Kiai Said Ungkap Amanat Manusia dalam Al-Qur’an

Kiai Said Ungkap Amanat Manusia dalam Al-Qur’an
Silaturahmi KH Said Aqil Siorj dengan kiai dan tokoh NU se-Provinsi Lampung di Pondok Pesantren Darussaadah, Mojo Agung, Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah, Selasa (24/12). (Foto: istimewa)
Silaturahmi KH Said Aqil Siorj dengan kiai dan tokoh NU se-Provinsi Lampung di Pondok Pesantren Darussaadah, Mojo Agung, Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah, Selasa (24/12). (Foto: istimewa)
Lampung Tengah, NU Online
Menjelaskan makna yang terkandung dalam QS Al-Ahzab ayat 72, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj mengungkapkan bahwa manusia memiliki amanat yang sangat berat dari Allah SWT dalam kehidupan di dunia. Beratnya amanat ini, sampai-sampai langit, bumi, dan gunung-gunung tak mau menerima amanat karena khawatir mengkhianatinya.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh," katanya sesuai terjemah Al-Qur’an dari ayat tersebut.

Ayat ini menurut Kiai Said menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia memiliki dua amanat yakni amanat langit (teologis atau ilahiyah) dan amanat bumi atau (sosiologis atau insaniyah). 

Untuk memikul amanat ini, manusia dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas diri, mencakup berbagai sisi kehidupan di antaranya kapasitas keilmuan dan kapasitas ekonomi. Peningkatan kapasitas keilmuan misalnya, tidak mengikat umat Islam untuk belajar hanya dari sesama umat Islam.

Untuk kemajuan yang bersifat hadharah (kemajuan dalam bentuk materi) umat Islam bisa membangun peradaban dunia baru dengan belajar pada orang lain tanpa melihat agama. Hal ini dapat dilihat dari sejarah banyak ilmu dan perkembangannya dipelajari dari umat non-muslim.

"Umat Islam harus pinter dan kaya," tegas Kiai Said saat memaparkan hal tersebut pada acara Silaturahmi dengan kiai dan tokoh NU se-Provinsi Lampung di Pondok Pesantren Darussaadah, Mojo Agung, Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah, Selasa (24/12).

Dalam peningkatan kapasitas ini, umat Islam harus pantang menyerah serta tidak mudah putus asa jika menemui berbagai kendala. Menurutnya tidak ada yang sulit jika benar-benar diperjuangkan. "Setinggi-tingginya gunung, ketika sudah didaki pasti berada di bawah kaki," tegasnya mengistilahkan sebuah perjuangan.

Selain kapasitas keilmuan, kapasitas ekonomi juga harus diperjuangkan oleh umat Islam khususnya warga NU. Faktanya di Indonesia menurutnya, dari lima sila Pancasila, ada satu sila yang belum mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yakni sila ke lima "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia".

Menurutnya, perekonomian di Indonesia saat ini masih dikuasai oleh segelintir orang. Pemerataan ekonomi masih jauh panggang dari api. Hal ini diperunyam dengan sistem oligarki yang masih sangat dominan dalam pemerintahan dan kekuasaan politik.

"Ada yang kekayaan empat orang di Indonesia ini sama dengan kekayaan 100 juta orang. Ini menunjukkan Indonesia masih jauh dari keadilan. Jauh dari sila ke lima," tegasnya.

Oleh karenanya ia mengajak warga NU menguatkan Jamiyyah Nahdlatul Ulama sebagai kekuatan masyarakat (civil society), agama, aswaja. Kader-kader NU yang memiliki peran strategis harus benar-benar mencurahkan tenaga dan kemapuannya untuk memberi kemaslahatan bagi bangsa.

Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile