Maulid Nabi adalah Peringatan bagi Setiap Umat Islam

Maulid Nabi adalah Peringatan bagi Setiap Umat Islam
Masdar Hilmy, Rektor UINSA Surabaya saat memberikan sambutan pada peringatan maulid. (Foto: NU Online/A Hanan)
Masdar Hilmy, Rektor UINSA Surabaya saat memberikan sambutan pada peringatan maulid. (Foto: NU Online/A Hanan)
Surabaya, NU Online
Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, H Masdar Hilmy menegaskan bahwa keberadaan Maulid Nabi merupakan peringatan bagi setiap umat Islam. 
 
Hal ini disampaikannya pada pengajian akbar dalam rangka peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan oleh Pusat Ma'had Jam'iyah UINSA Surabaya, Jumat (22/11).
"Saya ingin mengajak kita semua, bahwa peringatan Maulid Nabi ini adalah peringatan setiap umat Islam," ucapnya.
 
Dirinya menyebutkan ayat yang dibacakan qari saat acara pembukaan yakni liman kana yarjullaha wal yaumal akhir wadzakarallaha katsira seolah adalah takhsis, yakni hanya bagi mereka yang beriman kepada Allah dan yang mengharapkan hari akhir serta yang mengingat Allah.
 
Menurutnya, selain takhsis, ayat tersebut juga secara implisit merupakan perintah untuk meneladani sosok Nabi Muhammad.
 
"Ayat tadi sebenarnya secara implisit adalah perintah kepada kita semuanya untuk meneladani figur Rasulullah," jelasnya.
 
Untuk itu, dirinya mengajak para jamaah yang hadir pada pengajian yang diisi oleh KH Reza Ahmad Zahid dari Lirboyo ini untuk mencoba menjadi Muhammad kecil.
 
"Jadi kita ini mencoba untuk menjadi Muhammad kecil sekalipun tahu bahwa kita tidak mungkin menjadi seorang Muhammad," ungkapnya.
 
Dikatakan, menjadi Muhammad kecil itu tidaklah mudah. Bahkan, ia mengatakan bahwa jika ada yang sanggup untuk menjadi sepuluh persen Muhammad itu sudah sangatlah luar biasa hebatnya.
 
"Saya yakin seyakin-yakinnya kita tidak mungkin. Tidak usah 50 persen, kira-kira 10 persen menjadi Muhammad itu sudah luar biasa beratnya. Dengan rentang 61 tahun usia Nabi kita Muhammad SAW versi kamariyah dan kalau versi syamsiyahnya kan 61 tahun. Usia yang sangat padat," bebernya.
 
Selanjutnya dikemukakan bahwa dalam masa kenabiannya, 10 tahun di Mekah dan 13 tahun di Madinah itu sangat padat. 
 
“Beliau menerima Al-Qur'an 30 juz, belum lagi riwayat-riwayat yang disampaikan melalui hadits dan sunnahnya itu luar biasa," ungkapnya.
 
Ia melanjutkan, meskipun susah, menjadi seseorang seperti halnya Nabi Muhammad itu merupakan hal yang sangat menantang.
 
"Tapi jangan salah, menjadi Muhammad itu juga suatu hal yang sangat menantang, suatu hal yang tidak mudah kita lakukan. Sekalipun banyak sekali yang dengan pedenya seperti apa yang dilakukannya itu adalah apa yang dilakukan oleh Muhammad, tapi sebenarnya tidak," tukasnya.
 
Dirinya berharap dengan diadakannya peringatan Maulidur Rasul yang diselenggarakan pada malam tersebut bisa menjadikan ajang untuk mengkaji dan mengaji sosok Rasulullah lebih dalam dari sebelumnya.
 
"Peringatan Maulidur Rasul pada malam hari ini mudah-mudahan bisa menjadi ajang kita untuk mengkaji dan mengaji profil dari Rasulullah SAW yang selama ini hidupnya sudah jauh rentang hidupnya dengan kita, sudah 15 abad yang lalu," katanya.
 
Di penjelasan terakhir, dirinya menyatakan bahwa butuh kecerdasan, kearifan, dan butuh mata batin yang tajam dalam rangka melihat sejauh mana sih figur Nabi Muhammad yang sesungguhnya.
 
“Apalagi kalau kita transfer dalam ruang dan waktu yang berbeda," pungkasnya.
 
 
Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile