Banyak Orang yang Pemahaman Agamanya Seperti Tukang Makan Saja

Banyak Orang yang Pemahaman Agamanya Seperti Tukang Makan Saja
Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, KH Ahmad Iftah Sidik. (Foto: NU Online/Aruelgete)
Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, KH Ahmad Iftah Sidik. (Foto: NU Online/Aruelgete)
Bekasi, NU Online
Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, KH Ahmad Iftah Sidik mengungkapkan, bahwa tak sedikit orang yang level pengetahuan agamanya masih rendah, namun sudah berlagak di atas langit.
 
Pemahaman keagamaan seseorang mudah diketahui saat dianalogikan dengan warung makan. Di sana banyak orang yang mendatangi warung karena hanya butuh makan saja. Orang yang demikian ini ia tempatkan di level tukang makan. Setiap kali masuk ke warung, mereka tidak pernah bertanya soal bumbu racikan makanan yang enak, seperti rendang dan seterusnya.
 
"Kita ini sebagai masyarakat awam hanya tinggal makan saja. Karena memang maqom kita baru sebatas tukang makan. Jadi, kita harus tahu diri,” ujarnya, Jumat (25/10) malam acara peringatan Hari Santri sekaligus tasyakuran pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Pendopo Kantor Mustikajaya;
 
Menurutnya, ada banyak macam pemahaman seseorang terhadap agama, dan hal itu bisa dianalogikan dengan sederhna. “Dalam urusan agama, ada yang levelnya baru tukang makan, ada yang sudah level tukang saji, dan ada yang sudah pada tahap tukang masak," kata Pengasuh Ponpes Fatahillah, Kampung Ciketing Asem, Mustikajaya ini.
 
Di samping itu juga, tidak boleh semua orang merasa menjadi seperti koki. Karena kalau demikian, setiap orang yang datang ke warung makan akan cenderung mendatangkan keributan.
 
"Bisa-bisa malah diusir sama pedagangnya, gara-gara meributkan soal masakan itu," kata Kiai Iftah sapaan akrabnya.
 
Jadi, lanjutnya, jika ada orang yang menanyakan dalil tentang agama, maka tidak langsung menjawabnya dengan mudah. Yang lebih diutamakan adalah mengukur kemampuan tentang pengetahuan agamanya. Begitu juga saat menerima informasi atau fenomina yang berkaitan dengan keagamaan, seseorang tidak terlalu gampang berkometar, harus bisa mengukur diri. Apalagi ia masih di level sekedar tukang makan.
 
"Nanti disodorin sama koki, ini silakan baca kitabnya, malah kebingungan karena tidak bisa baca kitab kuning. Lah memang maqomnya baru tukang makan, nanyain resepnya," pungkas salah satu murid Habib Luthfi bin Yahya ini.
 
Hadir pada kesempatan ini selain Kiai Iftah, tampak pula Mustayar MWCNU Mustikajaya, Habib Hasan Abdul Hadi Baabud, Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Bekasi, Muhammad Jupri, Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi Ayi Nurdin, Camat Mustikajaya, Gutus Hermawan, Lurah se-Kecamatan Mustikajaya, dan masyarakat sekitar.
 
Kontributor: Aruelgete
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile