Tanam Kebaikan Sebanyak-banyaknya di Dunia untuk Panen di Akhirat

Tanam Kebaikan Sebanyak-banyaknya di Dunia untuk Panen di Akhirat
Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung, KH Anwar Zuhdi pada kegiatan Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di aula Kantor NU Pringsewu. (Foto: NU Online/Faizin)
Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung, KH Anwar Zuhdi pada kegiatan Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di aula Kantor NU Pringsewu. (Foto: NU Online/Faizin)
Pringsewu, NU Online
Tugas utama manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk beribadah menyembah Allah SWT. Dengan mematuhi perintahnya sekaligus meninggalkan apa yang dilarangNya, manusia akan menjadi hamba yang memperoleh rahmat (kasih sayang). Rahmat Allah inilah yang akan menjadi kunci kesuksesan hidup manusia di dunia dan akhirat.
 
"Amal ibadah yang kita lakukan pada pokoknya adalah mencari rahmat Allah SWT. Rahmat ini diberikan Allah kepada orang-orang yang dikehendakiNya," kata Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung, KH Anwar Zuhdi pada kegiatan Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di aula Kantor NU Pringsewu, Ahad (19/1).
 
Ia menjelaskan bahwa orang yang menyembah Allah dan menjaga ibadahnya selama di dunia diibaratkan sedang menanam tanaman, yang hasilnya akan dipetik di akhirat. Sehingga sudah semestinya berbagai ibadah diamalkan agar pada hari akhir nanti panen raya bisa dirasakan.
 
"Tanam sebanyaknya amal kita di dunia baik yang wajib maupun yang sunah. Shalat, zakat, shalawatan, yasinan, manakiban, mudah-mudahan kita panen hasilnya di akhirat," ajaknya.
 
Selain ibadah yang bersifat vertikal (hablun minallah), tak kalah pentingnya adalah menjalankan ibadah horizontal (hablun minannas). Ibadah ini berbentuk perilaku baik dan menjaga kemaslahatan dalam hidup bersama orang lain. Inilah tingkatan tertinggi yang dinamakan dengan ihsan.
 
"Banyak orang Islam tapi tidak iman. Banyak juga orang Islam tapi tidak ihsan. Ketiga hal ini harus dimiliki agar mampu menciptakan kemaslahatan bagi diri dan orang yang ada di sekitar kita," tambahnya.
 
Bentuk ihsan ini menurut Kiai Anwar, bisa terlihat dari sikap seseorang terhadap orang lain. Belum bisa dikatakan ihsan jika seseorang tidak bisa berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya. Umumnya bisa kita lihat, orang berbuat baik karena ia juga pernah mendapatkan kebaikan dari orang lain.
 
"Dalam hal ini penting shaleh kepada manusia dan shaleh kepada Allah," ujarnya menyampaikan materi dari Kitab Tasawuf Bidayatul Hidayah karya Imam Al Ghazali.
 
Ia pun mengungkapkan fakta sosial di mana memang manusia paling gampang mengingat hal-hal buruk dari orang lain. Sementara sebuah kebaikan dengan gampangnya dilupakan.
 
Oleh karenanya ia mengajak umat Islam khususnya untuk menata dan mengasah hati agar kehidupannya senantiasa diwarnai dengan hal-hal positif yang terus menerus akan mengikis hal-hal negatif. 
 
"Jika kemaksiatan walaupun sedikit terus dilakukan maka akan menjadikannya besar. Setelah itu hawa nafsu akan menguasai manusia dan akan menjadikannya hina seperti hewan, bahkan lebih hina dari itu," pungkasnya.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin 
BNI Mobile