IMG-LOGO
Nasional

Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Umat Islam

Jumat 28 Februari 2020 09:30 WIB
Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Umat Islam
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin. (Foto:NU Online/Faizin)
Pangkal Pinang, NU Online
Syekh Sa’id Nursi Badi’uzzaman menyebut kemunduran umat Islam dalam kehidupan disebabkan oleh setidaknya beberapa faktor. Faktor itu adalah ketika kaum Muslimin tidak mau berjuang lagi karena keputusasaan yang telah mencapai puncaknya.
 
Kehidupan Kaum Muslimin juga akan mundur jika kerusakan akhlak sudah melanda dan kejujuran dalam kehidupan sosial politik hilang. Ditambah lagi bertebarannya rasa permusuhan dan kebencian dalam barisan kaum Muslimin serta hilangnya ikatan cinta kasih, saling tolong, dan solidaritas di antara kaum Muslimin. 
 
"Kemunduran umat Islam juga disebabkan tirani yang tersebar luas sebagaimana mewabahnya penyakit menular dan lebih memprioritaskan kemaslahatan individu atas kemaslahatan umum," kata Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Kamis (28/2).
 
Menurut Kiai Ishom kondisi ini menjadi tantangan nyata yang dihadapi umat Islam saat ini. Sementara kondisi ideal yang diharapkan umat Islam adalah keharmonisan kehidupan bersama antarpenduduk Indonesia yang berbeda identitas. 
 
"Perbedaan identitas dan keragaman yang nyata tak terbantahkan itu akan harmonis, bisa hidup berdampingan dengan damai hanya bila diiringi sikap toleran (tasamuh)," tambahnya.
 
Toleransi, lanjutnya, dapat dimaknai sebagai sikap membiarkan, menenggang, dan menghormati pendapat dan sikap pihak lain meskipun pihak yang membiarkannya itu tidak sependapat dengannya. 
 
Satu hal yang perlu diingat menurutnya bahwa toleransi tidak dilakukan dengan mengorbankan prinsip-prinsip keyakinan (aqidah) agama, sebagaimana keyakinan agama tidak boleh dikorbankan demi toleransi. 
 
"Setiap agama berbeda dengan agama lainnya, baik dalam ajaran pokok maupun rincian-rinciannya. Setiap orang beragama berkewajiban meyakini kebenaran ajaran agamanya tanpa memaksakan keyakinannya itu kepada pihak lain yang berbeda agama," ujarnya.
 
Terhadap penganut agama yang berbeda, Islam mengajarkan “lakum dinukum wa liya din (bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku). Sedangkan terhadap sesama Muslim berpegang pada (lana a’maluna wa lakum a’malukum (bagi kami amal kami dan bagimu amalmu).
 
Kondisi ideal hidup berdampingan antara orang yang berbeda agama akan damai, tenang, dan harmonis, selain karena umat menjauhi sikap intoleransi, juga terwujud jika umat beragama menghindari sikap radikal (keras berlebihan, ghuluw, tatharruf) dalam beragama.
 
"Sikap berlebihan (ghulluw) bukan otentik berasal dari Islam, melainkan dari sikap Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Sebab Islam mengajarkan kepada para penganutnya untuk bersikap tawassut (moderat) tidak radikal dan tidak pula liberal," pungkasnya. 
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG