Shalat Wajib Diimplementasikan dalam Kehidupan Nyata

Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama-PBNU, KH Badri Hamidi saat memberikan tausiyah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Perumahan Graha Citra Mas, Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama-PBNU, KH Badri Hamidi saat memberikan tausiyah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Perumahan Graha Citra Mas, Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama-PBNU, KH Badri Hamidi saat memberikan tausiyah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Perumahan Graha Citra Mas, Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online

Dambaan semua umat Islam adalah berjumpa dengan Allah. Perjumpaan dengan-Nya merupakan kenikmatan puncak yang tiada tara. Dan itu bisa dicapai hanya oleh orang-orang terpilih. Namun sesungguhnya, banyak cara (ibadah) yang bisa mengantarkan seseorang bisa bertemu dengan Allah. Di antaranya adalah shalat.

 

Demikian diungkapkan oleh Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama-PBNU, KH Badri Hamidi saat memberikan tausiyah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Perumahan Graha Citra Mas. Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (19/11) malam.

 

Menurutnya, shalat merupakan ibadah yang berfungsi sebagai sarana komunikasi antara hamba dan pencipta. Selama pelaksanaan shalat, sesungguhnya telah terjadi interaksi yang intensif antara mushalli dan Allah.

 

“Komunikasi itu terjadi, kita merasa berhadapan dengan Allah jika shalat yang kita lakukan khusyuk. Makanya khusyuk itu penting,” jelasnya.

 

Shalat yang khusyuk tidak sekadar mampu mempertemukan mushalli dengan Allah tapi juga dapat menghadirkan Allah sebagai pengawas dalam kehidupan yang bersangkutan. Karena itu, kekhusyukan itu wajib diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuknya, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala laragan-Nya.

 

“Banyak sekali bentuknya. Tapi intinya adalah kita tidak cukup beribadah seperti shalat dan sebagainya, tapi yang juga penting adalah perbuatan kita juga wajib dijaga, jangan sampai merugikan orang lain, jangan dengki, tidak boleh sombong dan sebagainya,” urainya.

 

Kiai Badri menambahkan, shalat adalah ibadah yang dapat menjaga stabilitas temparatur jiwa. Sebab shalat dengan interval waktu 5 kali dalam sehari, memungkinkan jiwa dalam posisi fresh selalu, karena disirami kesejukan secara rutin.

 

“Jadi orang yang shalatnya khusyuk dan istiqamah, itu jiwanya tenang betapapun sibuknya dia,” tenangnya.

 

Di bagian lain, alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo itu menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mesti dijadikan momentum untuk meningkatkan keteladanan umat Islam dalam mencontoh prilaku Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah model terbaik dalam kehidupan umat manusia.

 

“Model (contoh) dalam segala hal, mulai dari soal kepemimpinan, binsis hingga rumah tangga,” jelasnya.

 

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut dikemas dalam acara Graha Citra Mas Bershalawat dengan menghadirkan kelompok Shalawat Al-Ghofilin pimpinan Gus Baiquni Purnomo.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

 

BNI Mobile