IMG-LOGO
Daerah

GP Ansor Wajib Terlibat Jadi Perekat Dua Komponen NU


Jumat 28 Februari 2020 10:00 WIB
Bagikan:
GP Ansor Wajib Terlibat Jadi Perekat Dua Komponen NU
Ra Maltuf (pegang mik) memaparkan ke-NU-an dan sejarah Islam. (Foto: NU Online/Hairul Anam)

Pamekasan, NU Online

Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai dua komponen yang berpengaruh besar pada eksistensi organisasi. Kedua komponen tersebut tidak boleh dilepaspisahkan. Gerakan Pemuda Ansor wajib turut terlibat jadi perekatnya.

 

Demikian ditegaskan Ketua Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur Ra Maltuful Anam saat menjadi pemateri dialog ke-NU-an dan sejarah Islam di Desa Bejjenan, Proppo, Pamekasan, Rabu (26/2) malam.

 

"Dua komponen NU yang tidak bisa dipisah tersebut adalah NU sebagai jam'iyyah (struktural ) dan NU jamaah (kuktural). Keduanya harus selaras dan tidak saling menyalahkan agar NU tetap eksis," tegas Ra Maltuf, panggilan akrab Ra Maltuful Anam.

 

Dosen STAIMU Pesantren Panyeppen, Palengaan, Pamekasan tersebut menambahkan, cara utama agar GP Ansor terlibat dalam merawat dua komponen tersebut cukup mudah dan praktis. Yakni, dengan menjalankan segala arahan dari para kiai NU.

 

"Di samping berada di garda terdepan dalam mempertahankan NKRI, GP Ansor juga bertugas sebagai benteng para kiai NU. Bukan sekadar pada keselamatan fisiknya, tapi juga menyebarluaskan ajaran para kiai yang berbasis paham Aswaja An-Nahdliyah," tegasnya.

 

Kandidat Doktor Bahasa dan Sastra Bahasa Arab tersebut menegaskan, perjuangan saat ini mesti disesuaikan dengan zaman. Salah satunya dengan memanfaatkan industri 4.0 yang serba digital.

 

"Tiap acara keilmuan seperti sekarang ini, kami selalu menekankan agar disebarluaskan di media sosial (medsos). Tujuannya tiada lain guna memperkaya medsos dengan konten-konten positif yang digalakkan oleh GP Ansor dan warga NU secara umum," paparnya.

 

Kepada hadirin, Ra Maltuf mengetengahkan pertanyaan mengapa harus gabung NU? Setidaknya pertanyaan itu berpijak pada tiga hal.

 

"Sebagaimana ditegaskan KH. Achmad Siddiq, kita sebagai manusia dan umat Islam mesti merawat tiga ukhawah (persaudaraan): ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah," papar Ra Maltuf.

 

Ketika umat Islam berinteraksi dengan non-muslim, setidaknya dia saudara sebangsa. Bila berhubungan dengan non-muslim dan bukan dari warga Indonesia, setidaknya dia adalah sama-sama manusia, ciptaan-Nya.

 

Dalam kesempatan itu, Ra Maltuf juga mengetengahkan pemaparan tentang Isra' Mi'raj. Baginya, Isra' Mi'raj tergolong wisata ilahiyah (wisata religi).

 

Di Isra' Mi'raj, Kanjeng Nabi dihibur karena minimal 2 hal: yang pertama wafatnya Sitti Khadijah dan pamannya Abu Tolib.

 

"Beberapa kejadian Isra', di antaranya Rasulullah disuruh shalat di Gunung Tursina (tempat Nabi Musa bercakap-cakap dengan Allah). Sementara Mi'raj berkaitan dengan perintah shalat yang asalnya 50 kali menjadi cukup 5 kali," urainya.

 

Terdapat hikmah di balik peristiwa tersebut. Sebut saja Rasulullah mengajar umatnya untuk selalu tawassul dengan pendahulu-dahulunya. Dalam ber-NU menyambhung hati dengan ulama.

 

"Rasul tidak diutus untuk satu umat saja, tetapi untuk sekalian alam. Islam masuk ke Indonesia dengan cara persuasif tanpa penaklukan-penaklukan seperti di daerah lain," pungkasnya.

 

Kontributor: Hairul Anam

Editor: Aryudi AR

Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG