Terlalu Banyak Komentar

Terlalu Banyak Komentar
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)
Di zaman media sosial sekarang ini, komentar mengenai apa pun serba ada. Bahkan tak jarang berakhir pada persoalan hukum karena termakan hoaks dan ujaran kebencian atau hate speech. 

Kala itu di sebuah sekolah sedang ada kegaduhan yang menyebabkan terganggungnya aktivitas belajar siswa.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Pak Tarno langsung menelusuri sesiapa dalang keributan. Ia menemukan pelakunya, yaitu Saprol.

“Kenapa kamu bikin keributan di sekolah?” tanya Pak Tarno kepada Saprol.

“Saya dianggap terlalu banyak komentar pak,” jawab Saprol.

"Kamu terlalu banyak bicara sih," kata Pak Tarno.

"Soal itu sudah jadi tradisi keluarga saya, Pak".

"Apa maksudmu?" tanya Pak Tarno.

"Pak, kakek saya orator ulung, ayah saya seorang juru bicara,” jawab Saprol.

"Bagaimana dengan ibumu?"

"Dia seorang perempuan,” seloroh Saprol. (Fathoni)
BNI Mobile