Menulis Itu Mudah dan Cepat

Menulis Itu Mudah dan Cepat
Foto bersama peserta ngobrol santai seputar jurnalistik di Kesamben, Jombang, Jawa Timur. (Foto: NU Online/Ririn)
Foto bersama peserta ngobrol santai seputar jurnalistik di Kesamben, Jombang, Jawa Timur. (Foto: NU Online/Ririn)
Jombang, NU Online
Sejumlah anggota dan pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) di Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur belajar tata cara menulis yang baik dan benar. Mereka mengonsep kegiatan dengan cukup sederhana, sekadar ngobrol santai seputar jurnalistik dengan mendatangkan Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jombang, A Syamsul Arifin.
 
Dalam penjelasannya, ia menyampaikan bahwa menulis bukan pekerjaan yang sulit. Terlebih menulis berita. Untuk itu pemuda NU perlu mulai mengubah cara pandangnya terhadap dunia tulis menulis, kalau dulu banyak orang yang masih beranggapan bahwa menulis itu sulit, maka sekarang pola pikir demikian harus segera dibalik.
 
"Tidak perlu membutuhkan waktu lama, hanya sekitar 15 menit sampai 30 menit satu tulisan berita sudah selesai. Hilangkan perspektif bahwa menulis itu sulit,” katanya, di TPQ Darussalam Jombatan, Kesamben, Ahad (24/11).
 
Pandangan itu menurutnya akan mensugesti sikap atau pola kerja seseorang. Tidak terkecuali dalam hal menulis. Jika dari awal menilai bahwa menulis itu sangat sulit, maka selama pandangan itu belum hilang, seseorang itu tidak akan pernah bisa menulis.
 
"Kalau sudah paham bahwa menulis satu berita hanya butuh 15 menit, kenapa masih banyak yang malas untuk nulis?," ujar salah satu redaktur NU Online ini sembari bertanya.
 
Ada banyak manfaat dalam menulis. Yang paling tampak adalah bisa mendokumentasikan sejarah penting, misalnya sejarah perjuangan kiai-kiai NU, begitu juga sejarah NU sendiri dari masa ke masa. Warga NU saat ini bisa mengetahui sejarah tersebut lantaran ada tulisan atau buah tangan dari pendahulu yang gemar menulis.
 
"Coba kalau tidak ada tulisan yang memaparkan tentang perjuangan ulama NU, apakah kita akan mengenal NU sebagaimana saat ini?," tanyanya lagi.
 
Tugas pemuda NU hari ini melanjutkan jejak dan langkah pendahulu yang rajin menulis mengabadikan tentang kiprah-kiprah kiainya. Baik untuk sesama, bangsa bahkan kepada negara. Di NU menurutnya sangat kaya bahan tulisan, mulai dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan, ide cemerlang yang menginspirasi khalayak luas, dan seterusnya.
 
Lebih jauh, Sekretaris MWCNU Kesamben, Masrukhin menyampaikan, bahwa anak muda saat ini perlu meningkatkan semangat menulisnya sebagaimana ulama-ulama terdahulu. Mereka dikenal banyak kalangan lantaran karya tangannya. Seperti Imam Ghazali, Ibnu Sina dan seterusnya. 
 
“Ibnu Sina dengan karyanya tentang kedokteran, sampai saat ini masih dipakai,” jelasnya.
 
Hadir pada kesempatan ini Ketua Unit Pengelola Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) Kesamben, Ruruddin Suryanulloh. Kepada para peserta, ia berharap akan muncul kader muda Kesamben yang mahir dalam dunia jurnalistik. Sehingga kegiatan-kegiatan di Kesamben terpublish lewat media-media yang berkembang. 
 
“Menulis harus dilakukan secara continue jangan sampai berhenti di sini, acara selesai dan menulispun selesai, hal tersebut jangan sampai terjadi karena itu sangat disayangkan,” ungkapnya di waktu selsai acara.
 
Kontributor: Ririn 
Editor: Syamsul Arifin
BNI Mobile