Kampanye Moderasi Beragama di Media Hendaknya Diperkuat

Kampanye Moderasi Beragama di Media Hendaknya Diperkuat
Pertemuan Sema, Dema PTKI se-Indonesia di Semarang. (Foto: NU Online/Imam Kusnin A)
Pertemuan Sema, Dema PTKI se-Indonesia di Semarang. (Foto: NU Online/Imam Kusnin A)
Semarang, NU Online    
Dalam sebuah survei yang dilalukan Alvara Riset Institut ada 39 persen yang mengatakan bahwa mahasiswa terpapar radikalisme dan intoleransi. Angka ini tentu saja cukup memprihatinkan. Walau itu tidak menyasar pada Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), tetapi hasil riset ini memprihatinkan generasi intelektual muda Indonesia.

Hal tersebut mengemuka pada pertemuan Senat Mahasiswa (Sema) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) PTKI se-Indonesia, sejak Kamis hingga Sabtu (21-23/11) di Semarang, Jawa Tengah. 
 
Ruchman Basori Kasubdit Sarana Prasarana dan kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kemenag mengatakan dalam hal penguasaan konten dan narasi moderasi beragama untuk kalangan mahasiswa PTKI cukup baik. Kekurangannya adalah bekal untuk membuat kampanye moderasi beragama di media termasuk media sosial.
 
“Mahasiswa perlu dibekali dengan wawasan dan komitmen moderasi beragama dan terpenting dari kemampuan melakukan aksi-aksi moderasi beragama yang diwujudkan dalam program dan kegiatan organisasi kemahasiswaan atau Ormawa,” kata Ruchman, Sabtu (23/11).
 
Mantan Ketua I Sema IAIN Walisongo ini mengemukakan aktivis Ormawa sangat penting dan strategis untuk melakukan kontra radikalisme, karena memiliki potensi intelektual, kekuatan moral dan kemampuan untuk menggerakan orag lain. 
 
Ruchman berharap melalui pertemuan ini akan menghasilkan rancangan strategi moderasi beragama dan rancanagan program dan kegiatan moderasi bagi Ormawa PTKI.
 
Imam Taufiq selaku Rektor UIN Walisongo atas nama Kementerian Agama RI menganggap kegiatan Temu Dema yang membahas tentang rencana aksi moderasi beragama untuk penguatan Ormawa sangat strategis. Karena mahasiswa adalah kekuatan intelektual dan moral force.
 
Imam menegaskan era disrupsi seperti sekarang ini mendatangkan masalah kehidupan yang komplek termasuk agama pun mengalami disrupsi. 
 
“Ini menjadi tantangan kita sebagai civitas akademika PTKI termasuk mahasiswa, bagaimana menyajikan konten-konten keagamaan yang bisa dipahami oleh anak-anak genersi milenial,” katanya.
 
Hadir sebagai narasumber Hasan Chabibi selaku Kabag Data dan Informasi Pustekom Dikbud yang membahas tentang pentingnya digital literasi untuk penguatan moderasi beragama. 
 
Ada juga Abdullah Ibnu Tolhah selaku dosen, wartawan dan seniman yang membekali mahasiswa tentang moderasi beragama dengan pendekatan seni dan Sholla Taufiq Kasubbag Humas Pendis menyapaikan materi membuat konten-konten moderasi beragama di media.
 
Turut hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Arf Budiman, Kabag Akademik dan kemahasiswaan Muharis, sejumlah Wakil Dekan III di UIN Walisongo, Kasi Kemahasiswaan Amirudin Kuba, Kasi Sarpras PTKIN M. Nuryasin, dan Kasi Sarpras PTKIS Otisia Arinindiyah. 
 
 
Kontributor: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile