamaah. Kegiatan rutin ini mengandung nilai religius, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, dan mandiri. Kelas unggulan wajib berbahasa Inggris dan bahasa arab di manapun berada. Kegiatan rutin ini mencakup nilai gemar membaca, tanggung jawab, disiplin, jujur, kreatif, kerja keras. 
 
Kemudian mengupayakan lantai sekolah bersih, sehingga sekolah menyediakan rak sepatu di depan setiap ruangan dan peserta didik harus mencopot sepatu yang dipakai, serta wajib menata sepatu dirinya sendiri dengan sepatu yang lain dengan rapi. Jika ada peserta didik datang terlambat, maka dia tidak boleh meletakkan sepatunya paling depan atau atas, sehingga dia harus meletakkannya paling bawah atau belakang sepatu temannya. Dengan demikian, kegiatan rutin ini mencakup nilai peduli lingkungan, disiplin, mandiri.
 
Di samping, ada kegiatan spontan yang tertuju pada tindakan seorang guru atau pegawai lainnya di MTs yang berbasis IBS yang secara langsung dilakukan perbuatan baik dan perbuatan yang buruk. 
 
Tindakan guru yang mengetahui langsung peserta didik melakukan perbuatan baik maka guru atau pegawai tersebut langsung memberikan pujian atau penghargaan dan jika peserta didik melakukan perbuatan buruk maka guru memberikan teguran atau sanksi lalu mengkoreksinya pada saat itu juga, dengan kegiatan spontan yang sudah dijalankan di MTs yang berbasis IBS peserta didik tidak akan mengulangi perbuatan buruk itu lagi dan akan merasa jera bahwa bahwa pelanggaran tersebut benar-benar disanksi.
 
Contohnya, ketika pelajaran berlangsung dikelas VIII, guru mengetahui peserta didik berbicara sendiri, sedang tidur, dan mencoret-coret meja dan kursi maka guru melakukan tindakan langsung dengan menegur dan mengoreksinya.
 
"Bagi peserta didik yang berbicara sendiri satu kali melanggar saya beri teguran, dua sampai tiga kali masih melanggar lagi saya beri sanksi langsung dengan menjelaskan apa yang sudah jelaskan di kelas, lau saya beri nasihat agar tidak melakukannya lagi," kutip peneliti menuturkan komitmen guru di sekoah tersebut.
 
Begitu pula, lanjut peneliti, jika guru mengetahui peserta didik melakukan perbuatan baik di kelas pada saat itu juga mendapatkan nilai baik atau ketika pembagian nilai ulangan diberi hadiah agar lebih semangat belajar lagi. Nilai pembelajaran berbasis karakter yang diperoleh dari kegiatan spontan yang sudah dilakukan di kelas ketika pembelajaran di antaranya menghrgai prestasi, cinta damai, disiplin, dan tanggung jawab.
 
Untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis karakter, sekolah mengkondisikan kegiatan yang mencerminkan kehidupan nilia-nilai pembelajaran berbasis karakter. Salah satu contoh penkondisian ini yaitu menyadiakan buku-buku di perpustakaan. Penyediaan buku ini sebagai upaya agar peserta didik gemar membaca dan memiliki pengetahuan yang luas.  Untuk kelas unggulan memang menyediakan lemari khusus untuk macam-macam buku di kelas agar lebih mudah dan langsung dapat membacanya. Selain contoh ini, MTs yang berbasis IBS mengkondisikan fasilitas-fasilitas yang bagus dan kreatif yang ditujukan untuk membentuk karakter peserta didik. Dengan fasilitas tersebut, peserta didik lebih mudah membiasakan untuk mengimplentasikan nilai-nilai karakter seperti gemar membaca, rajin, kerja keras, disiplin, peduli sosoial, dan sebagainya.
 
Ketiga, integrasi nilai-nilai karakter sufistik di luar sekolah (pesantren dan masyarakat). Ketika selesai sekolah, peserta didik kembali ke pesantren. Di pesantren, peserta didik melakukan pembiasaan karakter yang sudah dipelajari di sekolah. Pedoman pelaksanaannya salah satunya bersumber dari buku saku jujur. Sedangkan di masyarakat, peserta didik melakukan pengabdian seperti dengan adanya Program Abdi Masyarakat (PAM) dan melakukan kepedulian sosial dengan berbagai bentuk seperti menjenguk teman sakit, pengumpulan dana untuk membantu masyarakan yang mengalami bencana dan sebagainya. 
 
Dalam upaya menerapkan kepedulian sosial, guru mengkondisikan nilai peduli tersebut agar terbiasa dilakukan oleh peserta didik seperti peduli sosial yang sudah dilakukan ketika teman sakit, dan ketika masyarakat mendapat musibah alam seperti banjir, longsor, dan sebagainya. Dengan adanya musibah di masyarakat, perwakilan sekolah yakni dari OSIS memberikan sumbangan kepada korban bencana alam.
 
Penulis: Husni Sahal
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG