Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Ketua Lakpesdam NU Paparkan Lima Modal Sosial di Indonesia 

Ketua Lakpesdam NU Paparkan Lima Modal Sosial di Indonesia 
Forum Dialog Publik dan Literasi, Senin (2/12) di Pemalang, Jawa Tengah. (Foto: NU Online/Imam Kusnin A)
Forum Dialog Publik dan Literasi, Senin (2/12) di Pemalang, Jawa Tengah. (Foto: NU Online/Imam Kusnin A)
Pemalang, NU Online              
Indonesia mempunyai modal sosial untuk menjadi bangsa yang kuat dan kokoh, namun kini menghadapi tantangan besar dengan adanya media sosial.
 
Pernyataan itu dikatakan Rumadi selaku Ketua Pengurus Pusat (PP) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU pada Forum Dialog Publik dan Literasi, Senin (2/12) di Pemalang, Jawa Tengah.
 
“Kelompok yang menghalalkan kekerasan atas nama agama, mempertentangkan antara agama dan tradisi lokal, dan mempersoalkan ideologi negara kerap memanfaatkan media sosial,” kata dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
 
Untuk menangkal itu semua, dirinya menawarkan lima modal sosial. Pertama, Indonesia tidak mempunyai memori perang antar agama karena agama-agama di Indonesia. Terutama Islam disebarkan melalui proses yang damai, bukan dengan pedang dan darah. 
 
“Proses beragama yang memadukan antara agama dan tradisi lokal dan karakter masyarakat yang toleran dan moderat sebagai hasil dari proses panjang merupakan modal sosial kedua dan ketiga,” terang Rumadi di hadapan ratusan peserta dialog. 
 
Sedang modal sosial keempat lanjut Rumadi adalah keberhasilan para pendahulu bangsa Indonepsia terumasuk para ulama yang dapat memadukan antara agama dan kebangsaan, Islam dan nasionalisme. 
 
“Modal sosial yang keilma adalah Indonesia dianugerahi adanya organisasi sosial keagamaan yang menjadi penopang tegaknya pilar-pilar bangsa, terutama NU dan Muhammadiyah,” kata doktor hukum Islam ini.
 
Rumadi mensinyalir kelompok-kelompok yang menghalalkan kekerasan sebagai cara penyebaran agama, mempertentangkan antara agama dan tradisi lokal, mempersoalkan ideologi negara dan sebagainya memanfaatkan media sosial untuk menjajakan ideologinya.
 
Forum dialog publik dan literasi diselenggarakan atas kerja sama Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo RI dengan Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPP FKDT). 
 
Narasumber lain yang tampil, Muhammad Nafis Junalia, pakar pemikiran Islam UIN Walisongo, Ismail Cawidu dari Kominfo dan Lukman Hakim Ketua Umum DPP FKDT.
 
Muhammad Nafis Junalia mengatakan Islam yang rahmatan lil ‘alamin setidak-tidaknya harus terwujud dalam 3 matra, yakni pertama, realitas kehidupan yang damai, lembut, penuh kasih sayang dan jauh dari segala bentuk kekerasan. 
 
Kedua, kondisi aman dari ancaman mara bahaya dan huru hara. Ketiga, jaminan kelancaran dan ketercukupan pasokan kebutuhan hidup, utamanya bagi warga yg membutuhkan.
 
“Profil Islam seperti inilah di emban dan telah diwujudkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan model Islam seperti ini pula yang dibutuhkan untuk membangun masa depan Indonesia,” terang Nafis.
 
Sementara itu Lukman Hakim selaku Ketua Umum DPP FKDT mengajak masyarakat khususnya komunitas Madin untuk tidak pernah capai menanamkan Islam yang rahmatan lil ‘alaamin.
 
“Dengan Islam rahmatan lil ‘alamin umat Islam Indonesia akan mampu mengawal bangsa ini dari ancaman radikalisme, intoleransi dan berbagai bahaya yang mengancam NKRI,” pungkasnya. 

 
Kontributor: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile