IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Berbeda Itu Indah jika Tetap dalam Kebersamaan


Jumat 15 November 2019 16:00 WIB
Bagikan:
Berbeda Itu Indah jika Tetap dalam Kebersamaan
Wakil Bupati Jember, Jawa Timur, KH Abdul Muqit Arief saat menghadiri pertemuan dengan para pimpinan partai politik. (Foto:NU Online/Aryudi AR)
Jember, NU Online 
Wakil Bupati Jember, Jawa Timur, KH Abdul Muqit Arief mengajak para tokoh politik dan segenap elemen masyarakat untuk selalu mengedepankan kebersamaan dan kerukunan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Sebab akhir-akhir ini kerukunan menjadi ‘barang’ yang teramat mahal bagi bangsa Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kejadian tawuran yang melibatkan masyarakat yang berbeda organisasi atau kelompoknya. Bahkan di tingkat elit pimpinan, ketegangan juga sering tak bisa dihindari. 
 
“Ternyata setelah ditelusuri sering kali hanya karena salah paham, atau karena hal lain yang sesungguhnya sepele,” ucapnya saat bertemu dengan para pimpinan partai politik di ruang rapat Bupati Jember, Kamis (14/11).
 
Menurut Kiai Muqit, ketergesa-gesaan dalam mengambil kesimpulan terhadap sautu informasi atau kejadian kerap kali menyeret masyarakat dalam kubangan pertikaian. Ia lalu mencontohkan terjadinya ketegangan di Dusun Sepuran, Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, beberapa waktu lalu. Di dusun itu, terdapat sebuah Kapel (gereja) yang sudah lama sekali berdiri (1952). Namun karena jamaatnya hanya 9 orang, sehingga Kapel itu sepi, seolah-olah tidak dipakai. 
 
Pada sutu ketika, lanjut Kiai Muqit, sejumlah pengurus Gereja Santo Yusuf sebagai gereja yang menaungi Kapel itu mengunjunginya dalam rangka hari ulang tahun gereja. Dan di situ mereka membagi-bagikan sembako untuk warga sekitar. Namun yang terjadi, justru aksi sosial itu oleh sebagian orang dianggap sebagai upaya kristenisasi.
 
“Untung kami semua bersama para kiai, pihak gereja cepat tanggap, sehingga keresahan warga tidak sampai menimbulkan aksi,” jelasnya.
 
Alumnus Pondok Pesantren Annqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura itu menegaskan bahwa berbeda dalam agama adalah hal yang biasa, lebih-lebih dalam pilihan politik. Ia mengibaratkan, sebuah taman tentu tidak indah jika hanya ditumbuhi bunga warna putih. Menjadi tidak menarik dipandang. Tapi akan menjadi indah dan laik disebut taman jika di situ terdapat beraneka rampai bunga dengan corak warna-warni.
 
“Artinya perbedaan justru menjadi kekayaan kita yang seharusnya membuat kita bersatu. Mari kita jaga kebersamaan dan kerukunan, karena di situlah kekuatan kita semua,” pungkasnya.
 
Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Syamsul Arifin
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG