Bersikap Kritis Diperlukan di Era Digital 

Bersikap Kritis Diperlukan di Era Digital 
Dengan berbekal kemampuan berpikir kritis, diharapkan bisa terhindar dari ‘jebakan’ informasi palsu yang kerap menyerupai kebenaran.
Dengan berbekal kemampuan berpikir kritis, diharapkan bisa terhindar dari ‘jebakan’ informasi palsu yang kerap menyerupai kebenaran.
Jakarta, NU Online
Berpikir kritis merupakan kemampuan lunak (soft skill) yang harus dimiliki semua orang di era digital. Pasalnya, di era ini, sebagian besar masyarakat memiliki telepon pintar (smart phone) yang membawa banyak informasi ke hadapan pemiliknya. Dengan berbekal kemampuan berpiki kritis, seseorang diharapkan bisa terhindar dari ‘jebakan’ informasi palsu atau hoaks yang kerap kali menyerupai kebenaran.
 
Hal itu diungkapkan Direktur Yayasan Cahaya Guru, Mukhlisin dalam sesi Share and Reaaply di kanto Indika Foundation saat menjelaskan programnya bernama ‘Latih Logika’. Kegiatan ini adalah sebuah pelatihan yang digelar bersama Indika dalam rangka menigkatkan kapasitas berpikir kritis seorang guru. 
"Seorang guru memiliki kemampuan besar untuk memberikan pengaruh pada anak didiknya. Guru yang memiliki kemampuan berpikir kritis kemungkinan besar akan terhindar dari bahaya hoaks dan nantinya akan memberikan pengaruh lebih positif kepada muridnya,” ujar Mukhlisin di Jakarta,  Jumat (31/1). 
 
Mengutip dari National Education Association, ia juga meyakini bahwa berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan abad ke-21 yang harus dimiliki seorang anak untuk mempersiapkan masa depannya sebagai warga global. Untuk menjangkau kalangan anak-anak secara efektif, lanjutnya, maka diperlukan intervensi pada seorang para guru melalui program peningkatan kapasitas berpikir kritis. 
 
Keyakinan Mukhlisin akan pentingnya berpikir kritis ini sama dengan pendapat guru besar Ilmu Filsafat dari Universitas Katolik Parahyangan (Upar) Bandung, Ignatius Bambang Sugiharto. 
 
Menurutnya, cara menumbuhkan pemikiran kritis adalah dengan mendapat asupan informasi yang berkualitas melalui membiasakan membaca esai atau tulisan-tulisan berbobot. 
 
“Ini agar daya kritis kita bisa terus terasah,” katanya.
 
Ketiadaan pemikiran kritis ini juga yang ia tuding menjadi penyebab tumbuh dan berkembangnya ajaran intoleransi dan radikalisme. Kealpaan pemikiran kritis ini menyebabkan seseorang mudah didoktrin dan kehilangan objektivitas dalam menentukan kebenaran. 
 
Ia menyontohkan bahwa seseorang yang terjebak pada paham radikalisme kekerasan dan terorisme tidak memiliki cara berpikir kritis dalam menganalisa paham kekerasan tersebut. Sebab menurutnya, seseorang yang menggunakan cara berpikir kritis, seharusnya terhindar dari doktrin melakukan aksi intoleransi, radikalisme, hingga terorisme. 
 
“Begini, radikalisme itu jelas-jelas destruktif. Tidak mungkin Tuhan Yang Maha Kasih menghendakinya,” tegasnya.
 
Untuk itu, ia melanjutkan, cara-cara berpikir yang menggunakan doktrin perlu dihindarkan, dan diganti dengan keberanian untuk mempertanyakan dan meragukan setiap opini dan fakta yang ada. 
 
“Sikap kritis itu natural, karena otak manusia itu diciptakan Tuhan memang untuk berpikir. Hal-hal mendasar dalam hidup perlu didiskusikan,” ucapnya.
 
Apalagi, ia menambahkan, di era media sosial (medsos), anggota masyarakat berinteraksi dan berbalas komentar dengan bebas. Tanpa pemikiran kritis, masyarakat akan terjebak pada komentar dangkal yang saling menyalahkan dan tidak mau menerima kebenaran orang lain. 
 
 
Pewarta: Ahmad Rozali
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile