Gus Dur Menjalankan Tiga Ukhuwah Tanpa Kebablasan

Gus Dur Menjalankan Tiga Ukhuwah Tanpa Kebablasan
Pengajian akhir tahun yang digelar PW MDS Rijalul Ansor Jatim di aula kantor setempat, jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya. (Foto: NU Online/Yuli R)
Pengajian akhir tahun yang digelar PW MDS Rijalul Ansor Jatim di aula kantor setempat, jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya. (Foto: NU Online/Yuli R)
Surabaya, NU Online
Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid  alias Gus Dur adalah sosok yang mampu mengaplikasikan tiga ukhuwah secara apik. Baik ukhuwah islamiyah, basyariyah dan insaniah bisa dijalankan tanpa harus melampaui batas atau kebablasan.
 
Pandangan ini disampaikan H Nailur Rohman, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Jawa Timur pada ngaji akhir tahun yang dikemas dengan acara peringatan satu dekade haul Gus Dur.
 
Kegiatan diselenggarakan di aula lantai tiga gedung PW Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jatim yang berada di jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Gayungan Surabaya, Senin (30/12).
 
Pada kesempatan ini, Gus Amak, panggilan akrabnya menjelaskan bahwa Gus Dur bisa menjaga ketiga ukhuwah dalam koridornya tanpa harus kebablasan, saling merusak dan mengganggu.
 
“Pertama, manusia itu dijadikan terikat satu sama lain karena imannya. Maka dengan siapa pun dan di mana pun selama sama-sama yakin dalam hati iman kepada Allah dan Rasulullah, maka saling terikat menjadi ikatan ukhuwah islamiyah,” ungkap alumnus kampus di Suriah tersebut.
 
Sedangkan yang kedua, ketika hidup dalam satu konteks kesepakatan yang dalam hal ini disebut negara yang memiliki prinsip dan kesepakatan bersama sebagai warga negara Indonesia yang menghormati Pancasila sebagai prinsip bersama, maka di situ terjalinlah ikatan ukhuwah wathaniyah.
 
“Ketiga, lebih luas lagi yaitu ukhuwah basyariah atau global,” ungkap cucu almaghfurlah KH Abdul Hamid Pasuruan tersebut. Implementasinya, ketika bertemu sesama manusia, maka mempunyai jalinan ikatan kemanusiaan, lanjutnya. 
 
Menurut Gus Amak , manusia ada tiga kesamaan. Pertama, dulunya belum ada menjadi ada, yang kedua semua manusia sama mempunyai sifat beribadah kepada Allah, dan yang ketiga semua manusia pasti akan kembali kepada-Nya. 
 
“Maka, bagaimana berinteraksi kepada manusia itu kita mencontoh seperti yang dilakukan Gus Dur,” tegasnya. 
 
Menurutnya, Gus Dur akan baik kepada siapa pun. Yakni menampakkan sikap dan sifat lebih baik kepada sesama Muslim, apalagi tinggal di Indonesia.
 
Gus Amak mengajak kader Rijalul Ansor untuk meneladani perilaku dan pemikiran Gus Dur. 
 
”Tugas kita adalah bagaimana membina, membangun ukhuwah islamiyah dengan baik, kemudian relasi dengan siapapun yang sesama Muslim dengan baik,” ajaknya.
 
Dirinya secara pribadi setuju bahwa harus menunjukkan keistimewaan dalam artian Ahlussunah wal Jama’ah jangan mau dilebur dengan aliran atau paham lain dengan alasan Islam itu sama saja.
 
“Meskipun kita harus bersikap baik kepada setiap orang,” ungkapnya.
 
Di hadapan sejumlah peserta yang memadati aula, Gus Amak menjelaskan bahwa Gus Dur selain dikenal sebagai politikus, presiden, kiai, sufi juga seorang yang demokratis, humanis serta humoris.
 
“Kalau mau bersyukur mempelajari dari haul Gus Dur yang sekarang sedang diperingati, sebenarnya kita selalu belajar tentang tiga hal besar tersebut,” jelasnya. 
 
Hal istimewa dari Gus Dur lainnya adalah dalam urusan sedekah yakni tidak mau mengorbankan akhiratnya hanya untuk dunia yang sementara.
 
“Karena Gus Dur selalu mengambil yang cukup untuk kehidupan, dan sisanya digunakan untuk sedekah,” ungkap dia.
 
Ngaji akhir tahun ini diakhiri doa oleh Pembina MDS Rijalul Ansor Jawa Timur, KH Wahab Yahya atau Gus Wahab.
 
Tampak hadir jajaran pengurus PW GP Ansor dan MDS Rijalul Ansor Jawa Timur, juga utusan dari berbagai daerah. 
 
 
Kontributor: Yuli Riyanto
Editor: Ibnu Nawawi

 
BNI Mobile