IMG-LOGO
Nasional
RISET BLA JAKARTA

Sekolah dan Madrasah Diniyah Bermitra, Pendidikan Karakter Tercipta

Rabu 4 Desember 2019 20:10 WIB
Sekolah dan Madrasah Diniyah Bermitra, Pendidikan Karakter Tercipta
Siswa madrasah pada sebuah kegiatan pembelajaran (Foto: Abdul Hadi Hasan)
Pemerintah Indonesia bercita-cita melahirkan generasi unggulan yang mampu bersaing secara global pada tahun 2045. Jalan panjang untuk mewujudkan impian tersebut salah satunya melalui model pendidikan karakter yang harus diajarkan kepada generasi muda. Salah satu yang pilar dari pendidikan karakter tersebut adalah religiusitas. 
 
Religiusitas atau sikap religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan mampu hidup rukun dengan pemeluk agama lainnya.
 
Bagi bangsa Indonesia yang sangat multikultural ini, sikap religius memegang posisi yang sangat penting dalam memelihara keutuhan dan persatuan bangsa dari berbagai ancaman perpecahan, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam. 
 
Untuk mendapatkan karakter religius tersebut, seperti ditulis dalam buku Panduan Integrasi Madrasah Diniyah Takmiliyah ke Sekolah yang diterbitkan oleh Bali Litbang Agama (BLA) Jakarta Balitbang Diklat Kemenag RI tahun 2019. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa diperlukan adanya sistem pendidikan yang dapat mentransformasi nilai-nilai agama untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian peserta didik sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupannya kelak. Caraya adalah dengan menyinergikan tiga pusat pendidikan sekaligus menjadi satu kesatuan untuk membentuk sistem pendidikan karakter yang luar biasa, tiga pusat pendidikan tersebut yaitu sekolah, keluarga (orang tua) dan komunitas atau masyarakat. 
 
Disebutkan pula bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peranan yang strategis dalam mewujudkan cita-cita pendidikan karakter pada peserta didik. Sekolah menjadi agen pembaruan masyarakat dalam pewarisan dan pelestarian nilai karakter yang harus dibudayakan secara sistematis dan terstruktur. 
 
Sementara itu, Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) adalah lembaga pendidikan nonformal keagamaan yang didirikan oleh masyarakat berdasar kebutuhan akan pengayaan keagamaan bagi peserta didik, baik pada jenjang pendidikan dasar, menengah, maupun tinggi. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama melakukan dukungan dan pembinaan terhadap lembaga MDT secara fasilitatif, yang berarti bahwa masyarakat tetap memiliki kewenangan dalam melakukan pengembangan maupun inovasi dalam sistem pendidikan internal MDT.
 
Meski demikian, pemerintah memberi batasan-batasan umum yang dirasa perlu bagi pengembangan pada model pengembangan MDT dengan tetap memperhatikan keunikan dan keunggulan lokal di masing-masing tempat di mana lembaga MDT tersebut berada melalui Keputusan Dirjen Pendis No 3201 Tahun 2013 tentang Pedoman Standar Pelayanan Minimal Madrasah Diniyah Takmiliyah.
 
Kedua lembaga pendidikan tersebut jika mampu bersinergi dengan baik akan mampu menghasilkan kualitas pendidikan karakter yang lebih baik dan kemitraan ini menjadi hal yang menarik di saat sekolah memerlukan keterlibatan masyarakat dalam bidang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) khususnya bidang religuisitas.
 
Sekolah dapat menjadi mitra bagi MDT untuk lebih menguatkan fungsinya sebagai penguatan pendidikan keagamaan bagi peserta didik usia dasar hingga tinggi. Eksistensi MDT sebagai lembaga pendidikan keagamaan non formal dapat menjadi mitra yang ideal karena telah memiliki sistem standar pendidikan Nasional yang termaktub dalam Keputusan Dirjen Pendidikan Islam No. 2347 tahun 2012 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah.
 
Integrasi antara lembaga MDT dan sekolah merupakan upaya menyatukan beberapa unsur yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh dan memiliki daya guna yang efektif dan sinergis.Kedua lembaga pendidikan ini diharapkan dapat saling mengisi dan menjadi mitra dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.
 
Tujuan dari adanya kemitraan tersebut antara lain untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, produktivitas, kreativitas, inovasi, mutu dan relevansi pelaksanaan kemitraan dengan sekolah dalam program integrasi MDT di sekolah guna mencapai tujuan pendidikan Nasional. Meningkatkan kinerja dan mutu kelembagaan maupun akademik MDT dalam program integrasi MDT di sekolah. Selain itu juga menjalin hubungan yang harmonis dalam program integrasi MDT di sekolah berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menghormati dan saling menguntungkan.
 
Kepala BLA Jakarta, Nurudin Sulaiman dalam Kata Pengantar buku tersebut mengatakan buku Pedoman Integrasi Madrasah Diniyah Takmiliyah ke Sekolah memberikan petunjuk kepada kepala sekolah dan kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) bagaimana bentuk kerja sama yang bisa dilakukan, baik melalui kelembagaan, kurikulum, maupun pendidik. Hal ini penting disamping memudahkan proses integrasi juga sebagai pemantik kerjasama sekolah dan MDT dalam aspek yang lebih luas lagi.
 
Sekolah dan MDT, sebut Nurudin, bisa saling melengkapi. Keduanya tidak dalam posisi saling bersaing dalam hal perekrutan siswa. Keduanya memiliki keunggulan sekaligus kelemahan yang bisa saling mengisi jika ada komunikasi yang baik dari kepala MDT dan orangtua dengan kepala sekolah.
 
"Buku ini juga menjelaskan peran penting Kemenag RI, Kanwil Kemenag, Kemendikbud, Dinas Pendidikan, Pemerintah Daerah, dan pihak-pihak terkait lainnya dalam mendukung program integrasi MDT ke sekolah. Mereka memiliki peran masing-masing yang penting dalam mewujudkan program ini," tulis doktor jebolan UI ini.
 
Penulis: Kifayatul Ahyar
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG