IMG-LOGO
Daerah

Seriusi Kecerdasan Artifisial, Wakil Ketua RMINU Pusat Raih Guru Besar ITS


Ahad 9 Februari 2020 15:30 WIB
Bagikan:
Seriusi Kecerdasan Artifisial, Wakil Ketua RMINU Pusat Raih Guru Besar ITS
H Agus Zainal Arifin. (Foto: Istimewa)
Surabaya, NU Online
Prestasi membanggakan ditorehkan Wakil Ketua Pengurus Pusat (PP) Rabithah Ma'hid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU), H Agus Zainal Arifin. Lewat ketekunannya dalam menggeluti teknologi pengolahan citra digital akhirnya mengantarkan doktor lulusan Hiroshima University, Jepang ini dikukuhkan sebagai guru besar Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Rabu (12/2) mendatang.
 
Pria asli Surabaya yang pernah dua kali menjabat Dekan Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) ITS tersebut akan dikukuhkan sebagai guru besar bidang pengolahan citra digital. Dalam pidato pengukuhannya, Agus akan mengangkat topik ‘Kecerdasan Artifisial dalam Pengolahan Citra Medis untuk Pengembangan Teknologi Kesehatan’.
 
Dalam pandangan pria kelahiran 9 Agustus 1972 ini, dunia kesehatan sebenarnya telah lama mengadopsi citra medis (medical imaging) untuk mendiagnosis dan menyembuhkan penyakit. Medical imaging merupakan metode untuk membuat representasi visual dari bagian dalam tubuh manusia, yang menampilkan struktur internal tubuh yang ditutupi oleh kulit dan tulang secara non-invasif. 
 
"Teknologi X-ray, magnetic resonance imaging (MRI) dan ultrasound, misalnya, adalah metode yang cukup dikenal di tengah masyarakat," tutur Pengurus Pusat Aptikom atau Asosisasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer tersebut, Ahad (9/2).
 
Masalahnya, akurasi diagnosis dan assessment suatu penyakit tergantung pada akuisisi citra dan interpretasinya. Interpretasi terhadap citra medis pada umumnya dilakukan oleh radiologis. 
 
“Pada titik ini, potensi kesalahan akibat interpretasi secara manual sangat mungkin terjadi, baik dipicu oleh internal individu observer atau intra-observer, maupun perbedaan interpretasi antara observer yang berpengalaman dan belum berpengalaman atau inter-obsever,” jelas dosen berprestasi di ITS ini.
 
Hal itulah yang mendorong Agus mengembangkan aplikasi kecerdasan artifisial pada citra medis. Temuannya antara lain dapat digunakan untuk melakukan deteksi osteoporosis menggunakan citra rahang, identifikasi penyakit periodontitis kronis pada citra panorama gigi, estimasi usia menggunakan citra panorama gigi, klasifikasi massa pada citra mammogram untuk mendeteksi kanker payudara, serta deteksi parasit malaria pada citra apusan tebal darah.
 
"Fokus kami di sini adalah memanfaatkan kecerdasan artifisial pada medical imaging, sehingga dapat digunakan sebagai langkah preventif pencegahan penyakit. Dengan demikian, proses deteksi penyakit diharapkan dapat lebih cepat dan akurat, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat," ungkap mantan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang ini.
 
Dia menambahkan, aplikasi deteksi osteoporosis menggunakan citra rahang telah mendapatkan hak paten Nomor US7916921B2 pada 2011 lalu.
 
"Sistem ini memberikan informasi awal terkait osteoporosis yang dapat digunakan oleh dokter gigi untuk merujuk subyek ke dokter spesialis yang relevan, sehingga dapat mengurangi risiko patah tulang akibat perawatan yang terlambat," jelasnya.
 
Agus mengatakan bahwa prototype atau purwarupa alat deteksi osteoporosis dengan dental panoramic sudah jadi dan sudah diuji coba dengan baik.
 
"Sekarang mulai digunakan oleh dua dokter gigi,"ungkap dia.
 
Selain itu, purwarupa aplikasi deteksi osteoporosis dengan Cone-Beam Computed Tomography (CBCT) juga sudah jadi dan diuji coba dengan baik. Kelebihan CBCT karena memiliki resolusi yang tinggi dan dosis radiasi yang relatif rendah. Hanya saja, belum digunakan di ruang praktik dokter gigi. 
 
"Mungkin karena CBCT relatif lebih mahal, meskipun lebih murah dibandingkan dengan CT-scan," ujarnya.
 
Dalam penelitiannya, Agus juga mengembangkan perangkat bantu estimasi usia berdasarkan citra radiografi panoramik untuk identifikasi individu usia dewasa (16-70 tahun). Hasil penelitian ini sangat penting untuk membantu tenaga ahli odontologi forensik dalam mengidentifikasi usia kronologi berdasarkan fitur gigi, apabila terjadi kecelakaan atau bencana yang mengakibatkan korban dalam jumlah besar.
 
Identifikasi melalui gigi, menurut Agus, dapat dilakukan pada kondisi apapun, meskipun tubuh sudah hancur, membusuk, terbakar, atau bahkan termutilasi. 
 
"Karena gigi, terutama emailnya, merupakan jaringan yang paling keras di tubuh manusia, paling tahan terhadap benturan maupun panas, dan baru bisa menjadi abu bila terbakar pada suhu di atas 450 derajat celsius," urai lulusan ITS 1995 ini.
 
Purwarupa aplikasi untuk identifikasi usia melalui gigi ini juga sudah jadi dan sudah diuji coba. Hanya saja, penggunaannya untuk identifikasi korban musibah, tidak untuk digunakan secara praktis sehari-hari.
 
Adapun pengembangan sistem untuk mendeteksi parasit malaria pada citra apusan tebal darah berkualitas rendah diharapkan dapat digunakan untuk proses diagnosis malaria di Indonesia, khususnya di kawasan timur Indonesia yang memiliki prevalensi malaria yang tinggi. Penelitian ini, kata Agus, adalah bagian kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.
 
Agus menegaskan, kecerdasan artifisial yang dikembangkannya pada sistem di atas diharapkan hadir dan berperan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan untuk menggantikan peran dokter dan tenaga medis lainnya. 
 
"Suatu sistem yang dilatih dengan jumlah sampel yang cukup dan teknik yang canggih akan dapat memberikan keputusan dengan tingkat eror yang minim," tegas dia.
 
Hasil otomatisasi akan jauh lebih akurat dan konsisten dibandingkan dengan penggunaan cara manual. 
 
“Cara manual sangat rentan terhadap intra dan inter observer error. Keduanya dipengaruhi oleh subjektivitas manusia yang terkait dengan durasi pengalaman dan tingkat kepakarannya. Hal itu sangat menentukan akurasi dan konsistensi hasil,” jelasnya.
 
Dia berharap, replikasi software tersebut dapat dilakukan karena tidak memerlukan biaya tinggi. Dengan demikian, harga satuan layanan kesehatan dapat ditekan seminimal mungkin. Untuk kebutuhan skrining masal atau mass screening yang melibatkan pasien dalam jumlah sangat besar, sistem yang bersifat otomatis akan sangat efisien dan efektif. 
 
"Dengan demikian, integrasi keilmuan di bidang pengolahan citra digital, visi komputer, dan kecerdasan artifisial akan berperan penting dalam menunjang terwujudnya kemandirian dan kedaulatan teknologi alat kesehatan," pungkasnya.
 
Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Syamsul Arifin
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG