Kampus Islam Negeri Bangun Sarana Prasarana Senilai Rp 4,8 Triliun

Kampus Islam Negeri Bangun Sarana Prasarana Senilai Rp 4,8 Triliun
Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam telah membangun sarana dan prasarana kampus agama Islam negeri senilai Rp 4,801 trilyun dari dana Surat Berharga Syariah Negara. (Foto: NU Online/Imam Kusnin A)
Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam telah membangun sarana dan prasarana kampus agama Islam negeri senilai Rp 4,801 trilyun dari dana Surat Berharga Syariah Negara. (Foto: NU Online/Imam Kusnin A)
Jakarta, NU Online
Sepanjang tahun 2015 hingga 2019 Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam telah membangun sarana dan prasarana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) senilai Rp 4,801 triliun dari dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Hal itu mengemuka pada Rapat Koordinasi dan Evaluasi SBSN pada Rabu hingga Jumat (13-15/11) di Jakarta. 
 
Arskal Salim GP selaku Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam mewanti-wanti agar PTKIN yang mendapat manfaat proyek SBSN 2019 untuk berusaha keras menyelesaikannya pada akhir Desember tahun ini.
 
“Bagi yang progressnya di bawah 60% harus lebih keras lagi memacu kontraktor dan berkomitmen untuk tepat waktu. Jangan sampai lewat Desember apalagi sampai tergolong Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) alias mangkrak,” kata guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, Jumat (15/11).
 
Arskal memberikan apresiasi kepada PTKIN yang capaian pembangunannya mencapai 85% ke atas seperti IAIN Palopo dan IAIN Fattahul Muluk Papua. 
 
“Saya memberikan apresiasi yang tinggi atas capaian SBSN yang tinggi di atas 85%, namun masih banyak yang di bawahnya yang perlu dipacu agar meningkat drastis sisa waktu 47 hari lagi,” kata Arskal.
 
Ali Rohmat sebagai Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama RI mengatakan peningkatan sarana prasarana PTKIN melalui proyek SBSN termasuk dalam program prioritas. Karenanya harus terus menerus dilakukan peningkatan tata kelola yang baik dan berorientasi pada pengembangan mutu kampus.
 
Ali Rohmat berharap agar dalam pengelolaan SBSN para pihak harus berkoordinasi dan kolaborasi. 
 
“Kita tidak bisa bekerja sendiri karena ini tugas dan amanah maha penting yang harus dikerjakan bersama,” tegasnya.
 
Alumni IAIN Walsongo ini menegaskan melalui SBSN ratusan gedung sarana dan pasarana pendidikan telah terbangun dengan baik dan telah meningkatkan animo masyarakat untuk studi pada PTKIN. 
 
“Ini dampak langsung yang menggembirakan dengan adanya proyek SBSN, dan ini patut menjadi kebanggaan sebagai keluarga besar PTKIN,” ungkapnya.
 
Sebagaimana diketahui, proyek SBSN yang dipercayakan kepada Kemenag telah berlangsung selama lima tahun. Pada tahun anggaran 2015 sebesar Rp 280,90 miliar, 2016 Rp 894,99 miliar, 2017: Rp 1,051,68 miliar, 2018: Rp 1,303,95 miliar dan pada 2019: menjadi Rp 1,269,87. Sampai dengan tahun 2020 diperkirakan mencapai 5,89 triliun rupiah yang dialokasikan kepada 8 PTKIN.
 
Ruchman Basori Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan mengatakan rapat koordinasi dan evaluasi SBSN dimaksudkan untuk melakukan progres report pelaksanaan proyek SBSN dan mempersiapkan pengajuan proposal SBSN pada tahun 2021. Hal itu sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 138 tanggal 7 Oktober 2019.
 
Selain itu lanjut Ruchman untuk membahas masalah dan sekaligus solusi atas berbagai masalah SBSN, sehingga meningkat tata kelola dan capaiannya. 
 
Hadir memberikan pencerahan adalah Direktur Pendidikan dan IPTEK Bappenas RI Hadiat. Kegiatan juga diikuti Wakil Rektor II PTKIN se-Indonesia, PPK dan sejumlah Pokja SBSN, Zainab Nurohmah dari Bappenas RI, Kasi Sarpras PTKIN M. Nuryasin, Kasi Sarpras PTKIS Otisia Arinindiyah dan Kasi Kemahasiswaan Amirudin Kuba. 
 
 
Kontributor: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile