Tumbuhkan Toleransi, LP Ma'arif NU Tanamkan Empat Ukhuwah pada Peserta Didik

Tumbuhkan Toleransi, LP Ma'arif NU Tanamkan Empat Ukhuwah pada Peserta Didik
Ketua LP Ma'arif NU KH Arifin Junaidi (Foto NU Online/Abdullah Alawi)
Ketua LP Ma'arif NU KH Arifin Junaidi (Foto NU Online/Abdullah Alawi)
Jakarta, NU Online
Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) menekankan penanaman prinsip-prinsip Islam wasathiyah kepada peserta didik yang ada di lingkungannya, yakni di antaranya berupa empat ukhuwah atau persaudaraan. Hal itu supaya kesadaran mengenai pentingnya hidup bersama, toleransi, dan tidak mudah menyalahkan golongan lain yang berbeda tertanam sejak dini.

"Kalau di sekolah-sekolah di lingkungan Ma'arif NU ya sudah ditanamkan sejak dini, ya mengenai Islam wasathiyah itu," kata Ketua LP Ma'arif NU Pusat KH Zainal Arifin Juanidi di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (14/1).

Empat ukhuwah yang dimaksud ialah ukhuwah nahdliyah atau persaudaraan sesama warga NU, ukhuwah islamiyah atau persaudaraan sesama umat Islam, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah atau persuadaraan sesama manusia.

"Empat ukhuwah ini yang kita tanamkan kepada anak sejak kecil itu," kata kiai yang juga Pengasuh Pesantren Al-Ittihad Poncol, Popongan, Beringin, Kabupaten Semarang ini.

Kiai Arifin menjelaskan, pentingnya menanamkan empat ukhuwah kepada anak sejak kecil bagaikan mengukir di atas batu, sementara kalau mendidiknya sudah dewasa itu bagaikan menulis di atas air.
 
"Kalau mengukir di atas batu kan akan sulit terkikis. Kalau tidak dari kelas yang paling bawah ya akan susah," ucapnya.

Ia pun meminta kepada satuan pendidikan di luar Ma'arif NU untuk selalu menanamkan sikap toleran dan tidak merasa diri paling benar. Penanaman tidak hanya dilakukan melalui ilmu pengetahuan, tetapi juga lewat keterampilan dan sikap sehari-hari, sehingga ke depan peserta didik menjadi toleran.

"Jadi guru harus bisa menjadi uswatun hasanah. Jangan hanya bisa mauidhah hasanah. Mauidhah hasanah penting, tapi uswatun hasanah penting juga," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, beberapa hari terakhir, netizen dihebohkan video yel-yel Pramuka yang diketahui dilakukan di sebuah SD Timuran, Prawirotaman Kota Yogyakarta pada 10 Januari 2020. Dalam video tersebut diduga seorang pembina Pramuka dari Gunungkidul mengajarkan anti-keberagaman dengan kata 'Islam yes, kafir no' saat memberikan pelatihan. Peristiwa itu diungkapkan oleh seorang wali murid melalui status media sosial.

Kiai Arifin melihat adanya kasus tersebut menandakan radikalisme di Indonesia masih gencar dilakukan kelompok tertentu. Ia pun memastikan bahwa ucapan atau tindakan radikal tidak berasal dari kalangan NU. Sebab katanya, warga NU selalu ditanamkan empat ukhuwah tersebut.
 
"Ucapan dan tindakan radikal itu pasti dari luar NU. Kalau ada orang NU dan mengatakan dirinya NU tetapi ngomong yang gak genah itu diragukan ke-NU-annya," ucapnya.

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Abdullah Alawi
BNI Mobile