IMG-LOGO
Nasional
FESTIVAL TAJUG 2019

Iis Sholihat, Menjadi Qari’ah Sejak Usia Kanak-kanak


Kamis 14 November 2019 16:45 WIB
Bagikan:
Iis Sholihat, Menjadi Qari’ah Sejak Usia Kanak-kanak
Iis Sholihat, sang juara MTQ Nasional kategori dewasa 3 kali berturut-turut. (Foto: NU Online/Rahman)

Jakarta, NU Online

Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang harus dibudayakan oleh umat Islama. Mencintai Al-Qur’an adalah dambaan setiap Muslim, agar setiap langkahnya selalu dinasihati oleh isi kandungan dari ayat-ayat suci tersebut.

 

Tidak hanya di akhirat, Al-Qur’an telah terbukti membawa keberkahan bagi umat manusia sejak di dunia. Terutama bagi qari-qari’ah yang setiap hari menggali cara-cara melantunkan Al-Qur’an dengan langgam yang indah.

 

Adalah Iis Sholihat, perempuan yang lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi 38 silam itu mengaku sudah menjadi qari’ah sejak usia kanak-kanak. Iis, panggilan akrabnya, mengawali belajar langgam Al-Qur’an di kediamannya di Pelabuhan Ratu. Di Kawasan pesisir yang ada di Jawa Barat inilah Iis belajar membaca Al-Qur’an dengan fasih melalui ilmu-ilmu tajwid yang diajarkan langsung kiai-kiai kampung di bale.

 

Kira-kira usia 7-12 tahun bakat Iis menjadi qariah mulai terlihat. Karena kemauannya yang tinggi untuk mempelajari Al-Qur’an Iis hijrah ke Jakarta setelah lulus dari Sekolah Dasar (SD).

 

“Nah disitu saya mulai mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dari mulai tingkat Kelurahan, Kecamatan sampai Provinsi,” ucap Iis sambil tersipu malu.

 

Sambil bersekolah SMP di Jakarta, Iis belajar tilawatil qur’an kepada Qariah International, Hj Maria Ulfah. Tidak hanya kepada satu guru, Iis juga menggali ilmu-ilmu Al-Qur’an kepada Ust Muhadjir dan Ustdzh Mawaddah.

 

“Jadi saya ini murid Hj Maria Ulfah qariah internasional,” ucap Iis melanjutkan obrolannya.

 

Karena sering mengikuti perlombaan, Iis merasa tertantang untuk terus malatih dan menggali qiraat Al-Qur’an. Saat itu pula Iis yang awalnya pemalu, memberanikan diri memperkuat mentalnya terutama saat tampil di panggung.

 

Menurut Iis, ketika memiliki niat tulus mengikuti perlombaan, maka niat tersebut harus berhasil. Ini motivasi agar belajar dengan sungguh-sungguh. Ia menceritakan bagaimana dulu suka dukanya belajar Al-Qur’an dan mengikuti MTQ berbagai tingkatan.

 

“Kunci semua itu ya terus belajar lah. Kalau mau ikut lomba harus kuat mental dan prosesnya juga tidak langsung bisa,” ujar perempuan yang kini tinggal di Kota Jakarta ini.

 

Atas kerja kerasnya menggali ilmu tajwid dan ilmu langgam Al-Qur’an, tahun 1999 Iis berhasil menjuarai MTQ Nasional kategori dewasa 3 kali berturut-turut. Puncaknya tahun 2000 saat Iis mengikuti MTQ Internasional di Malaysia, Iis menjadi juara umum pada perhelatan tingkat dunia tersebut.

 

Namun, meski sudah melekat juara International, sampai saat ini Iis masih hobi keliling kampung untuk menghadiri undangan dari masyarakat. Bahkan Iis melarang pihak yang mengundang untuk menanyakan tarif . Katanya, selama dirinya ada waktu dan sehat dia siap hadir melantunkan ayat-suci Al-Qur’an di kegiatan masyarakat.

 

“Saya tidak pernah mematok harga, dan itu tidak elok menurut saya. Selama saya sehat dan ada waktu insyallah hadir,” tuturnya.

 

Kontributor: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Aryudi AR

Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG