Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Banser dan Satu Arus Air Menuju Gurun

Banser dan Satu Arus Air Menuju Gurun
Para anggota Banser pilihan di Kabupaten Pamekasan saat konsolidasi. (Foto: NU Online/Hairul Anam)
Para anggota Banser pilihan di Kabupaten Pamekasan saat konsolidasi. (Foto: NU Online/Hairul Anam)

Pamekasan, NU Online

Sejumlah anggota Banser pilihan menggelar pertemuan di kantor Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kabupaten Pamekasan, Jalan R Abd Aziz, Jungcangcang Nomor 95 Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu (8/2).

 

Menurut Kepala Satkorcab Banser Pamekasan, H Jamaluddin, pertemuan tersebut konsolidasi, memperkokoh soliditas anggota Banser senior. Dalam sambutannya, Komandan Jamal, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya Banser untuk selalu melibatkan Allah dalam segala usaha dan perjuangannya.

 

"Sahabat-sahabat Banser tidak ubahnya kisah satu arus air yang melalui sejumlah daratan di satu negeri dan sampai ke satu gurun. Kisah ini bisa kita dapat dalam Al-Hikam Al-Islamiyah karya Imam Jamal Rahman," urainya.

 

Arus air itu, lanjut Komandan Jamal, pernah menembus berbagai halangan sebelumnya. Kini semakin keras arus air itu mendorong, semakin banyak airnya menghilang. Arus air itu tahu bahwa takdirnya adalah untuk menyeberangi gurun, tapi bagaimana caranya?

 

“Satu suara dari gurun, tiba-tiba berbisik: ‘angin menyeberangi gurun dan angin bisa membawamu ke tujuan’,” tuturnya menirukan cerita di dalam kitab itu.

 

Suara tersebut memberi tahu sang arus air untuk membiarkan dirinya terserap ke dalam angin, tapi sang arus air tidak bisa menerimanya. Membiarkan dirinya terserap, sama saja. Berarti harus menyerahkan individualitasnya.

 

Lagi pula, apa jaminannya bahwa angin itu bisa membawa sang arus air? Dan jika pun arus air itu mencapai tujuannya, akankah arus air itu akan sama nanti seperti dirinya saat ini?

 

Dengan halus, suara tersebut memberikan jaminan bahwa sang angin bisa membawanya melampaui gurun dan bahwa tujuannya esensi arus air itu akan tetap sama meskipum bentuknya mungkin berbeda," urai Komandan Jamal.

 

Akhirnya, karena mempercayai sang angin, arus air pun menaikkan uapnya. Rengkuhan tangan angin dengan lembut membawanya melintasi gurun.

 

"Dan membiarkannya jatuh selembut hujan ke puncak satu pegunungan nun jauh di sana," tegas Komandan Jamal.

 

Dari cerita sufistik tersebut, kata Komandan Jamal, Banser dalam melangkah harus selalu berdasarkan keimanan, kayakinan bahwa kekuatan bersama tidak akan maksimal tanpa keyakinan kepada kekuatan di luar diri.

 

"Yaitu kekuatan dari kekuasaan Allah SWT," tukasnya.

 

Kontributor: Hairul Anam

Editor: Aryudi Aryudi AR

 

BNI Mobile