Masjid dan Mushalla Sarana Perangi Gerakan Radikal

Masjid dan Mushalla Sarana Perangi Gerakan Radikal
Direktur KIC Talok Bumiayu, Kabupaten Brebes, Ahmad Najib Affandi tengah menyampaikan pemikirannya dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Imam dan Khotib Dalam Membendung Radikalisme, Transideologi dan Terorisme. (Foto: NU Online/Wasdiun)
Direktur KIC Talok Bumiayu, Kabupaten Brebes, Ahmad Najib Affandi tengah menyampaikan pemikirannya dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Imam dan Khotib Dalam Membendung Radikalisme, Transideologi dan Terorisme. (Foto: NU Online/Wasdiun)

Brebes, NU Online

Dalam rangka menangkal merebaknya gerakan radikal, transideologi dan terorisme, Kanzul Ilmi Center (KIC) Talok Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah menggelar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Imam dan Khotib Dalam Membendung Radikalisme, Transideologi dan Terorisme di Brebes, Selasa (29/10).

 

Menurut Direktur KIC, Ahmad Najib Affandi, upaya pemberantasan gerakan radikal dan sejenisnya harus dilakukan secara masif agar tidak semakin menjadi-jadi. Salah satu sarana pemberantasan itu bisa dilakukan dari masjid dan mushalla. Dalam hal ini, para imam masjid dan mushalla serta khotib mempunyai peranan penting untuk menangkal paham yang menyesatkan tersebut.

 

"Radikalisme, transideologi dan terorisme telah merasuk ke berbagai lini, maka kita harus bergerak menangkal meski agak terlambat," ujarnya di sela-sela kegiatan.

 

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Pontren Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes, H Akrom Jangka Daosat mengaku terharu melihat wajah-wajah polos para imam dan khotib masjid yang ada di desa-desa. Mereka rela meninggalkan warung, sawah, kebun dan pekerjaan lainnya selama sehari untuk mengikuti kegiatan pelatihan.

 

Akrom menegaskan, semua pihak wajib memahami tentang radikalisme, transideologi, dan terorisme. Termasuk para imam dan khotib yang ada di daerah wajib tahu. Apalagi imam dan khotib sebagai garda terdepan dalam upaya menanggulangi berkembangnya terorisme dan radikalisme di Indonesia.

 

“Bukan cuma tanggungjawab imam dan khotib, tapi semua elemen masyarakat juga harus terlibat dalam membendung gerakan radikal dan sejenisnya,” ujarnya.

 

Di bagian lain, Akrom juga menandaskan bahwa saat ini banyak orang yang tidak memahami konsep Islam Nusantara, tetapi langsung menolaknya mentah-mentah. Padahal bagi orang-orang pesantren pasti akan mudah memahami bahwa Islam Nusantara bukanlah paham, aliran ataupun ajaran baru, apalagi agama baru.

 

"Islam Nusantara, merupakan penjelasan bahwa Islam yang dianut di Indonesia adalah Islam yang menghargai kearifan lokal, seperti yang pernah dilakukan oleh para Walisongo dan ulama-ulama pendahulu. Karenanya, kita harus bersyukur sebagai jamaah Nahdlatul Ulama. Karena NU tak goyah dan menjadi garda terdepan yang membentengi Indonesia dari ulah kaum radikalis dan teroris," pungkas Akrom.

 

Pelatihan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Direktur KIC Bumiayu, KH Ahmad Najib Affandi, penasehat Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Cabang Brebes, KH Aminudin Abdurrasyid, dan KH Ahmad Sururi.

 

Kontributor: Wasidun

Editor: Aryudi AR

 

 

BNI Mobile