IMG-LOGO
Nasional
RAKERNAS PERGUNU 2020

KH Mujib Qulyubi: Pergunu Wujudkan Nahdlah dan Ulama di Bidang Pendidikan

Sabtu 29 Februari 2020 00:45 WIB
KH Mujib Qulyubi: Pergunu Wujudkan Nahdlah dan Ulama di Bidang Pendidikan
Dewan Penasihat Pergunu KH Mujib Qulyubi memberikan tausiyah pada pembukaan Rakernas Pergunu di Mojokerto, Jumat (28/2). (Foto: NU Online/Rofi'i Boenawi)
Mojokerto, NU Online
Dewan Penasihat Pergunu, KH Mujib Qulyubi mengatakan Nahdlatul Ulama ini terdiri dari dua kata yang pertama nahdlah dan yang kedua ulama. Nahdlah artinya kebangkitan, tidak  mungkin ada kebangkitan apabila tidak ada gerakan.
 
"Harus ada gerakan. Kalau Nahdlatul Ulama tidak ada gerakan maka lama-lama menjadi 'diamnya ulama'," ungkap Kiai Mujib ketika mengisi tausiyah dalam kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pergunu di aula IKHAC, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (28/2) malam.
 
Yang kedua lanjut kiai Mujib, kata-kata 'ulama' banyak sekali definisinya baik dari kitab kecil, sedang, bahkan sampai yang besar. Namun, menurutnya menjadi pas apabila definisi ulama yaitu 'melihat persoalan umat dengan mata hati penuh kasih sayang'.
 
Menurut Kiai Mujib, salah satu pergerakan NU di bidang pendidikan adalah Pergunu. "Maka sesungguhnya menurut saya konkretnya pengurus Nahdlatul Ulama itu yang konkret adalah Pergunu ini," jelas Kiai Mujib yang juga Wakil Rektor Unusia Jakarta.
 
Hal itu berarti, kalau tidak ada ulama dan tidak ada Pergunu maka tidak ada yang menggerakkan. Apalagi tantangan guru itu saingannya cukup besar.
 
Menurutnya mencetak orang pintar itu banyak perantaranya. Di zaman sekarang bisa melalui google, internet, Instagram, YouTube itu bisa mencetak menjadi pintar.
 
"Tetapi itu belum tentu bener. Maka memintarkan orang benar itu jauh lebih mudah daripada membenarkan orang pintar," ujarnya.
 
Ia menjelaskan, orang yang sudah pintar tetapi tidak dilandasi agama dan akhlak maka akan susah dibenarkan. Tetapi, kalau orang sudah benar dan karakternya bagus maka tidak akan sulit untuk melahirkan orang pintar.
 
Oleh karena itu menurut Kiai Mujib peran guru NU adalah sebagai mata rantai keilmuan dan itu bagian penting dari agama. 
 
"Andai tidak ada guru Pergunu maka orang akan bicara apa saja yang dia mau. Tidak mengerti hukum dia bicara hukum, tidak tahu sosial dia ngomong sosial, tidak mengerti agama dia bicara agama," tegas Kiai Mujib.
 
Pembukaan Rakernas yang diisi Sarasehan Kebangsaan tersebut juga meghadirkan H As'ad Said Ali, Ketum Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim, Wakil Gubernur Emil Dardak sebagai pembicara.
 
Rakernas Pergunu berlangsung hingga Ahad (1/3) diikuti para pengurus Pergunu dari tingkat wilayah dan kabupaten seluruh Indonesia. Rakernas mengusung tema Peran Pendidikan Aswaja dalam Melawan Eksploitasi Globalisasi.
  
Kontributor: Erik Alga Lesmana
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG