Kisah Guru yang Tanpa Tanda Jasa

Ketua Forum Guru Tidak Tetap (GTT) Pendidikan Agama Islam (PAI) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Moch Ali Zamil.  (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ketua Forum Guru Tidak Tetap (GTT) Pendidikan Agama Islam (PAI) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Moch Ali Zamil. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ketua Forum Guru Tidak Tetap (GTT) Pendidikan Agama Islam (PAI) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Moch Ali Zamil. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online

Tidak bisa dipungkiri bahwa jasa guru teramat besar bagi pembangunan Indonesia. Sebab gurulah yang menyediakan SDM (sumber daya manusia) untuk mengelola negara yang kekayaannya melimpah ruah ini. Bisa dipastikan, sehebat apapun seseorang, pasti melewati jenjang pendidkan dasar hingga menengah yang notabene diajar guru.

 

Namun kenyataannya, nasib guru tidak seharum namanya. Keharumannya memang semerbak kemana-mana, namun bunganya sendiri tidak terawat, bahkan panas kepanasan, dan hujanpun kehujanan hingga akhirnya layu.

 

Itulah yang dirasakan oleh Moch Ali Zamil. Ketua Forum Guru Tidak Tetap (GTT) Pendidikan Agama Islam (PAI) Kabupaten Jember, Jawa Timur ini merasakan betapa nasib guru memang tidak seindah yang dibayangkan, khususnya dari sisi kesejahteraan.

 

Menurutnya, dari sisi kesejahteraan terdapat perbedaan yang jomplang antara guru yang berstatus ASN (aparat sipil negara) dan GTT, meskipun boleh jadi tugasnya sama.

 

“Banyak juga guru honorer (GTT) yang tugas di desa, jauh dari kota, namun tetap dilaksanakannya dengan baik,” ucapnya.

 

Zamil sendiri mengaku sudah memantapkan hati untuk menekuni profesi guru. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura tersebut, saat ini menjadi guru di SDN Jatian 02, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember dengan status GTT.

 

Sudah 17 tahun pria kelahiran Jember 15 Mei 1978 ini bergelut dengan profesinya sebagai guru honorer. Sebagai manusia yang menginginkan perubahan nasib, tentu Zamil dan ribuan rekannya sudah berusaha sekuat tenaga agar statusnya sebagai GTT minimal bisa naik ke level guru tetap (GT). Namun apa yang diusahakannya, selalu menemui jalan buntu. Sia-sia.

 

“Kita para guru honorer sudah pernah audensi dengan dewan (DPRD) dan Pemkab Jember, tapi hingga hari ini tidak ada hasilnya,” ucap Zamil.

 

Tentu saja honor dari GTT, jauh dari mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal dalam keluarga. Namun Zamil tetap bersabar. Ia mengaku masih bisa tersenyum menikmati tugas-tugasnya sebagai guru seraya berharap ada rezeki lain dari tempat yang lain pula.

 

“Saya mengajar PAI dan budi pekerti, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, dan menjadi amal jariyah bagi saya. Tapi kami tetap berharap ada perbaikan nasib untuk guru honorer,” harapnya.

 

Harapan yang diungkapkan Sekretaris MWCNU Pakusari, Jember ini tentu juga mewakili perasaan ribuan bahkan jutaan guru lain yang senasib dengan dirinya. Persoalannya, tugas untuk mencerdaskan anak bangsa merupakan tanggungjawab semua elemen pendidik, termasuk GTT. Namun ketika tugas tersebut hanya bisa dan terus dibebankan tanpa mengindahkan status dan kondisi ekonomi sang guru, tentu sangat menyedihkan.

 

“Ini salah satu problem pendidikan kita yang tak pernah tuntas. Kita jadi aneh, kita dituntut melahirkan anak yang cerdas, tapi nasib gurunya seperti itu,” ungkapnya.

 

Apa yang diungkapkan Zamil tak terlalu berlebihan. Guru senantiasa berada di posisi yang lemah. Ungkapan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bisa jadi benar adanya. Tepatnya guru bukan sekadar tanpa tanda jasa, tapi juga nihil ongkos jasa.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile