IMG-LOGO
Daerah

Indonesia Negara Republik yang Tidak Melupakan Dimensi Agama


Ahad 17 November 2019 08:00 WIB
Bagikan:
Indonesia Negara Republik yang Tidak Melupakan Dimensi Agama
KH Abdul Ghofur Maimoen Zubair (kanan) saat menyampaikan materi Islam dan Politik dalam acara Sarasehan yang diselenggarakan DPC PPP Rembang. (Foto: NU Online/Aan Ainun Najib)
Rembang, NU Online
Indonesia merupakan negara Republik. Bentuk negara ini dibangun oleh para pendiri bangsa Indonesia yang memiliki beragam latar belakang. Untuk itu sangat wajar jika isi Indonesia terdapat berbagai budaya, suku dan agama yang berbeda-beda.
 
"Bentuk negara apapun jangan melupakan dimensi agamanya. Walaupun negara kita dimensi republik, tapi tidak melupakan Menteri Agama," ujar KH Abdul Ghofur Maimoen dalam acara Sarasehan Islam dan Politik yang diselenggarakan Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Rembang di STAI Al-Anwar Sarang Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (16/11) pagi.
 
Dulu ketika negara ini berdiri, lanjut Gus Ghofur sapaan akrabnya, memang berdasarkan republik, tapi tidak menghilangkan aspek agamanya, terbukti kala itu dibentuk Kementerian Agama sebagai representasi walaupun republik tapi tetap religius.
 
Di samping itu ia menegaskan, umat Islam tidak bisa lepas dengan politik. Bahkan dalam perjalanannya, sejak awal umat Islam sudah berpolitik. Karena Nabi juga punya dimensi politik. Belum ada keberhasilan yang terwujud dalam sejarah saat umat Islam melepaskan dari politik. 
 
"Jadi sejak awal umat Islam itu tetap berpolitik. Karena Nabi juga punya dimensi politik, umat Islam tidak bisa dipisahkan dari politik. Banyak upaya-upaya yang dilakukan untuk sekulerisasi Muslim, tapi semua itu pasti gagal," terangnya.
 
Kendati begitu, ada kalangan yang menyuarakan negara Indonesia tidak perlu ada partai Islam. Pernyataan itu itu sangat tidak sesuai. Karena sejarah umat Islam mulai dari Nabi tidak pernah terpisah Islam dengan politik.
 
"Jangan mencoba, jangan mencoba memisahkan Islam dan politik. Islam dan kebangsaan," tegasnya.
 
Ia menanggapi saat ada pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan di publik, mana yang lebih baik Al-Qur'an dan Pancasila? "Pertanyaan seperti itu tidak perlu. Kita berasaskan Islam, Al-Qur'an kita pahami kita dalami, setelah itu maka muncullah Pancasila dan Indonesia," jelas Ketua STAI Al-Anwar Sarang Rembang tersebut.
 
"Kita berbangsa di Indonesia dalam rangka mencintai agama Islam. Islam yang dikembangkan di Indonesia sudah sesuai dengan Indonesia. Bukan seperti di timur tengah. Yang menyebabkan kehancuran dan perpecahan," tutupnya. 
 
Kontributor: Aan Ainun Najib
Editor: Syamsul Arifin
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG