Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Sholawat Barzanji Rendra untuk Meneladani Rasul

Sholawat Barzanji Rendra untuk Meneladani Rasul

Jakarta, NU.Online
Untuk merayakan maulud nabi Muhammad saw Rendra melakukan pementasan Sholawat Barzanji di lapangan tennis indoor Senayan  Jakarta 12, 13, 14 Mei 2003. Pementasan ini merupakan karya lama Rendra yang telah dipentaskan pertama kali tahun 1969 dengan judul Kasidah Barzanji dan mencapai Box Office yang sampai saat ini belum tertandingi.

Kitab Barzanji dikarang oleh Syed Jaafar al-Barzanji ibn Syed Hasan ibn Syed Abdul-Karim ibn Syed Muhammad al-Madani ibn Syed Rasul (1609-1766 M). Nama kitab Al-Barzanji diambil dari nama pengarangnya, yang tak lain juga dinisbahkan dari tempat asal keturunan sang penulis, yakni daerah Barzinj (Kurdistan). Kita ini juga biasa disebut kitab 'Iqd Aljawahir (Kalung Permata),

<>

Pembacaan kosidah berjanji merupakan tradisi yang biasa dijalankan di pesantren atau warga NU pada malam Jum’at. Ini dilakukan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta agar umat Islam meneladani kepribadian Rasulullah. Di dalam kitab tersebut dilukiskan riwayat hidup Nabi SAW dengan bahasa Arab yang indah, berbentuk puisi dan prosa, serta kasidah yang sangat menarik perhatian orang untuk membacanya/mendengarnya.

Selain berzanji, puisi yang biasa dibaca oleh warga NU dalam memperingati perayaan-perayaan keagamaan atau rutinitas seperti tiap malam Jum’at adalah kitab Diba’ dan Burdah.

Pertunjukan sholawat berzanji ini merupakan usaha untuk mereaktualisasikan kembali nilai hari-hari besar Islam dalam hal ini adalah maulud nabi dan sekaligus memberikan hiburan seni yang sehat dan mencerdaskan bagi masyarakat. Peringatan maulud tidak harus dengan pengajian akbar, tapi juga dirayakan dengan berbagai event kesenian yang islami.

Pertunjukan Rendra ini disetting dengan suasana gurun pasir serta dibangun dengan suasana bulan purnama yang bermandikan cahaya. Untuk mendukung suasan ini lembaran-lembaran kain dengan berbagai warna dibentangkan melajur di bagian tengah panggung.

Suara koor mengalun merdu ditengah keheningan penonton dengan menyuarakan puji-pujian kehadiran nabi. ''Ya, Nabi, salam'alaika. Ya, Rasul, salam'alaika. Ya, habib, salam'alaika. Salawatulla'alaika,'' Diantara alunan sholawat, suara azan dan lantunan ayat Al Quran yang mengharukan menggugah rasa spiritualitas penonton.

Di panggung, para aktor berpakaian warna gelap, dengan kain sarung dan berpeci. Para aktris dengan pakaian panjang dan tutup kepala. Seorang aktor berbadan tegap mengibarkan bendera putih. Mereka menabuh rebana.

Dengarlah jerit batin anak manusia, ''Duhai, Ya Allah Mahamustika Cahaya hormatilah untuk Mustofa bapak tawanan dan para hina. Begitupula untuk warganya, tajuk mahkota semoga iman hadir di saat ajal, semoga didapat apa yang diminta apa didamba. Jagalah kami dari laku yang nista laku yang luka ....''

Begitupun saat Rendra bermonolog menceritakan kemuliaan Muhammad saw. ''Kemuliaan Muhammad melalui ciri dan sifat-sifatnya. Ia adalah manusia sederhana dan rendah hati, karenanya mulia. Selama ada dia tidak satu bulan pun bersinar terang,'' demikian petikan monolog itu.

Tak jarang, suasana mistis sufisme membayang di tengah lautan salawat dan doa serta barzanji. Dengan gerak teaterikal, bangun grouping, Rendra mengalirkan bah kerinduan pada Nabi saw.

Ditengah-tengah salawat, monolog Ken Zuraida mengusik, ''Namaku Zaitun. Hidupku seperti malam. Jiwaku gamang, mengembara di kegelapan, tanpa bintang. Tanganku menggapai tanpa pegangan ....'' Suara yang menggambarkan jerit tangis yang tak tahan menanggung dosa. Jiwa yang selama ini terbenam dalam lumpur hawa nafs, ketika hidup hanya untuk mencari harta, menjadi pemenang atau pecundang, membantai atau dibantai.

 ''Saudara-saudariku, aku mendengar kasidah dan salawatan. Aku mendegar kisah dan cakrawala yang kamu bentangkan. Akhirnya aku membaca sirah Muhammad Rasullah, Bulan purnama muncul!, Bulat sempurna, Bau wangi menegur sepi, Keramahan membawa kehangatan dan kedamaian''. Demikianlah petikan akhir monolog yang merupakan usaha penyadaran spiritual untuk meneladani Muhammad saw.

Sentuhan musik yang ritmik dari Ade A Kholiq, gesekan biola, denting kecapi, sayatan seruling, yang diramu dengan baik, membuat pertunjukan ini memikat. Begitupun tari zapin yang ditata Boi G Sakti dengan Sanggar Gumarang Sakti menambah daya tarik pertunjukan tersebut. (rp/mkf)

Posisi Bawah | Youtube NU Online