Seperti Penemuan Litium, Penulisan Hasil Penelitian Menjadi Warisan di Masa Depan

Seperti Penemuan Litium, Penulisan Hasil Penelitian Menjadi Warisan di Masa Depan
Kapus Litbang Penda dan Keagamaan H Amsal Bahtiar (tengah) pada Workshop Diseminasi Hasil Penelitian di Batam, Kamis (31/10) (Foto: Dok Kantor Agama Kota Batam/Badrudin)
Kapus Litbang Penda dan Keagamaan H Amsal Bahtiar (tengah) pada Workshop Diseminasi Hasil Penelitian di Batam, Kamis (31/10) (Foto: Dok Kantor Agama Kota Batam/Badrudin)
Batam, NU Online
Penulisan buku hasil penelitian menjadi bagian tak terpisahkan dari usaha untuk terus menyebarkan pemikiran, hasil penelitian dan pengembangan yang sudah dilakukan. Naskah yang kemudian terbit, nantinya menjadi legacy (warisan) dari para penulis dan peneliti kepada semua orang yang akan membacanya. 

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Kapus Litbang Penda) Badan Litbang dan Diklat Kemenag, H Amsal Bahtiar menyampaikan hal itu pada penutupan Workshop Penyusunan Buku Diseminasi Hasil-hasil Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kamis (31/10) malam.

Meskipun misalnya saat ini hasil penelitian yang disusun menjadi buku belum menjadi perhatian orang, menurutnya jika suatu saat lebih diperhatikan maka dampak dan pengaruhnya menjadi besar. "Walaupun sekarag tidak laku, kalau ke depan laku maka tendangannya (manfaatnya) akan sangat luar biasa hebat," katanya mengibaratkan.

Amsal juga menyebutkan beberapa waktu yang lalu dirinya mengikuti forum diskusi terbatas di Dewan Pendidikan Tinggi. Pada forum tersebut salah satunya disampaikan bahwa ternyata penelitian tentang litium (baterai) sudah ditemukan 40 tahun yang silam.

Saat litium baru ditemukan, belum langsung digunakan secara massif oleh manusia. Meski penemunya menerima Hadiah Nobel, banyak pihak yang memprotes terhadap temuan itu.
 
"Perjalanan berikutnya yang visioner baru ketahuan sepuluh tahun ini. Penemuan yang sangat mendasar dulunya berdasarkan litium, karena manusia masih menggunakan bateri dengan serbuk hitam yang cepat habis dan tidak tahan lama. Manusia berpindah ke (pemakaian) bahan bakar alam seperti minyak dan batu bara dan mengarah ke listrik. Penemuan litium sangat signifikan di tengah-tengah kita," paparnya.
 
Artinya, sambung dia, soal ‘tendangan’ manfaat penemuan yang baru bisa dirasakan setelah 40 tahun, menjadi kekaguman karena mengakui penemuan yang sangat mendasar yang baru dieksplorasi dan didimanfaatkan oleh manusai pada saat ini.

"Inilah yang kita lihat dari satu penelitian yang memang sangat mempunyai kerangka luar biasa, tidak hanya pada zamannya, tapi untuk masa depan lebih hebat," ujarnya.

Dari contoh tersebut, menurutnya penulisan hasil penelitian para peneliti Puslitbang Penda dan Keagamaan, setidak-tidaknya akan menjadi warisan yang nantinya memberikan satu perspektif kepada orang-orang di masa depan. Sehingga, hasil penelitian akan mendorong semangat, inspirasi maupun kebijakan.
 
Oleh karena itu, ia menyatakan sangat menyambut baik penulisan hasil penelitian. Ia juga meminta para peneliti untuk lebih fokus melakukan perbaikan penulisan hasil penelitian tersebut agar menjadi buku yang enak dibaca.
 
Dalam workshop tersebut diketahui ada tujuh rancangan buku dari hasil penelitian bidang pendidikan agama dan keagamaan. Buku-buku tersebut merupakan kumpulan tulisan para peneliti, terkait di antaranya pendidikan inklusi dan kehidupan keagamaan diaspora Indonesia di lima benua.
 
Workshop diikuti para penulis, editor, reviewer, perwakilan dari Kantor Agama Kota Batam, dan perwakilan sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam di Batam dan sekitarnya. Workshop berlangsung sejak Rabu (30/10) di Hotel King Kota Batam, Kepulauan Riau.
 
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Alhafiz Kurniawan
BNI Mobile